Memperbaiki Pola Konsumsi Rumah Tangga

MENINGKATNYA konsumsi masyarakat, didukung pula oleh kebiasaan yang berkembang menjadi budaya tertentu menyambut Ramadan. Kata Dr. Munandar Sulaeman, Ketua I bidang Kegiatan Ilmiah Ikatan Sosiologi Indonesia Wilayah Jawa Barat, "Budaya munggah, rantangan, dll. telah menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita dalam menyambut dan memeriahkan datangnya bulan suci Ramadan."

Bila kebiasaan ini dilakukan hampir di setiap daerah tak hanya di Jawa Barat (budaya Sunda -red), tentu saja kebiasaan ini mendorong satu keluarga untuk belanja lebih di saat yang hampir bersamaan di berbagai daerah yang mayoritas penduduknya Muslim. Dorongan inilah yang kemudian menimbulkan permintaan terhadap barang dan jasa menjadi lebih tinggi dari hari-hari biasanya.

"Intinya, masyarakat ingin menghormati Ramadan. Bila sudah berkaitan dengan ritual, aspek rasional dikesampingkan. Walaupun sebenarnya ketika dipahami maknanya, budaya yang berkembang bukan tanpa latar belakang yang jelas. Budaya munggah dan rantangan misalnya, tujuan utamanya mensucikan hati, supaya menjalani shaum dengan baik dan ibadahnya diterima. Meminta maaf sebelum menjalani shaum direfleksikan dengan saling memberi dalam budaya rantangan," kata Munandar.

"Tapi memang tak sedikit pula yang menafsirkan bukan ke substansial agama, namun lebih pada budaya. Bulan penuh berkah diidentikkan dengan penuh makanan. Selain itu, bentuk kepedulian pada masyarakat sekarang juga sudah bergeser perhatiannya ke keluarga inti yang justru lebih konsumtif," ujarnya.

**

MENURUT Dr. Rina Indiastuti, S.E., MSIE, Ketua Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan Unpad, peningkatan permintaan terhadap barang-barang dan jasa juga ada hubungannya dengan perilaku membeli masyarakat yang tidak rasional, lebih didorong oleh rasa emosional dan adanya dorongan kejiwaan (psikologis).

Dan entah mengapa, menjelang dan saat bulan Ramadan banyak orang kemudian punya uang lebih untuk belanja. Mungkin atas hasil kerja keras, namun pada karyawan shock money (uang kaget) sangat jarang dialami, kecuali THR yang jumlahnya juga terbatas.

"Shock money hanya akan terjadi bila melakukan korupsi. Dikaji secara ekonomi, korupsi sangat mengganggu keseimbangan sistem perekonomian secara keseluruhan. Contoh kecil pada keseimbangan harga pasar, dengan hadirnya uang di luar anggaran di rumah tangga akan mendorong seseorang untuk konsumtif. Ini karena daya belinya lebih besar dan anggaran yang diterima di luar rencana, atau tidak terpola berdasarkan anggaran penghasilan mereka yang biasanya rutin didapat," ujar Staff for Academic Affair Doctoral Degree in Business Management Unpad.

Sebenarnya korupsi tidak hanya secara ekonomi, karena bisa juga dilakukan dengan bentuk lain yang ujung-ujungnya berdampak pada menghasilkan uang. Apakah korupsi waktu dengan mengambil jatah waktu kerja kantor dan menjalani bisnis sampingan, korupsi wewenang, korupsi tarif, korupsi administrasi, dll. Memang ironi bila ada sebagian orang yang untuk menjalani shaum dan merayakan Lebaran secara semarak acap kali membutakan mata dan hati dari kebenaran. Mereka ada yang berlomba-lomba mendapatkan uang untuk merayakannya. Tak peduli, apakah cara yang ditempuh sesuai dengan sucinya bulan Ramadan atau tidak.

Pada hakikatnya, belajar ekonomi berarti belajar menyiasati keterbatasan sumber daya yang ada. Jadi, sebenarnya bukan alasan bila penghasilan seseorang terbatas kemudian mengabaikan aspek-aspek perencanaan yang baik.

Konsumsi rumah tangga merupakan variabel yang sangat memengaruhi keseimbangan sistem ekonomi secara makro. Untuk itu, sebaiknya memperhatikan pola konsumsi yang baik dengan melakukan:

1. Preferensi konsumsi yang baik. Setiap rumah tangga (keluarga -red) harus cermat dalam menentukan prioritas belanja mereka. Hindari belanja kagetan, apakah karena terpicu oleh rumor harga akan naik atau belanja sesuatu yang belum saatnya dibeli namun disegerakan, dengan dalih "aji mumpung".

2. Buatlah selalu catatan, sehingga belanja sesuai dengan apa yang dibutuhkan, bukan hanya keinginan emosional. Biasakan membuat anggaran belanja keluarga, minimal per bulan dalam 1 tahun.

3. Ekspektasi jangka panjang terhadap keuangan.

4. Untuk meningkatkan utilitas atau kepuasaan dalam mengonsumsi sebaiknya menekankan pada variasi atau kombinasinya, bukan menambah jumlah kuantitasnya atau item yang dibeli bertambah.

Idealnya, setiap keluarga tanpa terhalang status dan kelas sosial memiliki budaya konsumsi dan cara pengelolaan keuangan yang baik. Kata Munandar, tidak perlu pesimis dulu bila lingkungan masyarakat pada umumnya tidak mendukung, sehingga terjadi benturan. Nilai-nilai yang tertanam pada pola asuh di keluarga masih menjadi benteng pertama dan yang paling kuat bila proses pendidikannya dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Memuliakan Ramadan tidak harus membuat kebiasaan yang pada akhirnya menyengsarakan diri. Percayalah tidak ada agama yang mau menyulitkan umatnya.***

sumber : pikiran rakyat online

Kirim email ke