From: "Puji" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Mimpi Nih Ye!

Mimpi Nih Ye!
Senin, 30 Mei 2005
Rumah? Mimpi nih ye!. Bekerja dengan gaji Rp 150 ribu
(l994), mana mungkin bisa membeli rumah. Untuk makan saja
sebenarnya sudah pas-pasan. Namun bila Allah menghendaki,
mimpi itu bisa saja terwujud. Itulah yang terjadi pada
saya.

Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, Allah akan
menggantinya (QS.
Saba' 39)

Rumah? Mimpi nih ye!. Bekerja dengan gaji Rp 150 ribu
(l994), mana mungkin bisa membeli rumah. Untuk makan saja
sebenarnya sudah pas-pasan. Namun bila Allah menghendaki,
mimpi itu bisa saja terwujud. Itulah yang terjadi pada
saya.

Saya bekerja di sebuah unit ekonomi pesantren, hidup
qona'ah sangat ditekankan di sini. "Terimalah dengan rasa
syukur, insya Allah, Allah akan menambah nikmatmu,"
begitulah pesan utamanya.
Alhamdulillah, meski secara materi kami tak punya apa-apa,
kami hidup tenang. Mungkin juga, itu karena kami masih
keluarga muda, sehingga kebutuhannnya belum banyak. Anak
juga baru satu, masih kecil lagi.


Kalau ada karunia terbesar dalam hidup saya, dialah istri
saya. Selain shalihah, dia juga pintar mengatur keuangan.
Sehingga gaji yang pas-pasan itu cukup untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Bahkan masih sempat menabung.  Meski
cuma ratusan ribu rupiah, tapi lumayankan!


Mungkin, karena merasa punya tabungan, sesekali istri saya
bicara soal kemungkinan punya rumah sendiri. Waduh!
Sungguh, saya tak berani menanggapi. Diam atau mengalihkan
ke topik lai, begitu saya biasanya. Saya merasa tak 'PD'
bicara soal yang satu ini.


Harga rumah jelas tidak ratusan ribu, bok! Jutaan bahkan
puluhan juta rupiah. Duit dari mana saya? Maksud istri
saya tahu baik, agar tidak terus menerus jadi 'kontraktor'
alias kontrak. Tujuh tahun kami menikah, kami memang
tinggal dari kontrakan yang satu ke kontrakan yang lain.
Bosan sebenarnya, namun mau apalagi?

Nah, soal tabungan itu, ternyata Allah punya kehendak
lain. Ketika tabungan kami mulai terkumpul tiba-tiba saja
orangtua datang, ingin  meminjam uang untuk kebutuhan
mendesak. Dan itu terjadi beberapa kali.  Anehnya,
seringkali permintaan itu datang tepat saat kami memang
punya. Kami tidak bisa bohong, misalnya bilang lagi tak
punya uang atau yang lainnya. Kalau lagi 'tongpes'
(kantong kempes) kami biasanya juga bilang apa adanya.
Kami bersyukut bisa membantu orangtua, meski hanya
sedikit.


Kehidupan terus berputar. Hingga Suatu kali kami pulang
kampung, silahturrahmi ke orangtua. Beberapa saat
kemudian, istri saya dipanggil ayah ke kamarnya. Setelah
ngobrol sebentar, ayah bilang, "Ini untuk kamu,
mudah-mudah bermanfaat." Sebuah amplop tebal disodorkan.
Istri saya  diam tak tahu maksudnya. "Alhamdulillah ayah
punya rezeki, ini uang yang ayah pinjam dulu," jelasnya
 kemudian.  Istri saya dan juga saya, melongo sesaat. Kami
tak pernah menyangka bakal kejatuhan rezeki. Apalagi kami
memang tidak pernah berfikir bahwa uang itu nanti
dikembalikan. Niat kami bukan meminjami, kami benar-benar
memberi, suatu kewajiban yang sudah semestinya dilakukan
 seorang anak kepada orangtuanya.


Yang lebih mengejutkan lagi, tanpa sepengetahuan kami ayah
ternyata mencatat semua  uang yang dipinjam dari kami itu
dalam sebuah buku besar, lengkap dengan tanggal, tahun dan
jumlah uang yang dipinjam. Catatannya sehalaman penuh.
Entah berapa jumlahnya, yang jelas uang yang dikembalikan
kepada kami Rp 4 juta. Inilah uang terbesar yang pernah
kami punya, kala itu.
Uang itu, setelah kami tambahi dengan meminjam ke kantor
dan seorang teman, kami belikan sebuah rumah mungil di
perumahan  seharga Rp 6 juta. Rumah itulah yang kini saya
tempati bersama istri dan dua anak saya. Sungguh, bagi
Allah tak ada yang tak mungkin. Alhamduillah.

"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh butir, pada tiap tiap butir seratus
biji." (Al Baqarah 261)

Redaksi menerima cerita fakta perjalanan reliius anda.
Sedikit cerita anda akan berguna bagi saudara kita yang
lain. Kirimkan cerita anda di redaksi Hidayatullah.com
dengan alamat email: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke