|
Mau Berhaji? Jangan Lupa Sedekah Alquran menegaskan, ibadah haji ditujukan hanyalah bagi mereka yang mampu (istitho'ah) untuk melaksanakannya. Kemampuan di sini berupa kemampuan materi maupun nonmateri, jasmani maupun ruhani. Rois Syuriah PWNU Propinsi Riau, KH Tg Drs Mukhtarullah mengatakan, ibadah haji memiliki dua dimensi dibandingkan ibadah lainnya. Pertama, dimensi ruhaniyah (pengabdian kepada Allah) dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan (mental spiritual). Kedua, dimensi jasmaniyah yakni masalah fisik berkait dengan harta, gerak badan dan lain sebagainya. ''Ini berbeda dengan ibadah wajib lainnya seperti puasa, shalat dan zakat,'' kata Mukhtarullah. Karena itulah, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah Pekan Baru Riau, begitu besarnya dimensi ibadah yang dimiliki dalam melaksanakan haji ini, para ulama sepakat untuk menempatkan haji sebagai rukun Islam yang kelima. Agar ibadah haji ini dapat diterima oleh Allah SWT, Mukhtarullah yang juga Ketua MUI Propinsi Riau menganjurkan kalangan umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji, untuk tidak lupa melakukan kewajiban lainnya seperti menunaikan zakat, memperbanyak infaq dan sedekah. ''Jangan lupa membersihkan harta dan diri dengan mengeluarkan zakat dan memperbanyak infaq-sedekah. Sebab, sedekah itu menolak bala' (bahaya, {red}),'' kata Mukhtarullah. Ia menegaskan, walaupun perintah untuk berinfaq dan bersedekah menjelang berangkat haji bukanlah suatu kewajiban (karena belum ada nash-nya, {red}), hal itu merupakan suatu hal yang baik, dan tidak salah. Sebab, jelasnya, dengan bersedekah, maka secara tidak langsung akan membersihkan harta dan diri seorang Muslim. Dengan demikian diharapkan, calon jamaah haji memiliki kesiapan jasmani maupun ruhani. ''Jika jasmani oke, tapi ruhaninya belum oke, hasilnya akan mengecewakan. Demikian juga sebaliknya. Karenanya, kedua-duanya harus siap, baik jasmani maupun ruhani,'' tegasnya. Mukhtarullah menambahkan, Allah tidak akan menilai seseorang dari lahirnya saja, tetapi juga batinnya. Sangat baik Mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini mengakui, tidak 100 persen harta yang didapatkan merupakan murni milik pribadi seseorang. Di dalamnya terdapat bagian harta orang lain seperti anak yatim dan fakir miskin yang wajib dikeluarkan (sebagai zakat, {red}). ''Dengan mengeluarkan dan membayar zakat sebesar 2,5 persen dari seluruh harta yang dimiliki saat nishab (setahun, {red}), Insya Allah kita telah menyelesaikan kewajiban kita,'' katanya. Tetapi lanjut mantan Sekretaris PWNU Propinsi Jawa Tengah itu, zakat yang dibarengi dengan infaq dan sedekah, juga akan memperlancar segala urusan dan dapat menghindarkan diri dari musibah. Ketua Umum Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI/ Asosiasi Pondok Pesantren Se-Indonesia) Provinsi Jawa Tengah, KH Zaimuddin Ma'soem mengatakan, salah seorang karibnya pernah mengalami kegagalan saat akan melaksanakan ibadah haji. Saat itu, kata Gus Zaim, panggilan akrabnya, setoran ONH (ongkos naik haji), sahabat karibnya itu sudah lunas semua. Tinggal menunggu keberangkatannya saja. Sahabatnya akan berangkat haji bersama anak-anak dan istrinya. Namun, menjelang keberangkatannya, justru istri sahabatnya itu jatuh sakit. Akibatnya, semuanya gagal berangkat. ''Banyak yang menyarankan agar ia tidak lupa membayar zakat dan memperbanyak sedekah,'' kata Gus Zaim. Akhirnya, sahabatnya itu bisa memenuhi panggilan haji setelah 10 tahun kemudian. Pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Karangturi, Lasem Rembang itu menambahkan, ibadah haji merupakan panggilan Allah. Karenanya, kata dia, untuk memenuhi panggilan Yang Mahakuasa itu, sebaiknya seorang Muslim membersihkan dirinya dari salah satu penyakit ruhani, yakni hubbuddunya (cinta dunia). '"Berzakat dan bersedekah akan menghapuskan diri kita dari salah satu penyakit hati (ruhani), yakni cinta dunia'' paparnya. Gus Zaim menegaskan, ibadah haji adalah ibadah
