Ass.Wr.Wb.
 
Kegelisahan P.Agus saya kira merupakan kegelisahan kita semua atau refleksi dari kegelisahan kita semua!
Seperti halnya bahwa setiap berangkat bekerja saya selalu jalan kaki melewati jalan arah Al-Furqan dan nyata sekali bahwa Ar-Royyan "dimakan" oleh rumah besar yang berada persis di sampingnya. Saya kira akan ada 2 pertanyaan : 1). siapa pemilik rumah besar itu; 2). bagaimana positioning Ar-Royyan dengan pemandangan yang saya sebut di atas.
 
Dalam urusan sosial, saya akan menganggap "berlebihan" kalau seseorang itu hanya sekedar bertindak sebagai PENGAMAT. Sekali lagi PENGAMAT!!! Artinya, tidak bisa atau tidak "fair" seseorang akan menilai dengan serta merta lantaran dia memberikan infak yang seribu-dua ribu atau katakanlah "hanya" seratus-dua ratus ribu. DAKWAH BUTUH "ANFAL" DAN "ANFUS" --> materi dan non-materi.
Kita memang perlu mengapresiasi seberapapun sumbangan (baca: infaq) yang diberikan jamaah. Tapi, kepedulian dengan menerjuni langsung bagaimana Ar-Royyan mengelola program dan pembiayaannya jauh lebih bermanfaat tidak saja buat organisasi tapi juga jamaah dan masyarakat luas. Jadi, kedewasaan dalam bermasyarakat dan berjamaah perlu senantiasa diasah.
 
Di sisi lain, bukan berarti saya sebagai salah satu pengurus ingin membela diri, transparansi pengelolaan dalam bentuk pelaporan kegiatan, menurut saya, cukup memadai meskipun harus tetap ditingkatkan! (Perhatian: Yang belum buat laporan kegiatan agar segera membuat!). Artinya, laporan yang "customized" bagi para "stake-holder" sudah diusahakan semaksimal mungkin dilaporkan.
 
Uraian di atas mungkin bersifat subjektif dari sisi internal pengurus dan pertanyaan sesungguhnya sebenarnya adalah : "apakah jamaah umum sudah sependapat dengan hal di atas? apa yang bisa dibuat untuk pembuktian?" Dan, kalau saya ingin jujur berkata bahwa ini antara lain dikarenakan SURVEY KEPUASAN JAMAAH tidak pernah diedarkan lagi semenjak -- maaf -- saya tidak di RD lagi. Untuk itu, mungkin perlu dibuat TEAM untuk membantu Bidang RD membuat lagi survey yang pernah beberapa kali dibuat yang tujuannya untuk menampung MASUKAN entah itu penilaian, harapan maupun tuntutan dengan penekanan akan perlunya partisipasi-aktif jamaah dalam bentuk terjun langsung ke dalam pengelolaan/kepengurusan.
 
Jika kita sepakat adanya PR yang terakhir ini, saya yakin 4 hari libur besok tidak akan disia-siakan untuk tidak membahasnya. Saya masih selalu ingat bahwa pendirian masjid Ar-Royyan yang dulu berupa/berstatus "musholla" tidak diawali dengan pertanyaan : "apakah jamaah punya uang?" tapi diawali dengan spirit / semangat bahwa "jamaah perlu tempat untuk shalat-berjamaah". Dan harapan sekarang dan ke depan sebenarnya adalah implementasi "berjamaah" dalam arti yang sesungguh-sungguhnya dan seluas-luasnya.
 
Wassalam / Jaerony.- 
 
----- Original Message -----
Sent: Monday, May 22, 2006 9:32 AM
Subject: [DKM-633] Masjid Arroyyan, Website Arroyyan dan Rumah seorang Warga

assl.wr.wb.
 
Maaf jika tidak berkenan. Sengaja diposting ke milis dkm saja.
Saya melihat perbandingan antara Masjid Arroyyan, Website Arroyyan dan Rumah seorang warga ( masuk RW berapa ya ? ).
Mungkin akan tidak percaya, jika mereka yang melihat situs Masjid Arroyyan ( yang bersifat internasional ), tetapi masjid nya masya Alloh ... ( sengaja tidak diteruskan ). Sayangnya gambarnya tidak memperlihatkan kondisi area yang nantinya ingin dijadikan hall serba guna. Gambar ini saya peroleh dari pak Agus Sujadi via hp yang saya minta ( order ).
 
Kalau memang tidak segera diadakan pembangunan masjid sesuai proposal ( mudah-mudahan sudah masuk website arroyyan ) sedangkan penggalangan dana donatur via Widji akan segera dijalankan. Apakah akan tidak menimbulkan 'maaf' fitnah buat pengurus (termasuk saya). Sebagai contoh saja, ketika beberapa hari yang lalu hari Jum'atnya libur, sholat Jum'at membludak termasuk pak Roziqin hampir tidak kebagian tempat. Setelah kebagian ternyata ditakdirkan Alloh hujan lebat (sedangkan sholat Jum'at baru melangsungkan khotbah Jum'at).
Bisa dibayangkan keadaannya.
 
Apakah karena ramalan pak Djarot sehingga tidak segera dihimpun secara intensif penggalangan dana ( termasuk kupon yang sepertinya belum berjalan ) ? Kalau memang seperti itu, bukankah berarti kita percaya ramalan tersebut. Trus bagaimana dengan hukum mempercayai sebuah ramalan. Bukankah sholat kita tidak diterima selama 40 hari. Apalagi do'a kita . Wallahu 'alam.
 
Sengaja hari ini tidak berkeinginan posting ke milis arroyyan, agar diskusi mengenai masalah ini berjalan ( mudah-mudahan Bapak-bapak tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini ).
 
Kalau memakai perbandingan dengan total 10, bisa diambil angka sbb :
Website Arroyyan ( 6 )
Rumah seorang warga ( 3 )
Masjid Arroyyan (1)
 
Tidak percaya ? Coba saja lihat masjid Arroyyan (terutama sekali kalo dari sekolah Nurul Furqan).
 
--------------------  maaf delete ------------------------
 
Akhirul kalam.
wassl.wr.wb.
 
Agus Rasidi
salah seorang pengurus masjid

Kirim email ke