http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/07/0902.htm


 IMF dan Pertumbuhan Ekonomi 2006
Oleh H. EDDY JUSUF


 PENILAIAN pesimis dari IMF (International Monetary Fund) tentang
perekonomian Indonesia pada 2006 merupakan sinyelemen penting. IMF
memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2006 hanya sekira 4,5 hingga 5 persen.
Sedangkan Bappenas memperkirakan antara 5,9 sampai 6,2 persen. Konsumsi
masyarakat hanya 2,5 persen, padahal diproyeksikan sekira 3 hingga 4 persen.
IMF juga menyinggung bahwa defisit akibat adanya luncuran carry over pada
2005 mencapai Rp. 12 triliun atau sekira 4,2 persen. Kemudian soal
investasi, IMF memperkirakan 6,2 persen, sedangkan Bappenas 10,9 persen.

 Apa pun alasannya, rekomendasi IMF tersebut memiliki dasar yang kuat. Ada
potensi besar bahwa bank sentral AS, -The Fed- akan menaikkan lagi suku
bunga. Hingga pertengahan tahun ini suku bunga utama Fed akan naik 50 basis
poin atau naik 5 persen dari sebelumnya 4,5 persen. Bank Indonesia (BI) tak
harus mengikuti rekomendasi IMF untuk menaikkan suku bunga menghadapi
tekanan inflasi yang diperkirakan makin besar beberapa waktu mendatang. Yang
perlu digarisbawahi BI adalah kemampuan rupiah untuk menahan guncangan dari
suku bunga Fed.

 Melihat kondisi rupiah yang masih stabil pada angka Rp. 9.300,00 per dolar
AS, BI tidak perlu untuk menaikkan suku bunga. Sebaliknya, jika keadaan
berbalik di mana dana-dana masuk baik dari investasi langsung (foreign
direct investment) ataupun dana-dana jangka pendek (hot money) itu berbalik
karena berinvestasi di dolar lebih menarik, maka BI harus berani segera
menaikkan suku bunganya.

 Masalah lain yang tak kalah penting yakni akan naiknya tarif dasar listrik,
yang oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) diakui bahwa industri tak punya
lagi ruang untuk menghadapi tekanan termasuk dari kenaikan tarif dasar
listrik (TDL). Dan dipastikan akan ada multiplier effect yang signifikan
bagi industri. Sektor perbankan juga tak luput dari perhatian IMF. Lembaga
yang pernah mengaku salah memberi resep kepada Indonesia ini
merekomendasikan tidak ada pemberian pemotongan utang (haircut) untuk kredit
macet di bank-bank BUMN.

 Patut diakui bahwa perekonomian pada kuartal terakhir pada 2005
menggambarkan pelemahan ekonomi nasional yang cukup besar. Ini berlanjut
pada kuartal pertama pada 2006 juga cenderung lemah. Terutama, pada
sektor-sektor yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Melihat
kondisi tersebut, pemerintah harus bisa membuat iklim investasi yang nyaman
dan stabilitas keamanan yang terjamin, sehingga investor asing aktif
melakukan investasi baru di Indonesia untuk mendorong pertumbuhan.

 Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi ini pemerintah membutuhkan dana sebesar
Rp 708 triliun. Namun dana yang tersedia dari APBN hanya Rp 136 triliun dan
dari perbankan Rp 130 triliun. Selain itu, pemerintah pun harus bisa
memanfaatkan dan menggunakan baik itu dana asing maupun dana dalam negeri,
sehingga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen hingga 5,9 persen dapat
dicapai.

 Investor sering dipusingkan dengan rumitnya kebijakan birokrasi. Muncul
keluhan pelayanan pengurusan izin usaha di loket one stop service mulai dari
proses yang terkesan lambat hingga pungutan liar. Sebenarnya, permasalahan
itu sudah disikapi pemerintahan terdahulu melalui Keppres No 29/2004 tentang
pelayanan satu atap dalam hal perizinan untuk memudahkan investor.
Ironisnya, meski pemerintah sudah menetapkan Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) sebagai institusi yang memberikan pelayanan satu pintu, aturan
tersebut tidak dapat direalisasikan secara sama di seluruh daerah. Pasalnya,
masih ada perbedaan pandangan di daerah dalam menyikapi kewenangan tersebut.

 Akibatnya kontribusi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat
ini masih dalam kisaran 19 persen, padahal sebelum krisis moneter sudah
mencapai 30 persen. Ketidakjelasan mengenai level kewenangan mana yang
menjadi kewenangan pusat, provinsi dan daerah dalam hal perizinan usaha ini
menggambarkan masih buruknya regulasi, sekaligus mencerminkan rusaknya
"suasana birokrasi" di Indonesia.

 Ketidaknyamanan tersebut menjadi bertambah kompleks dengan adanya pungutan
liar serta perda yang terkesan dipaksakan, seperti Perda Ketenagakerjaan
yang mengharuskan perusahaan menyerap tenaga lokal yang kerap kali
mengabaikan sisi profesionalisme.

 Pemerintah mengakui prosedur perizinan investasi di Indonesia terlalu
panjang dan lama. Dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN,
perizinan untuk memulai suatu usaha di Indonesia membutuhkan 12 prosedur
yang harus dilalui, yang memakan waktu 151 hari (sekira 5 bulan), dan biaya
sebesar 131 persen dari pendapatan per kapita (sekitar 1.163 dolar AS).

 Di Malaysia, proses perizinan investasi hanya melalui sembilan prosedur,
waktu 30 hari, dan biaya sekira 25 persen dari pendapatan per kapita
(sekitar 945 dolar AS). Sedangkan Filipina dan Thailand hanya membutuhkan
waktu masing-masing 50 hari dan 33 hari dengan biaya masing-masing 20 persen
(sekira 216 dolar AS) dan 7 persen (sekira 160 dolar AS) dari pendapatan per
kapita. Memperbaiki iklim investasi Indonesia tentunya dengan melakukan
deregulasi ekonomi, perdagangan dan investasi serta menyederhanakan
pembenahan aparat pemerintah, hentikan suap, berantas calo, tangkap koruptor
dan dalangnya serta jadikan segala sesuatunya transparan di era reformasi
dan demokrasi ini. Dan menempatkan kembali secara proporsional BKPM sebagai
lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam memformulasikan,
merencanakan, mempromosikan, menyetujui, mengontrol dan mengevaluasi
kebijakan-kebijakan investasi nasional.

 Tantangan ekonomi nasional pada 2006 ini cukup berat dan sulit untuk
diperkirakan. Sebab terlalu banyak masalah yang akan dihadapi pada tahun
depan. Akurasi proyeksi sangat tergantung pada seberapa tepat dalam
memperhitungkan beberapa variabel kunci, baik eksternal maupun internal,
yang secara signifikan akan mempengaruhi kinerja perekonomian nasional.

 Variabel itu adalah harga minyak dunia, suku bunga The Fed, laju
pertumbuhan ekonomi dunia, format kebijakan anggaran, nilai tukar, dan
kebijakan moneter.

 Bila diproyeksikan variabel tersebut dari sudut nilai tukar, inflasi, suku
bunga, pertumbuhan ekonomi, dan pengangguran, sebagai berikut : Pertama,
nilai tukar selama setahun terakhir ini hampir sulit dikendalikan. Bank
Indonesia selalu lamban dalam melakukan penyesuaian suku bunga, sehingga
berbagai instrumen rupiah kehilangan daya tariknya. Selain itu, terlalu
banyak statement para menteri justru memperburuk kondisi.

 Kedua inflasi pada 2006 akan kembali menembus single digit. Mungkin
perkiraan tersebut benar. Namun, ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan
inflasi kembali menembus double digit yakni naiknya harga gas (LPG) yang
mengikuti naiknya harga minyak mentah dunia. TDL juga mungkin terpaksa akan
dinaikkan, menyusul kenaikan harga BBM domestik.

 Faktor yang paling krusial dalam menentukan inflasi adalah upah buruh dan
harga BBM. Di awal tahun depan, upah buruh akan naik, menyusul kenaikan
inflasi 2005. Hal ini tentu akan mendorong terjadinya cost push inflation.
Walau pemerintah sempat menyangkal akan menaikkan harga BBM pada 2006,
kenyataannya mungkin akan lain. Sebab, asumsi harga minyak dunia dalam APBN
2006 hanya 57 dolar per barel. Padahal, kecenderungan naiknya harga minyak
mentah belum ada tanda-tanda akan berhenti.

 Ketiga suku bunga domestik yang pergerakannya sangat tergantung pada dua
hal, yakni suku bunga The Fed dan expected inflation differential. Beberapa
lembaga riset internasional memperkirakan suku bunga The Fed akan meningkat
sebesar 150 sampai 200 basis poin selama setahun mendatang, sehingga
tampaknya agak sulit untuk mengharapkan suku bunga SBI akan turun. Selain
itu, tekanan inflasi masih akan berlanjut.

 Di sini, BI akan dihadapkan pada sebuah dilema. Kalau suku bunga SBI tidak
dinaikkan, nilai tukar akan sangat sulit dikendalikan, sehingga, pada
gilirannya, akan menciptakan instabilitas moneter. Kalau suku bunga
dinaikkan, sektor riil akan terpukul, sehingga non-performing loan (NPL)
akan membengkak. Dua hal tersebut, terlepas mana yang dipilih, akan
berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada prinsipnya, BI akan
dengan terpaksa menaikkan suku bunga. Tahun depan, suku bunga SBI akan
berkisar 14%-15,5%.

 Keempat, perlambatan pertumbuhan ekonomi tampaknya akan terjadi dalam
semester I 2006. Hal tersebut merupakan akibat dari kenaikan harga BBM pada
Oktober lalu. Pelaku bisnis masih akan menunda keputusan untuk investasi
sampai semester II guna melihat apakah berbagai tantangan dan masalah akan
mampu diatasi oleh tim ekonomi baru. Kelima, masalah pengangguran merupakan
hal yang tidak terpecahkan selama empat tahun terakhir ini. Masalahnya,
kebijakan pemerintah masih bertumpu pada upaya stabilisasi makro. Paradigma
ini diperkirakan tidak akan ditinggalkan, sehingga, akibatnya, angka
pengangguran mungkin akan terus bertambah mencapai 12,5 juta orang pada
2006. ***

 Penulis, Pembantu Rektor I Unpas Bandung, Ketua Bidang Ekonomi Paguyuban
Pasundan, dan Wakil Ketua LP3E Kadin Jabar


 [Non-text portions of this message have been removed]


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke