Lebih Nyaman tanpa Televisi?
SEBUAH keluarga muda dengan suami-istri sarjana dan keduanya sudah lama
bekerja tapi di rumah mereka tak ada televisi. Barangkali inilah sebuah
kecuali. Karena, televisi saat ini sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat
dari segala tingkatan di kota maupun di desa. Ketika ditanya mengapa di rumah
tak ada televisi, mereka menjawab ringan. "Ternyata kami bisa hidup lebih
nyaman justru tanpa televisi."
Jawaban singkat itu justru membuat saya berfikir. Mungkin mereka benar.
Toh kebutuhan akan berita dan informasi bisa mereka dapatkan dari koran atau
majalah yang terpilih. Hiburan, baik yang audio maupun yang visual bisa
diperoleh melalui VCD yang juga terpilih dan diputar melalui perangkat
multimedia. Mereka berdaulat dan menentukan sendiri cara berkomunikasi dengan
dunia luar. Mereka juga menentukan sendiri cara memasuki dunia hiburan.
Sedangkan televisi, meskipun juga menyajikan acara-acara yang mereka butuhkan
ternyata membuat hidup mereka kurang nyaman. Mengapa? Pertanyaan ini bisa saya
jawab sendiri setelah selama dua hari siang-malam saya menjadi penonton setia
acara yang disiarkan oleh dua stasiun televisi.
Riset amatiran ini membuat saya sungguh yakin keluarga muda yang saya
ceritakan tadi benar. Bahwa pada dataran sikap dan akal yang wajar tayangan
televisi kita memang membuat orang bisa kehilangan kenyamanan hidup. Saya pun
jadi makin sadar, hanya karena kepentingan bisnislah maka televisi ada. Ya,
kepentingan bisnis yang bermental steril dan amat menomorsatukan akumulasi
keuntungan terus-menerus. Untuk mencapai tujuan itu kepentingan bisnis sangat
agresif bahkan ofensif dalam memperluas wilayah pasar. Dan mereka punya
pasukan sangat mahir yang bernama iklan.
Ya, iklan. Lihatlah misalnya, iklan rokok yang mendominasi tayangan
televisi. Iklan rokok makin hebat, baik kualitas maupun intensitasnya. Belum
lagi iklan rokok di luar layar televisi. Dan terbukti mereka telah sukses
menciptakan bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia.
Dari tayangan iklan di televisi kita mendapat gambaran industri rokok
(yang telah melahirkan orang Indonesia terkaya di dunia) sedang menuntun
puluhan juta generasi muda kita menjadi konsumen nikotin dengan cara yang
demikian cerdas dan memikat. Dan kita seakan tak peduli pendapat para ahli
bahwa rokok adalah jendela untuk mengenal dunia narkoba. Juga kita yang
mengaku muslim tidak peduli bahwa merokok sangat diajurkan untuk ditinggalkan
(makruh). Apakah karena industri rokok punya peran penting dalam perekonomian
kita, dan tanpa industri rokok perekonomian Indonesia akan lebih terpuruk?
Jawaban "ya" seakan menjadi nalar yang harus kita telan setelah kita
menyaksikan tayangan iklan rokok yang dahsyat itu. Kondisi ini memang membuat
siapapun yang punya pikiran logis merasa tidak nyaman. Dan iklan permen? Iklan
ini dibuat dengan membangun sensasi kenikmatan luar biasa, di luar nalar, yang
dijanjikan kepada konsumen. Orang dijamin akan memperoleh sensasi kebahagiaan
luar biasa hanya dengan mengulum sebutir permen. Nalar? Memang tidak, kecuali
orang yang mimpi dalam dunia sensasi. Dan memang mimpi kosong itulah yang
dibangun dengan biaya triliunan dalam bisnis iklan.
Demikian juga iklan mi, susu, sabun, pasta gigi, dan semuanya. Semua
penuh sensasi yang membuat orang yang ingin hidup sewajarnnya jadi merasa
kurang nyaman. Untung, atau sayang, orang jenis ini sekarang sudah menjadi
mahluk langka sehingga sensasi dan provokasi iklan bisa terus merajalela.
Bukankah sudah nyata jauh lebih banyak orang yang asyik menikmati tayangan
iklan (termasuk iklan pembalut dan kondom) dari pada mereka yang merasa risi
dan merasa tidak nyaman.
Di luar masalah iklan tayangan televisi juga didominasi oleh orientasi
cari untung. Rate atau jumlah penonton adalah kata kunci. Untuk mendongkrak
rate, apa saja dilakukan. Sinetron yang penuh kekerasan, dengan pertumpahan
darah yang sangat kejam, eksploitatif terhadap dunia anak-anak sampai
menyerempet-nyerempet masalah akidah terus ditayangkan. Kuis gampangan dengan
hadiah milyaran terus disajikan, tak peduli hal ini merupakan pornografi
sosial yang hanya akan membuat penonton menjadi pemimpi. Panggung dan
kehidupan gemerlap disodorkan setiap saat tanpa empati sedikitpun terhadap
penonton yang mayoritas terdiri atas orang-orang miskin.
Dan berita-berita kriminal disajikan dengan mengekploitasi sensasi
kejahatan dan kekejaman. Kelihatan sekali penayangan berita kriminal
diusahakan bisa menggambarkan kembali peristiwa yang seungguhnya. Dengan kata
lain mereka mau membawa penonton menyaksikan kembali tindak kejahatan yang
mereka beritakan. Maka jadi lengkap; di satu sisi televisi kita menyodorkan
dunia mimpi dan dunia gemerlap yang merupakan pornografi sosial, pada sisi
lain mereka menampilkan dunia kejahatan dan kekejaman yang biasanya terjadi di
masyarakat pinggiran.
Ah, rasanya pasangan muda itu benar. Hidup tanpa televisi bisa lebih
nyaman. Tanpa televisi berarti tanpa rayuan dan provokasi yang berlebihan,
yang mendorong-dorong kita menjadi pembeli. Kita juga akan bebas dari tayangan
pornografi sosial yang menyebalkan.
Tapi nanti dulu. Bagaimana dengan puluhan juta orang yang sudah terbina
oleh rezim televisi? Sekarang mereka sudah menganggap televisi sebagai
kebanggaan bahkan kiblat kehidupan mereka. Mereka menikmati iklan dan sajian
lain dengan amat khusuk. Dan mungkin mereka tidak bisa mengerti bahwa ibarat
makanan, tayangan televisi memang enak meskipun lebih banyak narkobanya.
(Ahmad Tohari )