Kompos, Salah
Satu Jalan Keluar Problem Sampah
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sampah rumah tangga, menyumbang tidak
sedikit dari sekitar 6000 ton total produksi sampah per hari di ibukota Jakarta.
Jika setiap rumah mampu mengelola sampahnya dengan baik, akan sangat membantu
mengatasi problem sampah di Jakarta. Caranya?
Peneliti dan ahli
lingkungan Badan Pengkajian dan Pengembangan Tekhnologi (BPPT) Henky Sutanto
mengatakan sebenarnya sampah rumah tangga bisa diubah menjadi kompos yang
berguna untuk tumbuh-tumbuhan di pekarangan rumah sendiri.
Sampah basah
(organik) bekas makanan-atau minuman sehari-hari dipisahkan dari sampah kering
(anorganik) seperti kaleng, plastik, kertas. Sampah basah itu kemudian ditumpuk
dalam sebuah lubang kecil di pekarangan rumah. Dalam jangka waktu tertentu
bagian paling bawah dalam tumpukan tersebut bisa diangkat kemudian ditebarkan ke
tanaman sebagai pupuk kompos.
Pengolahan sampah menjadi kompos, yang
bisa dimanfaatkan memperbaiki struktur tanah, untuk meningkatkan permeabilitas
tanah, dan dapat mengurangi ketergantungan pada pemakaian pupuk mineral
(anorganik) seperti urea. Selain mahal, urea juga dikhawatirkan menambah tingkat
polusi tanah. Ada juga cara lain untuk mengurangi volume sampah. Dengan cara
dibakar. Tetapi pembakaran sampah menghasilkan dioksin, yaitu ratusan jenis
senyawa kimia berbahaya seperti CDD (chlorinated dibenzo-p-dioxin), CDF
(chlorinated dibenzo furan), atau PCB (poly chlorinated biphenyl).
Jika
senyawa yang berstruktur sangat stabil itu hanya dapat larut dalam lemak dan
tidak dapat terurai ini bocor ke udara dan sampai kemudian dihirup oleh manusia
maupun hewan melalui udara. Dioksin akan mengendap dalam tubuh, yang pada kadar
tertentu dapat mengakibatkan kanker.
Lalu, bagaimana dengan rumah dengan
pekarangan yang sempit ? Misalnya di kompleks perumahan. Menurut Henky hal yang
serupa bisa juga dilakukan dalam lingkungan kompleks. Sampah dari masing-masing
rumah dikumpulkan dalam satu lokasi di dalam kompleks, yang dikhususkan menjadi
Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sampah kering dan sampah basah dipisahkan.
Sampah basah kemudian ditumpuk. Dalam jangka waktu dua bulan, akan menjadi
kompos. Kompos itu, bisa dibagikan ke setiap rumah yang membutuhkan pengganti
pupuk untuk tanaman. Dengan begitu, persoalan samapah di lingkungan sekitar bisa
teratasi secara kolektif.
Fitri
Oktarini
|