Taubat dalam Sunnah Nabi SAW.
Dalam sunnah Nabi Saw, kita banyak menemukan hadits-hadits yang mengajak kita 
untuk bertaubat, menjelaskan keutamaannya, dan mendorong untuk melakukannya 
dengan berbagai cara. Hingga Rasulullah Saw bersabda:
        "Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT, karena 
sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah SWT dalam satu hari sebanyak seratus 
kali". (Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Al Aghar al Muzni.)
Aku cukupkan dengan menyebut beberapa hadits yang disebutkan oleh hafizh al 
Mundziri dalam kitabnya "at-Targhib wa Tarhib", dan aku sebutkan hadits-hadits 
yang paling penting dari hadits-hadits itu dalam kitabku: "al Muntaqa min at 
Targhib wa Tarhib".
Dari Abi Musa r.a. diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
        "Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk 
memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan 
membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang 
yang melakukan dosa pada malam hari, (terus berlangsung demikian) hingga 
(datang masanya) matahari terbit dari Barat (kiamat)". Hadits diriwayatkan oleh 
an-Nasaai.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
        "Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke matahari, 
kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni kalian". Hadits 
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang baik. (Hadits diriwayatkan oleh 
Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhd (4248), dan dalam kitab az Zawaid diterangkan: 
ini adalah isnad hasan.).
Dari Jabir r.a. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:
        "Di antara kebahagiaan manusia adalah, panjang usianya, dan Allah SWT 
memberikan rezeki taubat kepadanya".
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: isnad hadits ini sahih. 
(Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi (4/240) dan Al Haitsami 
menyebutkan sebagian hadits ini dan berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 
dan Al Bazzar, dan sanadnya adalah hasan (10/203).).
Dari Abi Sa'id al Khudri r.a. dari Nabi Saw beliau bersabda:
        "Perumpamaan orang mu'min dan iman adalah seperti kuda dalam kandang 
(ikatan) nya, ia berjalan sebentar ke luar untuk kemudian kembali ke kandang 
(ikatan) nya . Dan seorang mu'min dapat lalai dan melakukan kesalahan namun 
kemudian ia kembali kepada keimanannya. Maka berikan makanan kalian kepada kaum 
yang bertakwa, dan kaum mu'minin yang baik". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu 
Hibban dalam sahihnya. (Yaitu dalam al Mawaarid (2451), dan diriwayatkan pula 
oleh Ahmad dan Abu Ya'la seperti dikatakan oleh al Haitsami, dan para 
periwayatnya adalah sahih, selain Abi Sulaiman al Laitsi, dan Abdullah bin al 
Walid at Tamimi, keduanya adalah tsiqat (10/201).).
Dari Anas r.a. bahwa Nabi Saw bersabda:
        "Seluruh anak Adam adalah cenderung berbuat salah, dan paling baik 
orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat". Hadits diriwayatkan 
oleh Tirmizi, Ibnu Majah, dan Hakim. Seluruhnya dari riwayat Ali bin 
as'adah.(Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam kitab at Taqrib: ia Shaduq dan 
mempunyai sedikit kelemahan (awham)).
Tirmizi berkata: hadits ini gharib, kami hanya medapatkannya dari Ali bin 
Mas'adah dari Qatadah. Al Hakim berkata: Isnadnya sahih. (Hadits riwayatkan 
oleh Tirmidzi dalam kitab Shifaat al Qiyaamah (1, 25) dan Ibnu Majah dalam 
kitab az Zuhd (4252), dan al Hakim (4/244). Adz Dzahabi berkata: Ali adalah 
layyin (agak lemah), dan Ibnu Al Qaththan mendukung al Hakim seperti terdapat 
dalam kitab Al Faidh (5/17). Dan dinilai hasan oleh Al Albani dalam kitab Sahih 
Jami' Shagir (5415).).
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:
        "Seorang hamba melakukan dosa, dan berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku telah 
melakukan dosa maka ampunilah aku'. Tuhannya berfirman: 'hamba-Ku mengetahui 
bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dan menghapus dosanya, maka 
Tuhan-pun mengampuninya'. Kemudian waktu berjalan dan orang itu tetap seperti 
itu hingga masa yang ditentukan Allah SWT, hingga orang itu kembali melakukan 
dosa yang lain. Orang itupun kembali berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku kembali 
melakukan dosa, maka ampunilah dosaku'. Tuhan-nya berfirman: 'Hamba-Ku 
mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan menghapus dosanya', 
maka Tuhan-pun mengampuninya. Kemudian ia terus dalam keadaan demikian hingga 
masa yang ditentukan Allah SWT, hingga akhirnya ia kembali melakukan dosa. Dan 
ia berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa, maka ampunilah daku'. 
Tuhan-nya berfirman: 'Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan Yang 
mengampuni dan menghapus dosanya'. Maka Tuhannya berfirman: 'Aku telah berikan 
ampunan kepada hamba-Ku, dan silahkan ia melakukan apa yang ia mau". Hadits 
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Redaksi: 'falya'mal ma syaa' "silakan ia melakukan apa yang ia mau" maknanya 
adalah --wallahu a'lam--: selama dia melakukan dosa dan beristighfar kemudian 
diampuni, dan ia tidak melakukan dosa itu lagi. Dengan dalil redaksi: "kemudian 
ia melakukan dosa lagi" maka ia dapat melakukannya lagi jika itu merupakan 
perangainya, sesuai kemauannya. Karena ia, setiap kali ia melakukan suatu dosa 
maka taubat dan istihgfarnya menjadi penghapus dosanya itu, dan ia tidak 
mendapatkan celaka. Tidak karena ia melakukan suatu dosa, kemudian ia 
beristighfar dari dosanya itu dengan tanpa berusaha membebaskan dirinya dari 
kebiasan buruknya itu, karena itu adalah taubat orang yang suka bohong.
Telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda:
        "Sesungguhnya seorang hamba, jika ia melakukan dosa maka terdapat 
bintik hitam dalam hatinya, dan jika ia bertaubat dan meninggalkan perbuatan 
dosa itu serta beristighfar, maka hatinya kembali dibersihkan".
Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: kaum Quraisy berkata kepada Rasulullah Saw: 
"Berdoalah kepada Rabbmu agar bukit Shafa dijadikan emas bagi kami, dan jika ia 
telah berhahasil menjadi emas, kami akan mengikutimu". Maka Rasulullah Saw 
berdoa kepada Rabbnya dan Jibril a.s. datang dan berkata: "Rabbmu mengucapkan 
salam kepada engkau. Dan berfirman kepada engkau: Jika engkau mau maka dapat 
Aku jadikan emas bukit Shafa itu bagi mereka, namun jika kemudian dari mereka 
itu (kaum kafir Quraisy) ada yang kafir, maka Aku akan azab dia dengan azab 
yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di dunia. Dan jika engkau mau, 
Aku buka bagi mereka pintu taubat dan rahmah". Rasulullah Saw bersabda: "(aku 
ingin dibukakan) Pintu taubat dan rahmat saja". Hadits diriwayatkan oleh 
Thabrani, dan para perawinya adalah sahih. (Dan sejenisnya disebutkan oleh Al 
Haitsami (10/196) seperti diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: Isnadnya 
sahih, dan itu setujui oleh Adz Dzahabi (4/240).).
Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Saw bersabda:
        "Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama 
nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)".
Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan. 
(Hadits diriwayatkan oleh At Tizmidzi dalam kitab Ad Da'awat (3531) dan Ibnu 
Majah dalam az Zuhd. Dan ia menjadikannya dari hadits Abdullah bin Amru. 
Seperti diriwayatkan oleh al Hakim juga dan ia mensahihkannya, serta disetujui 
oleh adz Dzahabi (4/257). Dan Al Haitsami menyebutkannya dalam kitab Majma' 
Zawaid sebagian dari hadits itu dari salah seorang sahabat, dan ia berkata: 
Hadits ini diriwaytkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah sahih, selain Abdu 
Rahman (bin al Bailamani) dia adalah tsiqat (10/197).).
Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. dari Nabi Saw bersabda:
        "Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak 
berdosa". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Thabrani dan keduanya dari 
riwayat Abi Ubaidah bin Abdullah bin Mas'ud dari bapaknya. Dan ia tidak 
mendengar darinya. Dan para perawi Thabrani adalah sahih. (Hadits diriwayatkan 
oleh Ibnu Maad dalam kitab Al Zuhd (4250) dan Ibnu Hajar menghukumkannya hasan, 
dengan melihat hadits-hadits sejenis yang menguatkannya, seperti terdapat dalam 
kitab Al Maqhashid, al Faidh, al Kasyf. Dan Al Albani mensahihkannya dalam 
kitab Sahih Jami' Shaghir (3008).).
Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Dunya, dan Baihaqi secara marfu' 
juga dari hadits Ibnu Abbas. Dan ia menambahkan: "dan orang yang meminta 
ampunan dari suatu dosa, sementara ia masih tetap melakukan dosa itu adalah 
seperti orang yang mengejek Tuhannya". Tambahan ini diriwayatkan secara mauquf, 
barangkali ia lebih mirip.
Dari Abdullah bin Ma'qal ia berkata; Aku masuk bersama ayahku kepada Abdullah 
bin Mas'ud r.a. . dan ayahku berkata kepadanya: Aku mendengar Nabi Saw 
bersabda: "Penyesalan adalah taubat"? (Maksudnya, pokok yang paling utama dalam 
taubat adalah penyesalan. Seperti terdapat dalam hadits "Hajji adalah Arafah". 
Maka itu tidak menafikan keharusan adalah tekad dan meninggalkan perbuatan dosa 
itu untuk mencapai taubat yang sempurna.)
Ia menjawab: benar. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: isnadnya 
sahih. (Disepakati oleh Adz Dzahabi (4/243) dan Al Mundziri lupa untuk 
menisbahkannya kepada Ahmad, seperti kami telah singgung. Syaikh Syakir 
berkata: Sanadnya sahih. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah juga 4252).).
Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi Saw bersabda:
        "Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, jika kalian tidak 
berbuat dosa niscaya Allah SWT akan membinasakan kalian dan mendatangkan suatu 
makhluk lain yang berbuat dosa, sehingga mereka kemudian meminta ampun kepada 
Allah SWT dan Allah SWT mengampuni mereka". (Karena di antara nama Allah SWT 
adalah "Al Ghaffaar" --Maha Pemberi ampunan. Maka siapa yang akan memberikan 
ampunan jika seluruh hamba-Nya adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan 
dosa?!! Maka orang yang telah melakukan dosa hendaknya tidak menjadi putus asa, 
selama dosa yang ia lakukan itu adalah bukan dosa besar. Karena ampunan Allah 
SWT lebih besar dari dosanya itu. Dan Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Hai 
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah 
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa 
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Penyampun lagi Maha Penyayang". (QS. 
Az-Zumar: 53).). Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.
Dari 'Imran bin Hushain r.a. bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada 
Rasulullah Saw, dan wanita itu sedang hamil karena zina. Kemudian wanita itu 
berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah Saw aku telah melanggar had, maka 
jatuhkanlah kepada saya hukumannya". Kemudian Nabi Saw memanggil keluarganya. 
Dan bersabda:
        "Perlakukanlah dia dengan baik, dan jika ia telah melahirkan maka 
bawalah dia kemari". Keluarganya pun menjalankannya. Kemudian (setelah datang 
masanya) Rasulullah Saw memerintahkan untuk menjatuhkan hukum atasnya, dan 
badannya diikat, kemudian iapun dirajam. Setelah itu Rasulullah Saw 
menshalatkan jenazahnya. Melihat itu Umar bertanya: Wahai Rasulullah Saw apakah 
baginda menshalatkannya padahal ia telah berzina? Rasulullah Saw bersabda: 
        "Ia telah melakukan taubat yang jika taubat itu dibagi-bagi bagi tujuh 
puluh penduduk Madinah niscaya mencukupi mereka, dan apakah engkau dapati yang 
lebih baik daripada orang yang datang menyerahkan dirinya kepada Allah SWT?". 
Hadits diriwayatkan oleh Muslim.
Dari Abi Sa'id al Khudri r.a. bahwa Nabi Saw bersabda:
        "Pada jaman sebelum kalian ada seseorang yang telah membunuh sembilan 
puluh sembilan manusia, kemudian ia mencari manusia yang paling alim di muka 
bumi, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang rahib. Ia mendatangi rahib itu dan 
bertanya: bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, maka apakah 
ia masih dapat bertaubat?. Sang rahib menjawab: "tidak". Dan orang itupun 
membunuh sang rahib, hingga ia melengkapi bilangan seratus orang yang telah ia 
bunuh. Kemudian ia kembali menanyakan tentang orang yang paling alim di muka 
bumi, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang alim, dan ia bertanya: bahwa ia 
telah membunuh seratus manusia, maka apakah ia dapat bertaubat? Orang alim itu 
menjawab: "ya bisa, siapa yang menghalangi antaranya dengan taubat? Pergilah 
engkau ke daerah ini dan ini, karena di sana ada manusia yang menyembah Allah, 
maka beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu lagi; karena 
ia adalah negeri yang buruk". Orang itu kemudian berangkat menuju negeri yang 
ditunjukan itu hingga sampai di tengah perjalanan, di sana malaikat maut 
mendatanginya dan mencabut nyawanya. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab 
bertengkar; malaikat rahmah berkata: Orang ini telah berangkat untuk bertaubat 
kepada Allah SWT (oleh karena itu ia berhak mendapatkan rahmah). Sedangkan 
malikat azab berkata: orang ini tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun 
(oleh karena itu ia seharusnya diazab. Selanjutnya, datang malaikat dalam 
bentuk seorang manusia, dan berkata kepada keduanya: Ukurlah antara dua negeri 
itu (antara tempat asalnya dan tempat tujuannya), tempat mana yang lebih dekat 
orang itu, maka orang itu dimasukkan dalam kelompok itu. Malaikat pun 
mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat ke tempat yang ditujunya 
(tempat orang saleh), maka orag itupun dicabut oleh malaikat rahmah".
Dalam satu riwayat:
        "Maka diketahui orang itu lebih dekat ke negeri yang saleh sekadar satu 
jengkal, sehingga iapun dimasukkan dalam golongan orang saleh itu".
dalam riwayat lain:
        "Allah SWT memerintahkan kepada negeri yang buruk itu untuk menjauh dan 
kepada negeri yang saleh untuk mendekat. Kemudian memerintahkan kepada 
malaikat: Ukurlah antara keduanya, dan para malaikut mendapati orang itu lebih 
dekat ke negeri yang saleh sekadar satu hasta, maka Allah SWT mengampuni orang 
itu".
Dalam riwayat lainnya: Qatadah berkata: Hasan berkata: Diceritakan kepada kami 
bahwa ketika beliau didatangi malaikat pencabut nyawa ia menyodorkan dadanya 
kepadanya". Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah dengan sejenisnya.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
        "Allah SWT berfirman: " Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku 
kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku, dan Allah SWT 
lebih senang dengan taubat seorang manusia dari pada seorang kalian yang 
menemukan kembali perbekalannya di padang tandus. Barangsiapa yang mendekat 
kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang 
siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua 
lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan 
menemuinya dengan berlari". Hadits diriwayatkan oleh Muslim, dan lafazhnya 
darinya, juga Bukhari dengan lafazh yang sama.
Dari Syuraih --yaitu Ibnu Harits-- ia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki 
dari sahabat Rasulullah Saw berkata: Rasulullah Saw bersabda:
        "Allah SWT berfirman: Wahai anak Adam, bangunlah kepada-Ku niscaya aku 
akan berjalan kepadamu, dan berjalanlah kepada-Ku niscaya Aku datang kepadam 
dengan berlari". hadits diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya yang sahih. 
(Dan al Haitsami berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah 
sahih, kecuali Syuraih bin Harits, ia adalah tsiqat (10/196, 197).).
Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Allah SWT lebih 
berbahagia mendapati hamba-Nya bertaubat dari seorang yang tiba-tiba menemukan 
kendaraannya kembali setelah hilang di padang pasir", hadits diriwayatkan oleh 
Bukhari dan Muslim. Keduanya juga meriwayatkannay dari Ibnu Mas'ud dengan 
redaksi yang lebih luas dari itu. Dan akan disebutkan pada waktunya nanti.
