Living Library
Oleh: Rhenald Kasali
 
Semua orang sepakat membaca itu penting. Dengan bacaan yang sehat, orang cacat seperti Franklin D. Roosevelt (polio) mampu menjadi orang besar dan memimpin Amerika Serikat di masa-masa sulit. Ia bahkan menjadi satu-satunya presiden Amerika yang memimpin tiga periode. Pada saat Roosevelt wafat, dibalik bantalnya ditemukan sebuah buku yang belum habis dibaca. Ini berarti, sampai akhir hayatnya Roosevelt masih aktif membaca.

Lantas untuk apa kita menyediakan perpustakaan? Jelas untuk mengajak orang membaca. Tetapi tengoklah perpustakaan yang ada. Sepi, suram, tidak menarik, dan lambat laun ia berubah menjadi gudang buku yang sama sekali tidak bersahabat. Bahkan tak sedikit ditemui petugas yang ketus dan bekerja tanpa gairah.

Hari-hari ini keluarga saya sedang disibukan dengan sebuah titipan masyarakat yang diberikan kepada kami, yaitu sebuah rumah baca. Di atas tanah keluarga seluas tiga ratus meter persegi belum lama ini dibangun sebuah perpustakaan. Tadinya tanah ini kami pakai untuk kebun jamur, tapi begitu mendengar Yayasan Manca mau membangun rumah baca, tanah itu segera kami alihkan. Jadilah ia sebuah rumah baca yang asri. Pada saat dibangun, saya dan keluarga melakukan beberapa perubahan. Maklum, kami ingin agar rumah baca ini benar-benar bersahabat dan dekat dengan anak-anak.

Alhamdullilah rumah baca itu sudah jadi dan sekarang saya punya banyak sahabat kecil. Konsepnya adalah sebuah living library: Dekat, hidup dan bersahabat. Sasarannya memang anak-anak, mulai dari taman kanak-kanak, SD, hingga SLTP. Pulang dari sekolah anak-anak ini biasanya bermain di rawa-rawa atau kebun yang masih sangat luas di kampung-kampung sekitar wilayah ini. Jadi tak jarang kaki mereka tampak kotor. Karena listrik banyak yang tidak punya, mereka juga jarang belajar. Maklumlah sebagian besar hidup di keluarga sederhana yang orangtuanya bekerja sebagai tukang ojeg, buruh, sopir atau bertani.

Di rumah baca ini mereka bebas membaca dan mengambil sendiri buku- buku yang mereka inginkan. Syaratnya cuma satu: harus cuci kaki dan tangan sebelum masuk. Meski tak ada aturan tertulis, kami pun mensyaratkan agar mereka sudah mandi. Namanya juga anak kampung, kadang mereka malas mandi dan bau keringatnya mengganggu teman-temannya. Jadi untuk menghormati teman-temannya mereka harus bersih. Ternyata aturan ini disambut baik. Sepulang dari sekolah puluhan sepeda berjajar di depan rumah baca.

Supaya tetap hidup, istri saya melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Lima sekolah negeri, dua buah TK Islam, sebuah pesantren dan sebuah sekolah Katolik dikunjunginya. Ia mengajak guru-guru memanfaatkan rumah baca ini. Tentu saja sambutan bapak dan ibu guru sangat bervariasi. Ada yang senang, ada pula yang curiga. Tapi perlahan-lahan bapak ibu guru berdatangan membawa anak-anak didiknya. Pagi hari sebelum berangkat kerja kadang saya menyempatkan menemui rombongan sekitar 100 anak yang berkeringat diantar oleh empat orang bapak/ibu guru berbaris memasuki rumah baca. Bapak guru ini terbilang kreatif, jarak sekolahnya ke rumah baca sekitar 3 kilometer. Rupanya mereka memanfaatkan kelas olahraga untuk berjalan sejauh itu dan istirahatnya dilakukan sambil membaca di rumah baca ini. Wajah anak-anak tampak dipenuhi keringat, tapi tampak mereka haus bacaan. Suara anak-anak menyapa saya dengan sambutan ”Selamat Pagi” sungguh indah terdengar.

Kami berupaya terus agar rumah baca ini tampak hidup dan dekat dengan anak-anak. Maka sebulan sekali kami mendatangkan orang-orang terkenal untuk mendongeng secara sukarela. Sesekali saya ikut mendongeng dan bercerita. Syukurlah ada banyak pihak yang selalu mau membantu. Kepada petugas yang masih remaja kami selalu melakukan evaluasi. Mereka tidak boleh memakai kata-kata keras atau yang membuat anak-anak ragu untuk datang. Kami juga melibatkan tokoh-tokoh setempat agar mereka mendorong anak-anak untuk datang. Hadiahnya, sebuah kaos dengan tulisan : ”Membaca, Membuka Hati, Melihat Dunia”

Menjadikan perpustakaan sebagai sebuah rumah baca dengan konsep living library memang tidak mudah. Tugas, kita pertama-tama adalah meniupkan”ruh kehidupan” didalamnya. Ruh itu ada dalam setiap manusia. Ruh itu tampak dalam senyum, gerakan, warna, cahaya, tulisan, kata-kata, tata letak, penataan pohon, aktivitas, aturan-aturan dan sebagainya. Ruh yang di taruh itu sama seperti ruh yang Anda tiupkan dalam pekerjaan dan bisnis anda. Ia bisa hidup terus, berumur panjang, atau bisa juga lesu, sakit atu mati. Maka ruh itu harus dipelihara, diayomi, ditemani, diajak berbicara.

Ruh adalah jiwa atau pikiran, dan jiwa atau pikiran itu harus bersih. Inilah yang membedakan apakah Anda economic individual atau a living individual. A living individual bekerja dengan riang dan hidup untuk mengisi kehidupan. Ketika menciptakan karya-karyanya ia akan memasukkannya ke dalam sebuah living company, bukan economic company. Economic company hanya menaruh perhatian kepada the bottom line, yaitu untung – rugi. Sedangkan a living company menaruh perhatian pada keseimbangan ekologi. Hidup untuk saling menghidupi.

www.detik.com ( kolom Rhenald Kasali )

Kirim email ke