fi'liyah (perbuatan). Karena itu, ia menyarankan kaum Muslimin, selain
perlu mempersiapkan materi (harta) untuk menunaikan haji, hendaknya juga
mempersiapkan fisiknya. ''Selain mempersiapkan fisik, juga kesiapan psikisnya
sangat penting,'' tambahnya. Perbanyak Sedekah, Ikhtiar dan Doa Pergi haji bukan sekadar urusan uang dan kesempatan. Tapi urusan apakah Allah mengizinkan berangkat atau tidak. ''Kehendak Alah ada di semua urusan manusia, termasuk urusan haji,'' kata Pimpinan Wisata Hati Ustad Yusuf Mansur Ia menambahkan, begitu banyak orang yang berhaji, padahal secara ekonomi dia bukan orang mampu. Dan sebaliknya, banyak orang yang secara finansial sangat berkecukupan, bahkan berkelebihan, namun tidak terpanggil untuk pergi haji. Ustad muda itu menganjurkan kepada setiap Muslim untuk memperbanyak sedekah. Apalagi mereka yang ingin sekali pergi haji. ''Haji adalah sedekah. Karena itu, sebaiknya mereka yang ingin melaksanakan haji memperbanyak sedekah, seraya senantiasa berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,'' katanya. Yusuf Mansur menyebutkan banyak contoh nyata mereka yang akhirnya bisa menunaikan ibadah haji, jalannya antara lain karena mereka gemar bersedekah. Ia lalu menceritakan kisah seorang guru agama yang bersedekah Rp 6 juta dengan dana yang ia dapat dari menjual satu-satunya motor miliknya. Ia pun berdoa agar Allah mengabulkan niatnya untuk pergi haji sekaligus memergikan haji istri dan ibunya. Ia sadar, bahwa menurut hitungan penghasilan, ia tidak mampu. Tapi ia pun tahu, bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah. ''Semuanya terlalu mudah bagi-Nya, sebab Dia Mahakuasa dan Maha Berkehendak,'' kata Yusuf Mansur. Beberapa pekan setelah ia bersedekah, sedang ia tidak punya motor lagi, ia mendapatkan rezeki kaget. Ketika sedang menjaga warung salah seorang kawannya, ada orang yang tiba-tiba datang dan bertanya tentang sebidang tanah yang dijual. Tanah itu berlokasi di depan warung tersebut. Guru tersebut memberikan petunjuk tentang siapa pemiliknya. Beberapa hari setelah itu, ia didatangi kembali oleh pencari tanah tersebut dan diberi komisi tanda terima kasih sebesar Rp 67 juta. ''Allah menepati janji-Nya. Guru agama itu bisa pergi haji bersama istri dan ibunya, bahkan mendapatkan motornya kembali,'' ujarnya. Kisah lainnya mengenai seorang ibu yang suatu malam sangat gundah gulana. Pasalnya, setelah sekian tahun menabung untuk haji, tabungannya tidak kunjung bertambah, yakni tetap Rp 8 juta. Akhirnya, pada malam tersebut, ia berniat mengeluarkan sebagiannya untuk disedekahkan. Diambilnya Rp 1 juta untuk sedekah. Ia pun berdoa agar Allah memergikan dia haji. ''Subhanallah, hanya selang satu hari, ibu tersebut mendapat uang Rp 29 juta!'' tuturnya. Dari mana ibu tersebut mendapatkan uang itu? Rupanya, di malam ia tergerak bersedekah, Allah pun menggerakkan anak-anaknya untuk patungan buat ongkos haji ibu mereka. ''Setelah ibu tersebut menunaikan sedekahnya, ia pun menerima bukti kebenaran janji Allah, yakni bisa berhaji. Hasil patungan anak-anaknya berjumlah Rp 29 juta, sehingga lebih dari cukup untuk biaya haji!'' tegas Yusuf Mansur. (sya/ ika ) dari www.wisatahati.multiply.com yang memuat tulisan dari Harian Republika tanggal 28 Sept 2005.
|

