|
----- Original Message -----
From: lathiefah
2000
Sent: Thursday, March 02, 2006 12:23 PM
Subject: Di Balik yang Dekat sekali lagi kita belajar
mencari hikmah dari setiap peristiwa/pengalaman seseorang ...selamat membaca
semoga memberikan inspirasi yg baik kepada kita ...
=============================================-======
Di Balik yang
Dekat
Oleh: Bahtiar
HS
27 Des 2005 09:48
WIB
Saya mendekati taksi biru
itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya
bukan jarak yang jauh
dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang ini.
Paling 10-15 menit sudah
sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding
dengan lamanya sopir
taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya,
saya sudah bersiap untuk
tidak kecewa.
Saya buka pintu belakang
taksi itu.
"Kramat Raya, Pak?" tanya
saya setengah ragu.
"Mari, Pak!" kata sopir
taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.
Tentu saja saya gembira,
karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau
mengantar.
Saya segera naik ke jok
belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar
kemudian berputar 180
derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju
ke arah
Senen.
"Kok Bapak mau ke Kramat?
Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya
memancing.
"Kita kan tidak pernah
tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya
sejenak kemudian.
Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika
penumpang yang jarak
dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai
Tuhan yang membagi rezeki
buat kita."
Berkata bijak ternyata
bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa
keluar dari mulut
Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard,
seorang sopir taksi
bersahaja yang saya temui pagi ini.
Maka meluncurlah cerita
"filosof" yang sopir taksi itu.
"Saya banyak mengalami,
kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama
ngantri, ternyata dapat
penumpang yang dekat," katanya sembari menarik
napas perlahan. "Dapat
lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."
Saya cuma tersenyum.
Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti
kita mengharapkan durian
runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata
melayang
jatuh.
"Tetapi, tak jarang,"
imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat,
tetapi berkali-kali. Juga
pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah
itu baliknya tidak
membawa penumpang sama sekali."
Ia tersenyum di tengah
klakson jembatan layang menuju Kemayoran.
Saya
mengangguk-angguk.
"Yah, artinya lebih baik
terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan
dekat ataupun jauh," kata
saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu
dapat rezeki dalam bentuk
apa lagi."
***
Beberapa hari berikutnya,
saya menumpang taksi dari tempat dan dengan
tujuan yang sama. Kali
ini Bluebird, langganan saya.
"Kok Bapak mau mengantar
penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?"
tanya saya memancing.
Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti
sarapan pagi dengan
sekotak minuman dingin.
Ia
tertawa.
"Jangankan Kramat Raya,
Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah
mengantar orang dari
Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"
"O, ya?" sergah saya
heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing
atau sebidikan panah.
"Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari
angka awal lima ribu
perak, dong?"
"Yah, waktu itu sedang
macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."
Saya mengangguk-angguk.
Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam
ribu tak lebih dari
seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar
penumpang sedekat itu,
buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.
"Belum lagi ketika
kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya
menerawang. "Harus
berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."
"Wah, susah juga, ya
Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat,
kembali ke pool antri di
paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih
dulu.
"Ya. Bahkan saya pernah,
sudah mengantri di belakang, diserobot teman
lagi," katanya enteng,
bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak
lama, teman saya mendapat
penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar
kemudian, seorang
penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak?
Tentu
saja saya ambil karena
jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra
Jasa."
Saya ikut tersenyum
mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan,
Pak."
"Alhamdulillah, saya
nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan
mereka. Saya yakin, Allah
memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian.
Kadang sedikit, kadang
banyak. Saya tidak pilih-pilih."
Demikianlah Pak Endang,
begitu namanya terpampang di dashboard,
menyimpulkan. Sebuah
kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.
***
Saya banyak belajar dari
kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang;
sopir-sopir taksi yang
sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu
bahasa mereka. Caranya
sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang
yang naik taksi mereka,
meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang,
sama saja dengan menolak
rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan.
Menolak penumpang, sama
halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki.
Karenanya, tidak ada yang
sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali
ikhlas
mengantar.
Terbukti dalam berbagai
kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu,
ternyata
sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu
satu
penumpang turun, ada yang
langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak
penumpang jarak dekat
yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka
mengantar tanpa mengeluh.
Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang
persentase yang mereka
terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak
dekat, karenanya tidak
lantas identik dengan rezeki cekak.
Sungguh sebuah sikap
hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi
bukan layaknya wayang.
Dalam bahasa agama, barangkali inilah
pengejawantahan sikap
tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang
salah-kaprah; yang sering
salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung
mlarat". Kalau Tuhan
menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan
kaya. Kalau ditakdir
miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang
sekalipun ibaratnya,
tetap akan miskin.
Saya lantas teringat
dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada
persangkaaan (dzon) hamba
pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan
saya, telah memberikan
persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik
penumpang yang dekat itu.
Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika
harus mengantar penumpang
yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka
demikian.
Boleh jadi keduanya tidak
hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang
min haitsu laa yahtasib.
Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham
bahwa rezeki itu
datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara
kedua sopir di atas sudah
mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan
keseharian, kita sendiri
barangkali masih berkutat pada tataran teori.
Jika Nabi Musa pernah
belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa
ini tak ada salahnya
belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir
taksi di atas. Benar juga
sebuah tulisan yang saya baca terpampang di
sebuah Sekolah Merdeka di
tepi Ranu Klakah Lumajang, dan selalu terpatri
dalam ingatan saya hingga
kini: jika semua tempat adalah sekolah, maka
setiap orang adalah guru.
Dan Pak Firmansyah serta Pak Endang, adalah guru
saya hari
ini.
Wa Allahu a'lamu bi
ash-shawab.
Bahtiar HS, Ketua FLP
Jatim 2004-2006
|

