Ass.Wr.Wb.
Kapan giliran Indonesia bisa melawan Neoliberalisme?
Atau kita memang pendukung penjajahan gaya baru ini?

Jika setiap hari koran-koran gembar-gembor soal korupsi dan KEMISKINAN dan
hati kita tidak terusik secuilpun, hati-hati mungkin kita termasuk orang
yang digambarkan Qur'an :  SUMMUM, BUKMUM, 'UMYUN (tuli, bisu, buta).
Naudzubillah!

Di Lingkungan kita, alhamdulillah, Santunan kemarin terkumpul Rp 8juta++
untuk 70 anak Yatim berbentuk uang tunai dan bingkisan. Di kesempatan ini,
kalau boleh saya komentar, untuk RT 05 dan RT 06 masih dibutuhkan VOLUNTEER
untuk JIHAD yang satu ini. Pengumpulan di Santunan kemarin masih
memprihatinkan. Tapi apapun, penghargaan dan terima kasih perlu disampaikan
karena telah ambil bagian  --> maaf kalo rada radikal nich!

Wassalam / Jaerony.-


----- Original Message -----
From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>


 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/23/opini/2459501.htm

 Amerika Latin Melawan Neoliberalisme
 M Fadjroel Rachman

 Hantu sosialisme sedang membayangi Amerika Latin. Proyek neoliberalisme
yang mengibarkan panji Konsensus Washington gemetar di hadapannya.

 "Mimpi buruk bagi Amerika Serikat (AS)," kata petani koka yang menjadi
Presiden Bolivia Evo Moralles, dengan Gerakan Menuju Sosialisme (MAS).

 Disusul Cile dari Partai Sosialis dalam koalisi kiri-tengah La
Concertacion, Michele Bachelet. Presiden Bachelet, pendukung Salvador
Allende yang dibunuh Pinochet pada kudeta "Operasi Jakarta 1973", sempat
disiksa. Venezuela digenggam kolonel pensiunan, militer-progresif, Hugo
Chavez. Brasil di tangan Luiz Inazio Lula da Silva dari Partido
Trahabaldores (Partai Buruh).

 Uruguay dipimpin Tabare Vasquez dari Frente Amplio (Broad Front). Alfredo
Palacio memimpin Ekuador, sebelumnya wakil presiden kolonel kiri Lucio
Gutierrez. Argentina dipimpin Nestor Kirchner dari Partai Peronis dengan
platform politik kiri- tengah. Farabundo Marti National Liberation (FMLN),
dari organisasi gerilyawan menjadi kekuatan politik kedua di El Salvador.

 Sosialisme dan pemilu

 Sosialisme apa ini? Beragam perspektif dan strategi pemerintah, dari
participatory budgeting Lula hingga renta petrolera Chaves. Secara umum
spektrum ideologis gerakan sosialis bergerak dari garis kontinum tengah dan
kiri radikal menuju ke kiri tengah. Koalisi bernama Frente Amplio (Front
Besar) di Uruguay dan La Concertacion di Cile merupakan cermin beragamnya
elemen. Mereka menyebut "keluarga kiri" karena yang terlibat
Katolik/Kristen, intelektual bebas, Marxist, kiri-baru, serikat buruh, suku
asli Indian, dan militer progresif, juga gerilyawan Uruguay, El Salvador,
dan Bolivia.

 Gagasan ekstrem kiri yang dianut Fidel Castro, kuncen Amerika Latin (1959),
sebagian berseberangan dengan sosialisme di Amerika Latin sekarang. Karena
Castro tetap mempertahankan kediktatoran proletar dengan partai tunggal,
tanpa pemilu, dan menjadi presiden seumur hidup.

 Sumber inspirasi historis mereka, Allende (1970-1973), Sandinista
(1979-1990), Juan Peron, dan runtuhnya Tembok Berlin mengakhiri kediktatoran
proletar Uni Soviet dan Eropa Timur.

 Konsensus Washington

 Saat kediktatoran militer menjamur dalam perang dingin AS- Uni Soviet,
aktivis sosialis di Amerika Latin termasuk Indonesia bergerilya.
Pasca-Perang Dingin, strategi menjadi gerakan elektoral memanfaatkan ruang
demokratis melalui pemilu. AS mendorong pemilu prosedural guna membentuk
rezim representatif yang mendukung neoliberalisme, kapitalisme-pasar-bebas
(free-market-led-capitalism) menggantikan kapitalisme-negara
(state-led-capitalism) di bawah diktator militer.

 Melawan Konsensus Washington merupakan penggerak utama gelombang sosialisme
Amerika Latin. Perjuangan demokrasi dalam politik melawan kapitalisme baru,
neoliberalisme.

 Apakah Konsensus Washington itu? (1) mengurangi pengeluaran publik,
khususnya militer dan administrasi publik; (2) liberalisasi keuangan, dengan
suku bunga yang ditentukan pasar; (3) liberalisasi perdagangan, disertai
penghapusan izin impor dan pengurangan tarif; (4) mendorong investasi
langsung asing; (5) privatisasi BUMN; (6) deregulasi ekonomi; (7) nilai
tukar yang kompetitif untuk pertumbuhan berbasis ekspor; (8) menjamin
disiplin fiskal dan mengendalikan defisit anggaran; (9) reformasi pajak;
(10) perlindungan hak cipta. Semua itu tercermin dalam agenda WTO, Bank
Dunia, IMF, dan perbankan regional (ADB, AfDB, IADB, EBRD).

 Prospek dan masalah

 Bila pemerintahan kiri bertahan 1-2 periode pemilu, wajah Amerika Latin
akan berubah. Mereka menghantam kemiskinan, ketimpangan sosial, dan jerat
utang luar negeri. Kini 60 persen populasi Amerika Latin hidup miskin, 30
persen di antaranya miskin ekstrem, 40 persen pendapatan nasional diraup 10
persen terkaya, sedangkan 40 persen termiskin meraih 15 persen.

 Selama 1992-2001, 1,2 triliun dollar AS untuk membayar utang luar negeri.
Namun, jumlah utang meningkat dua kali, dari 478,700 juta dollar AS (1992)
menjadi 817,200 juta dollar AS (2001).

 Mereka juga mempromosikan demokrasi partisipatif, seperti participatory
budgeting di Brasil, sehingga APBD (mungkin APBN) menjadi hak demokratis
tiap warga negara guna menentukan alokasinya. Kelemahan eksperimen Amerika
Latin di antaranya (1) alternatif kebijakan terjebak perangkap neoliberal
sehingga Cile disebut soft neoliberalism; rezim kanan El Salvador
menandatangani pakta perdagangan bebas dengan AS, memunggungi FMLN; (2)
populisme nasional Peronis lebih kuat mewarnai Chavez; (3) sosialisme warna-
warni karena perspektif teoritis beragam, eklektik, dan terikat program
jangka pendek; (4) jebakan korupsi mewarnai pemerintahan; (5) kepemimpinan
gerilya menghambat kepemimpinan demokratis.

 Masa depan sosialisme Amerika Latin amat tergantung pada upaya menciptakan
alternatif sistem ekonomi solidaritas global dan regional (Axis of Good
Chaves, Moralles, dan Castro) menandingi neoliberalisme global. Juga
kemungkinan munculnya Jenderal Pinochet lain untuk menggulung gelombang
sosialisme Amerika Latin?

 Bagi kita, mencari ilmu boleh sampai China. Tetapi, belajar melek demokrasi
partisipatif, belajarlah ke Amerika Latin.

 M Fadjroel Rachman
 Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman
Indonesia)


 [Non-text portions of this message have been removed]
***************


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke