---------- Forwarded message ----------
From: sadarzakat <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 17, 2006 8:17 PM
Subject: [sadarzakat] Mbah Marijan yang Terdzalimi
To: [EMAIL PROTECTED]

Mbah Marijan yang Terdzalimi

Semalam Mbah Marijan sakit. Tubuh rentanya terlihat sangat letih,
gemetar ia menahan dinginnya udara malam. Namun bukan cuaca yang tak
menentu di Dusun Kinahrejo yang membuat juru kunci Merapi itu jatuh
sakit, karena sedahsyat apa pun cuaca yang terus berubah menjelang
meletusnya Merapi sudah puluhan tahun dirasakannya. "Mbah sakit karena
terlalu lelah," ujar salah seorang anaknya.

Ya, betapa melelahkannya menjadi Mbah Marijan. Tugas yang diembannya
sebagai juru kunci Merapi membuatnya harus meladeni semua tamu,
termasuk wartawan yang datang terus menerus dan kadang tak kenal
waktu. Orang seusianya, seharusnya lebih banyak beristirahat, namun
semenjak Merapi dinyatakan `waspada` hingga meningkat menjadi `Awas`
pada Sabtu (13/5), lelaki tua ini nyaris tak memiliki cukup waktu
untuk beristirahat.

Sabtu malam (13/5) Mbah Marijan sakit lantaran menerima sekian banyak
wartawan dan tamu yang datang ke rumahnya. Ia teramat sederhana dan
ramah, sehingga tak satu pun tamu tak diladeninya. Kalau pun ada yang
diminta menunggu, itu lantaran para tamu datang pada saat waktu
sholat. Hingga larut malam, para tamu dengan berbagai kepentingan
silih berganti bertandang ke rumahnya. Dari para kuli tinta,
pemerintah setempat, LSM, hingga para wisatawan yang penasaran ingin
kenal lebih dekat sosok kuncen Merapi itu.

Nampaknya Mbah Marijan sudah terdzalimi. Ia jatuh sakit lantaran sibuk
melayani tamu sehingga hanya sempat satu kali untuk makan. Tak banyak
asupan makanan, sementara energinya teramat banyak keluar. Mbah
Marijan pun merinding, mengeluh tubuhnya tak sehat. Dokter pun
dipanggil untuk memeriksa kondisinya. Tim ACT dan Lazis UII yang
membawa dokter tersebut ke rumahnya sempat berpikir, kondisi sakit
Mbah Marijan ini bisa menjadi `skenario` untuk membawa Mbah Marijan
turun gunung. "Kondisinya sudah membaik, tak perlu dibawa ke bawah,"
ujar dokter yang memeriksa. Skenario pun dibatalkan, tak manusiawi
memaksakan kehendak dengan memenggal keyakinan seseorang.

Secara fisik Mbah Marijan memang sudah membaik. Tapi ada yang belum
terehabilitasi di diri lelaki tua yang sangat religius itu. Adalah
pemberitaan berbagai media tentang sosok juru kunci Merapi ini. Hampir
semua stasiun televisi dan media cetak tak henti memberitakan sosok
Mbah Marijan sebagai tokoh klenik, memiliki ilmu sakti, tak bedanya
dengan dukun dan paranormal, dan embel-embel mistik lainnya. Tentang
keteguhannya tak ingin turun pun dijadikan sasaran berita hangat para
kuli tinta. Yang diberitakan bukan sisi manusiawinya, bukan pula
tentang keteguhannya memegang amanah dari Sri Sultan HB ke-IX untuk
menjaga Merapi sebaik-baiknya. Berita tentang dirinya, seringkali
bernada minor.

Tayangan demi tayangan tentang Mbah Marijan yang negatif di berbagai
media, memicu `wisatawan' untuk berkunjung ke rumah kuncen Merapi itu.
Setiap hari rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan `orang-orang mau
tahu' dan dengan polosnya bertanya, "Mbah sebenarnya Merapi kapan akan
meletus?" sebuah pertanyaan dari orang-orang yang mengaku
berpendidikan. Berbekal pendekatannya kepada Sang Penguasa langit dan
bumi, lelaki bertubuh pendek yang lucu itu pun berucap, "jangan tanya
saya, tanyakan kepada Allah. Dia yang mengatur semua, Gusti Allah yang
punya kehendak".

Kasihan sekali Mbah Marijan. Lelaki renta berusia 80an itu kerap
dikenal sebagai orang sakti yang selalu berhubungan dengan para
penguasa Gunung Merapi sehingga dianggap tahu kapan waktunya Merapi
meletus. Keteguhannya untuk tidak mau turun gunung seringkali ditulis
sebagai salah satu bentuk kesaktiannya, dan parahnya tak jarang dia
dituduh mempengaruhi warga sekitar lereng Merapi untuk tak mengungsi.
"Warga kalau mau ngungsi ya ngungsi saja, saya tak pernah
melarangnya," aku Mbah Marijan.

Sesungguhnya, ia lelaki shalih yang terus menerus mendekatkan diri
kepada Sang Khalik. Datanglah kepadanya, dan lihat langsung sosok
sebenarnya. Jangan pernah percaya berita yang menggambarkan profilnya
yang aneh dan jauh dari kesan agamis. Sungguh, kami memang baru
mengenalnya. Tapi yang kami dapatkan tentang Mbah Marijan hanya satu
hal; ia lelaki shalih yang teramat sederhana.

Seorang teman pun mendapat nasihat darinya, "Kamu itu harus sering
melihat ke bawah, jangan ke atas. LIhat nih Mbah, hidupnya seperti
ini. Kasih tahu teman-teman yang hidupnya berlebih, contoh Mbah yang
sederhana ini," sambil memperlihatkan gajinya dari Keraton yang cuma
Rp. 5.800,-

Doa kami pun terpanjat, semoga Merapi tak membuatnya semakin
terdzalimi. Ia memang sakit lantaran terlalu lelah. Tetapi sebenarnya
ia lebih sakit dengan pemberitaan tentang dirinya yang tak benar.
(Bayu Gawtama)








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

Indonesia Sadar Zakat
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
   http://groups.yahoo.com/group/sadarzakat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
   [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
   http://docs.yahoo.com/info/terms/




Kirim email ke