headline news : Terjadi gempa berskala 6 Richter di Papua dan skala ringan di Padang.
 
----------------------------------------------------------------------------------------
 
Editorial Media Indonesia :
 
Negeri Rawan Gempa
 

NEGERI ini rawan gempa. Negeri ini pun rawan gunung berapi. Tetapi, celaka tiga belas, negeri ini memilih bersikap reaktif, yaitu baru heboh setelah malapetaka terjadi.

Statistik dalam rentang waktu yang panjang, lebih 100 tahun (1900-2004), menunjukkan telah terjadi 212 kali gempa bumi di negeri ini. Artinya, rata-rata tiap tahun terjadi dua kali gempa bumi.

Indonesia memiliki 130 gunung berapi yang masih aktif. Sebanyak 79 gunung berapi dipantau terus-menerus. Satu di antaranya ialah Gunung Merapi yang sangat aktif, bahkan sekarang dikategorikan dalam status awas.

Masyarakat Yogyakarta di sekitar gunung itu sebelumnya diminta mengungsi gara-gara ancaman meletusnya Gunung Merapi, tetapi tanpa diduga, yang terjadi justru gempa bumi. Tak bisa dibayangkan, seberapa parah akibat yang timbul bila dua malapetaka itu serentak terjadi di Yogyakarta.

Setelah tsunami meluluhlantakkan Aceh, sesungguhnya telah muncul suara agar masyarakat diberi tahu perihal ancaman gempa yang bisa terjadi di negeri ini. Tidak hanya gempa, tetapi ancaman tsunami, karena tsunami juga sering terjadi di kawasan Samudra Pasifik dan juga Samudra Hindia. Sebagai gambaran, dari 212 kali gempa yang terjadi di Indonesia 86 kali menimbulkan tsunami.

Sudah jelas, Kepulauan Indonesia rawan bencana. Namun, fakta geologis itu tak pernah disosialisasikan dengan benar kepada warga. Pemerintah tidak pernah berpikir memasukkannya ke pelajaran di sekolah, apalagi membuat model rumah tahan gempa dan kemudian mendorong masyarakat untuk menerapkannya sebagai rumah tinggal.

Sesungguhnya mengantisipasi jauh lebih baik ketimbang heboh setelah malapetaka terjadi. Oleh karena itu, pemerintah harus berani membangun dan memelihara sistem peringatan dini sekalipun mahal harganya. Yang sekarang terjadi ialah membiarkan Badan Meteorologi dan Geofisika dengan fasilitas yang minim. Jangan-jangan, alat yang standar seperti seismograf pun tak mencukupi.

Yang juga penting dikembangkan ialah ketangguhan dan kecanggihan manajemen penanggulangan korban akibat bencana. Buruknya koordinasi, misalnya, kembali terjadi di Yogya. Kota itu gampang dijangkau, karena itu bantuan makanan dapat tiba dengan cepat. Akan tetapi, koordinasi sangat buruk. Bantuan tidak segera sampai kepada yang membutuhkan, karena dililit birokrasi. Yaitu, bantuan untuk provinsi melalui gubernur, sedangkan untuk Kabupaten Bantul melalui bupati. Keterlaluan, bahwa dalam penderitaan itu birokrasi menjadi lebih penting. Akibatnya, sekalipun bantuan datang, ribuan korban dua hari dibiarkan kelaparan.

Negeri ini rawan gempa, yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Dan tak dapat dihentikan. Karena itu, kewaspadaan nasional harus selalu dipelihara dan digalakkan. Warga harus disiapkan untuk menghadapinya.

Kirim email ke