Dari Abi Dzar r.a. ia berkata; Rasulullah Saw bersabda:
        "Barangsiapa yang melakukan kebaikan pada masa usianya yang tersisa 
maka ia akan diampuni akan dosa-dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang 
berbuat buruk pada masa usianya yang tersisa maka ia akan dipertanyakan akan 
dosa yang telah lalu dan dosa pada usianya yang tersisa". Hadits diriwayatkan 
oleh Thabrani denagn sanad hasan. (Seperti itu pula al Haitsami berkata: 
(10/202).).
Dari 'Uqbah bin 'Amir ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
        "Sesungguhnya perumpamaan orang yang mengerjakan keburukan dan kemudian 
melakukan kebaikan adalah seperti orang yang mengenakan pakaian besi yang telah 
menjepitnya, kemudian ia melakukan kebaikan dan pakaian besi itupun membuka 
satu sisinya, dan ketika ia melakukan kebaikan yang lain baju besi itupun makin 
mengendur hingga akhirnya ia dapat keluar darinya". Hadits diriwayatkan oleh 
Ahmad, dan Thabrani dengan dua sanad, dan salah satu sanadnya adalah sahih. 
(Dan al Haitsami berkata: Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani. Dan satu 
sanad Thabrani para perawinya adalah sahih (10/201, 202).).
Dari Abi Huraira r.a. ia berkata: bahwa seorang laki-laki mencium seorang 
wanita, dalam riwayat lain disebutkan: seorang laki-laki datang kepada 
Rasulullah Saw dan berkata: Wahai Rasulullah Saw, aku mengobati seorang wanita 
di ujung kota, dan aku menyentuh bagian dari tubuh yang seharusnya tidak perlu 
aku sentuh [dalam pengobatan] (Perkataannya: "menyentuh bagian dari tubuh yang 
seharusnya tidak perlu aku sentuh (dalam pengobatan)" maksudnya adalah 
melakukan perbuatan selain bersetubuh.), saya mengakui perbuatan saya, maka 
berikanlah hukuman kepada saya sesuai kehendak Rasulullah Saw". Umar berkata: 
Allah SWT akan menutupi perbuatanmu jika kamu menutupinya. Ia berkata: Dan Nabi 
Saw tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Kemudian orang itu bangkit dan 
berjalan. Dan kemudian Rasulullah Saw mengutus seseorang untuk memanggilnya 
kembali dan membacakan ayat ini:
        "Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) 
dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan 
yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah 
peringatan bagi orang-orang yang ingat" (QS. Hud: 114.).
Seorang laki-laki dari yang hadir berkata: Wahai Nabi Allah, apakah itu hanya 
khusus baginya? Rasulullah Saw bersabda: "Namun bagi seluruh manusia". Hadits 
diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.
Dari Abi Thawil Syathbul Mamdud bahwa ia mendatangi Nabi Saw dan bertanya: 
Apakah orang yang telah melakukan segala dosa seluruhnya, dan tidak ada suatu 
dosa apapun yang tidak pernah dilewatkannya, baik dosa yang kecil maupun yang 
besar telah ia lakukan, apakah ia masih terbuka taubat baginya?" Rasulullah Saw 
bersabda: "Apakah engkau telah masuk Islam?". sedangkan saya, maka aku bersaksi 
bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah Rasulullah Saw". 
Rasulullah Saw bersabda: " Lakukanlah kebaikan, dan tinggalkanlah seluruh 
keburukan, niscaya Allah SWT akan menjadikan itu semua sebagai kebaikan". Orang 
itu kembali bertanya: "Apakah itu termasuk dengan perbuatan-perbuatan burukku 
yang lalu?". Rasulullah Saw menjawab: "Ya". Orang itu mengucapkan: Allah 
Akbar!, dan ia terus bertakbir (sambil berjalan) hingga tubuhnya tidak terlihat 
oleh kami. Hadits diriwayatkan oleh Al Bazzar, dan Thabrani, dan lafazh hadits 
itu adalah riwayatnya. Dan isnadnya adalah jayyid dan kuat. (Al Haitsami 
berkata: (10/202) hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dan Al Bazzar dengan 
riwayat yang sama. Dan para perawi Bazzar adalah sahih, selain Muhammad bi 
Harun Abi Nasyith, dia adalah tsiqat.).

=============== ******************** ===============

--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke