BREAKING THE WALL
Rabu, 09 Nopember
05 - oleh : MZ
Omar
Rapat sore itu agak sedikit muram. Sang Pimpinan membuka rapat
dengan banyak istighfar,Yah inilah konsekwensinya jika perusahaan kita ini
ingin berkembang. Kita harus berani ambil resiko seperti ini. Sekarang atau
tidak sama sekali! tegasnya.
Tapi bos, investasinya lumayan besar.
Bagaimana kita mengatasinya? rekan saya bertanya.
Kita berdoa saja kepada
Allah. Kita hanya berusaha tapi dia yang menentukan. Lagipula kita punya misi
untuk mendukung aktivitas ke-Islaman dari hasil usaha kita. Masak sih doa kita
tidak didengar katanya meyakinkan kami semua.
Iya Bos, kalau kita punya
modal cukup sih, tidak masalah. Persoalannya darimana dana sebesar itu harus
kita siapkan. Lagipula masih banyak proyek kita yang belum selesai. Wah..berat
sekali, Bos
.
Saya juga belum tahu. Tapi percayalah, kita sudah sering
ditolong oleh Allah disaat-saat genting. Mari kita perkuat keyakinan kita,
dimana ada kesulitan pasti ada kemudahan. Sang Bos berusaha menasehati dan
memberikan semangat.
Ternyata apa yang dikatakan Sang Bos benar-benar
terjadi. Keyakinannya menjadi kenyataan. Semua persoalan dilalui dengan sangat
berat, tapi semua itu berganti menjadi kemudahan karena keyakinannya.
Itulah sepenggal cerita dari seorang rekan saya yang bekerja di sebuah
perusahaan yang sedang berupaya keras mempertahankan dan mengembangkan
bisnisnya. Sebuah langkah yang fenomenal diambilnya, bayangkan dalam kondisi
perusahaan yang sedang sulit saja, dia tetap mengambil keputusan beresiko tinggi
tanpa ragu sedikit pun. Dia sebenarnya sedang menantang dirinya untuk melakukan
hal diluar batas kemampuannya. Keberanian yang patut diacungi jempol. Saya yakin
dia adalah salah seorang pebisnis tangguh yang akan membawa perusahaannya menuju
kesuksesan.
Saya jadi ingat dengan kata-kata yang dibuat oleh Reza
Syarief seorang supertrainer: Never put any limitation at your start, but if you
have done you know your limit. Kita tidak pernah tahu sejauh mana keterbatasan
yang kita miliki, hingga kita mencobanya. Banyak orang yang memiliki kemampuan
mengagumkan tapi hidupnya tidak beranjak maju disebabkan dia tidak pernah
mendobrak tembok keterbatasan dirinya. Ada seorang sahabat dekat punya kemampuan
seni luar biasa. Dia mampu melukis, mencipta lagu dan wajahnya lumayan ganteng.
Tapi ternyata ketika ditanya kenapa sampai saat ini dia belum juga menikah,
jawabannya seribu satu alasan dari mulai dari ekonomi yang belum mapan sampai
urusan mental yang belum siap. Padahal jika mau, dia pasti mampu.
Keterbatasan yang melingkupi kita disebabkan oleh cara pandang kita
terhadap kehidupan yang sudah terlanjur terkotak-kotak. Waktu kuliah di kampus,
kita ditempatkan pada ruangan yang berbeda sesuai jurusan pilihan kita. Sehingga
ketika lulus kita hanya mempunyai sudut pandang dari apa yang kita pelajari.
Rumah tinggal kita di bangun atas ruangan-ruangan sehingga mempersempit
pandangan kita. Akhirnya membuat kita menjadi orang-orang dengan fikiran sempit.
Padahal dunia ini terhampar luas tanpa batas, coba anda tengok ke langit.
Subhanallah seakan tanpa batas.
Lantas, bagaimana caranya mendobrak
keterbatasan cara berfikir kita? Kenali dirimu maka kau takkan terkalahkan.
Kenali lawanmu maka tak ada lawan yang tak bisa dikalahkan, Demikian Tsun zu
seorang ahli strategi perang memberikan pandangan termasyhurnya tentang
memenangkan peperangan. Kuncinya ada di dalam diri kita sendiri. Mengenali
sisi-sisi kelemahan diri, mengakuinya kemudian menantangnya dengan
gebrakan-gebrakan kecil. Lalu mulai menfilter apa saja perkataan orang yang bisa
mempengaruhi pola fikir kita.
Buat apa begitu, kamu pasti gagal. Itu
susah tahu
Kamu kan lulusan teknik sipil, nggak mungkin jadi
pedagang?
Saya nggak mampu deh kalo diberi pekerjaan seperti itu
Jika boleh disimpulkan apa yang dikatakan sun Zu, pertama sekali yang
harus kita lakukakan adalah mengalahkan diri kita sendiri kemudian
mengoptimalkannya untuk mengenal siapa musuh kita. Sehingga setangguh apapun
musuh yang dihadapi maka kemenangan akan berada di tangan kita.
Rasulullah SAW ketika usai perang Badr mengatakan,Kita baru
meninggalkan jihad kecil, menuju jihad besar. Para sahabat yang mengalami
sendiri begitu besarnya perang Badr terheran-heran mendengarkan pernyataan ini.
Nabi pun menjelaskan jihad yang paling besar adalah jihad untuk menundukkan hawa
nafsu.
Kalau saja apa yang dilakukan oleh bos teman saya itu semata
hanya dilandasi oleh hawa nafsu, tentu sulit membayangkan dia akan dapat
mengobarkan semangat kepada para karyawannya untuk terus maju membangun
bisnisnya. Sulit juga dimengerti kenapa ia mengambil keputusan seperti itu.
Menggarap proyek tanpa dukungan modal yang memadai. Bagaimana kalau gagal?
Bukankah lebih aman jika menyelesaikan proyek yang masih belum selesai?. Tapi
pilihan-pilihan mudah dan enak itu dia abaikan. Filosofi Breaking The Wall yang
ditunjukannya berakar dari pemahamannya akan keterbatasan yang dimilikinya
kemudian dia mendobraknya dengan keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini
jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jadi kapan
giliran kita?.
sumber : Institut Kemandirian