Farid Gaban <wartawan senior> wrote:
Ada banyak cara untuk menunjukkan ketidaksetujuan kepada Amerika dan Israel.
Tapi, dari banyak cara itu, boikot mungkin hanya satu-satunya cara yang
paling sederhana yang bisa dilakukan semua orang, sekarang juga.
Sudah beberapa pekan terakhir ini, setelah agresi brutal Israel di Gaza dan
Lebanon, istri saya mengingatkan anak-anak untuk tidak lagi beli Fanta dan
Coca Cola dengan uang sakunya, atau coba makan di McDonald's. "Ingat
anak-anak di
Palestina dan Lebanon," katanya.
Saya terus terang terpengaruh dan menyetujuinya untuk mulai melakukan
boikot. Saya rela untuk tidak memakai sampho atau sabun buatan perusahaan
Amerika kesukaan saya. Bagaimanapun ini hanya pengorbanan yang sangat kecil.
Dulu waktu kecil saya memakai merang bakar untuk membersihkan rambut, kenapa
sekarang tidak bisa?
Saya setuju boikot itu tidak hanya karena alasan membela Palestina dan
Lebanon, tapi untuk kepentingan Indonesia sendiri juga, yakni memperkecil
tingkat konsumsi dan ketergantungan negeri ini terhadap barang asing,
termasuk barang-barang yang bahkan sebenarnya tidak perlu. Dan bagi kocek
keluarga, ini juga cara berhemat yang efektif.
Meski tidak terlalu sering ke Starbuck', kini saya akan berhenti minum di
situ. Saya akan memperbanyak minum kopi dan makan di Warung Teteh, warung
masakan Sunda depan kantor Pena.
Saya tidak akan mengisi bensin sepeda motor saya di pompa bensin milik
Shell. Memilih Pertamina atau Petronas saja.
Saya agak heran bahwa Ketua NU Hasyim Muzadi dan mantan Wakil Presiden
Hamzah Haz justru menghimbau agar warga Muslim tidak melakukan boikot,
karena boikot, katanya, hanya akan merugikan Indonesia.
Boikot ekonomi itu akan memiliki dampak bagi ekonomi Indonesia sendiri,
terutama jangka pendek. Tidak perlu dipertanyakan. Tapi, dampaknya sangat
kecil jika kita mengalihkan konsumsi ke barang-barang sederhana yang
diproduksi orang Indonesia sendiri. Justru akan menggerakkan sektor riil
seperti Warung Teteh.
Dalam jangka lebih panjang, jika dibarengi dengan semangat kemandirian, ini
akan jauh menguntungkan. Kita justru akan memperkecil devisa yang lari ke
luar negeri.
Saya tahu Bambang Rahmadi, seorang muslim, akan rugi jika kita boikot
McDonald's, tapi mudah-mudahan tanpa harus diboikot dia mulai melepas
lisensi dan beralih pada jaringan restoran lokal bikinan sendiri. Banyak
karyawan muslim juga akan menganggur. Ini bagian dari pengorbanan. Jika
semua masjid mengabarkan berhenti membeli di McDonald's dan beralih ke
restoran lokal, maka
dampaknya pada pengangguran mungkin bisa dikurangi. Ingat swadesi-nya
Mahatma Gandhi 'kan? Meski sekarang zaman globalisasi, saya tidak menganggap
idenya telah usang dan tidak bisa diterapkan sekarang.
Ajaran Gandhi adalah ajaran radikal yang damai dan sederhana. Dan di situlah
justru letak keindahannya. Setiap orang, kaya atau miskin, JIKA MAU, bisa
melakukannya.Masalahnya hanyalah JIKA MAU, tidak lebih kompleks dari itu.
Dan ini tidak perlu aturan. Yang perlu adalah KESADARAN dan MOTIF KUAT
kenapa kita melakukan seperti yang Gandhi lakukan.
Mungkin saya tidak bisa seperti Mahatma Gandhi, yang menenun baju sendiri
dan hanya berpakaian ala baju ihram itu, ketika dia melawan kolonialisme dan
kebrutalan Inggris di India. Tapi saya akan memulainya. Bagaimanapun kita
bisa mulai dari hal-hal sederhana, hal-hal kongkret yang bisa dilakukan
ketimbang hanya bicara dan berdiskusi.
Saya tahu, dalam situasi sekarang jelas sangat sulit untuk menunjuk satu
benda yang murni Amerika atau Israel. Tapi, boikot dengan tujuan politik
memang tidak perlu konsisten (harus semua produk, dan harus benar-benar
jelas). Tujuannya adalah tekanan ekonomi-politik. Sisanya adalah simbol
perlawanan, yang juga
penting.
Sebagai awal, saya akan memilih boikot produk konsumsi, bukan barang
produksi, seperti komputer. Bukan pula barang intelektual/seni/budaya
seperti buku, VCD, film dan sejenisnya. Saya juga akan memilih boikot
barang-barang yang ada substitusinya di sini. Dan mudah-mudahan pula kita
akan makin bersemangat mencari substitusi dari produk imporan, yang
sebanarnya ada banyak meski
tidak semua barang ada buatan Indonesia.
Mungkin boikot itu tidak ada artinya, dan mungkin tidak ada pengaruhnya.
Tapi, sekali lagi, ini hanya satu-satunya cara yang kongkret bisa dilakukan
setiap orang.
Saya teringat Mahatma Gandhi yang tidak banyak pretensi itu justru
menjadikan dirinya senjata paling digdaya, lebih dari cendekiawan dan
politisi kaya, baik Muslim maupun Hindu, dalam perlawanan menentang
kebrutalan kolonialisme
Inggris.
Ketimbang hanya diskusi, kita perlu bertindak kongkret. Mungkin tidak
efektif, namun jika dijalankan secara lebih massif dan bertahan lama,
mungkin di tengah jalan kita akan menemukan cara yang lebih efektif untuk
menekan Amerika
dan Israel.
Saya akan mulai.... dari diri sendiri. Mungkin tidak konsisten benar...
mungkin tidak semua jenis barang... Oke saja, saya akan memaafkan diri,
untuk sementara, ketidakberdayaan saya melakukan bahkan hal yang sangat
sepele: berhenti mengkonsumsi barang Amerika. Yang penting mulai melakukan,
bukan hanya berpikir dan berdiskusi.
Saya juga melihat gejala yang sama: aksi boikot berkali-kali muncul tanpa
memberi dampak. Tapi, mungkin lebih bagus jika kita memilih untuk bersikap
produktif bagaimana membantu secara kongkret agar itu lebih efektif, bukan
mencibir... "ah...paling cuma segitu...." Very discouraging.... Ini
sebenarnya tidak hanya berlaku untuk simpati kita pada Palestina atau
Lebanon. Salah satu krisis terbesar negeri ini, menurut saya, justru karena
kita terlalu banyak bicara, tapi tergagap
ketika harus melakukan sesuatu yang kongkret, apalagi secara kolektif.
Beberapa orang menganggap tindakan kongkret kecil-kecilan terlalu sepele,
mereka ogah melakukannya, atau mencibir orang yang melakukannya. (Paling
cuma segitu....). Hal-hal besar disusun dari hal-hal kecil.
Dalam hidup sehari-hari saya lebih suka "menyalakan lilin ketimbang mengutuk
kegelapan". Dan kadang menyalakan lilin secara harafiah.... Masih ingat 'kan
ketika saya melakukan demo di Bunderan HI untuk perdamaian di Aceh? Dalam
satu pekan bahkan saya hanya sendirian membawa poster di situ. Saya tahu
orang lain menganggap itu sepele dan mungkin mencibir saya sebagai gila.
Tidak masalah... Pada kenyataannya saya sendiri memang menganggap itu hanya
pengorbanan kecil
saja. Itu mungkin lebih tepat menunjukkan betapa frustrasi saya, muncul dari
rasa ketidakberdayaan. Dalam situasi seperti itu, saya menganggap berarti
bahkan langkah yang paling sepele.... (saya membayangkan apa yang dilakukan
Gandhi pun
pernah dicibir sebagai sepele).
Jika Anda setuju pesannya, saya mengajak Anda juga bisa membantu aksi ini
boikot lebih efektif.
salam,
farid gaban
[EMAIL PROTECTED]
harispriyatna.multiply.com
http://hatigablas.blogspot.com/
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com