MUSYAWARAH BURUNG
   
  Musyawarah Burung (Manthiqut Thair) merupakan karya sastra penyair sufi 
terkenal Faridu'Din Attar yang berisi tentang kisah sufistik. Karya yang hingga 
saat ini tetap melegenda ini mengisahkan perjalanan burung-burung menuju istana 
Simurgh sebagai metafor bagi para salikin (pejalan ruhaniah) dalam berjalan 
menuju Tuhannya.
  ***
   
  Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang 
berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di 
antara mereka ada yang berkata, "Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak 
memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa 
penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja."
  Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.
  "Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan 
percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal 
siapa Raja kita sesungguhnya."
  Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang 
berteriak, "Lalu apa yang harus kita lakukan?"
  "Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita 
semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang 
raja.E  Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. 
Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan 
menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak 
perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang 
tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan 
keagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik 
dan buruk.
  "Burung-burung sekalian, kata Hudhud, "Kita mempunyai raja sejati, ia tinggal 
jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang 
perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, 
tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya.  Bebaskan dirimu dari rasa malu, 
sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup 
melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, 
karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi 
kita jauh dari-Nya. 
  Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan 
malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk 
bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurg hingga membuat tercengang dan 
terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan 
keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, "Andaikata sehelai bulu tersebut 
tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi 
ini."
  Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggapai 
istana Simurg mereka harus  bersatu,  saling bekerja sama dan tidak boleh 
saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung 
Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap 
sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa  perjalanan 
menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan  harus melewati 
ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat  dengan 
penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan. 
  "Apakah kalian sudah siap ?" kata burung Hudhud, menguji keseriusan mereka. 
Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya 
perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi 
pudar dan  turun.
  Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang  memberanikan 
diri menyampaikan pendapatnya, "Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang 
yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana 
nanti orang-orang  rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan 
mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang mekarku ?" 
demikian alasan burung Kenari. 
  Selanjutnya, burung Merak berkata, "Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, 
lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku 
lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan."  
  Kemudian disusul oleh Itik, "Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku 
juga terbiasa  berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin 
hidup tanpa air," kilah Itik. 
  Begitu juga burung Garuda, "Saya sudah biasa hidup senang di gunung, 
bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan", alasan 
Garuda. 
  Kemudian disusul burung Gelatik, "Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, 
takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu," kata burung Gelatik.   
  Lantas burung Elang ikut menyahut, "Semua orang sudah tahu  kedudukanku yang 
tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia 
ini, " kata burung Elang.
  Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan 
dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud 
tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. "Kenapa 
kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu 
yang sudah membara menjadi padam? Padahal  kalian tahu bahwa perjalanan menuju 
istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan 
prasangka yang ada pada dirimu?" ucap Hudhud. 
  Kemudian ada seekor burung menyela, "Dengan cara apa kita bisa sampai ke 
tempat  Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? "Dengan bekal himmah 
(semangat) yang tinggi,  kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan 
dan rintangan. Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan 
seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg 
sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya," jawab Hudhud 
meyakinkan. "Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup 
menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang 
benar,Edemikian lanjut Hudhud.
  Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung seolah-olah baru saja 
mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju istana Simurg. Akhirnya, 
burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa 
satupun yang tertinggal. 
  Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud 
yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi 
rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus 
lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. "Mengapa  
perjalanan sudah lama dan  jauh, kok tidak sampai-sampai?" guman mereka di 
dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan 
terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi 
keraguan dan kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk 
tidak melanjutkan perjalanan. 
  Namun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang 
tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan 
perjalanan yang maha panjang itu. 
  Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa 
mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang dibanggakan  berguguran. Kegagahan 
burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah 
tidak terpikirkan. Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian 
lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka 
kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak 
berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang  
tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak 
berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan   tenggelam dalam 
gelombang fana'.   
  Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang 
teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang 
pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang 
istana Simurgh. Namun  kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak  
gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh 
mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar 
belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, 
yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah. 
  Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur 
nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, "Apa tujuan kalian 
susah payah datang ke istana Simurgh?" kata penjaga istana.  Serentak mereka 
menjawab, "Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan 
untuk bertemu dengannya." 
  Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, 
"Salaamun qaulam min rabbir rahiim" sembari mempersilahkan mereka masuk ke 
dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab 
satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang 
keindahan  yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan 
sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. 
  Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud 
dirinya.  Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, "Lho kok aku 
sudah ada disini?" begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di 
depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya.  Maka datanglah suara 
lembut menjawabnya, "Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai 
pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. 
Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan 
dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau 
harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan 
Kamil." 


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke