Pakar Gizi Tolak Pemusnahan Unggas

BOGOR – Program pemusnahan sejumlah unggas untuk mengantisipasi penyebaran virus H5N1 (flu burung), banyak ditentang berbagai kalangan. Kali ini, penolakan program pemusnahan tersebut dilontarkan pakar gizi dari IPB. Pasalanya, dengan adanya pemusnahan sejumlah unggas trersebut, disinyalir kebutuhan akan gizi pada masyarakat menjadi menurun drastuis.

Seperti diungkapkan Dr Hardinsyah MS, Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Bogor  Akibatnya, kekuarangan gizi nasional bakal menjadi wabah baru yang menahantui masyarakat. “Pengaruh pemusnahan sejumlah unggas dengan kekurangan gizi tersebut sangat sangat terkait satu sama lain. Sehingga, kalau program pemusnahan tetap dilaksanakan, ke depan, bangsa Indonesia akan mengalami wabah gizi nasional,” ujarnya
.
Menurut dia, saat ini, kebutuhan konsumsi protein penduduk Indonesia masih jauh dari harapan, yakni baru mencapai 60 persen dari kebutuhan. Padahal, lanjut dia, pangan hewani mempunyai banyak kelebihan, terutama daging dan susu. “Karena mengandung B12 dan asam-asam amino serta mineral,” ungkapnya.

Hal tersebut, kata dia, mempunyai peran penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kesehatan, terutama bagui anak dan wanita hamil. “Kalau mereka kekurangan gizi, lalu bagaimana perkembangan bangsa ini di masa yang akan datang,” katanya serius.
 
Disamping itu, dengan adanya pemusnahan sejumlah unggas ini, produsen serta para peternak unggas, sangat dirugikan. Pasalnya, mata pencaharian mereka akan dimatikan juga jika pemusnahan tersebut dilaksanakan. “Imbasnya sangat besar. Sehingga, diperlukan sebuah langkah besar, terencana dan terpadu dalam penanganan masalah flu burung ini. Sebab, jika menganggap remeh masalah ini, atau melakukannya sebagai bisnis usual akan memperparah masalah gizi, kesehatan dan ekonomi masyarakat, ” tandasnya.

Dengan merebaknya virus H5N1, seharusnya masyarakat lebih memiliki kekebalan dalam menangkal virus tersebut. Kekebalan tersebut, jelas dia, tidak akan dimiliki jika masyarakat memiliki gizi yang rendah dalam kehidupan sehari-harinya. “Dengan gizi yang cukup akan meningkatkan kekebalan (imunitas) setiap anggota keluarga. Agar berbagai patogen penyebab infeksi serta racun bisa dilumpuhkan.

Menurut dia, dengan maraknya penyebaran virus H5N1 ini, disamping banyak mengkonsumsi daging, masyarakat hendaknya juga banyak mengkonsumsi buah serta sayur. “Minimal 200 gram sayur dan 150 gram buah setiap hari,” sarannya. Dengan mengkonsumsi daging, buah serta sayur tersebut, kata dia, akan mengoptimalkan imunitas dan antioksidan tubuh yang dapat mencegah berbagai infeksi penyakit, termasuk penyebaran virus H5N1.

Dia menambahkan, konsumsi buah serta sayur di masyarakat saat ini, masih sangat memprihatinkan. Dia menyebut sekitar 118 gram sayur serta 77 gram buah dikonsumsi per kapita per hari. “Padahal, buah dan sayur merupakan sumber vitamin (A, C serta E), mineral, serat dan zat-zat antiradikal bebas. Manfaatnya untuk pertumbuhan, perkembangan serta kesehatan manusia,” tandasnya.

Lebih parah lagi, kata dia, kesadaran mengkonsumsi buah dan sayur yang masih rendah ini disertai pula dengan peningkatan konsumsi pangan karbohidrat rendah serat dan gula. Disamping itu, konsumsi pangan berlemak yang kurang segat juga tinggi. “Misalnya pengeluaran untuk rokok ada sekitar 12 persen. Sementara pengeluaran untuk sayur baru sebesar 8,1 persen dan untuk buah baru sebesar 4,9 persen,” katanya. (diek)

Kirim email ke