|
Jumat, 20
Oktober 2006
Makin Berkualitas Usai Ramadhan Target final dari ibadah puasa yang diwajibkan Allah SWT kepada umat Islam, adalah mencapai predikat takwa, seperti yang termaktub dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 183:...semoga kalian menjadi orang yang bertakwa Menurut ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Kholil Ridwan, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan memberikan pengaruh yang besar sekali terhadap seorang Muslim. Kalau dia berhasil, ia menjadi seorang yang takwa yang sebenar-benarnya. Apa cirinya orang takwa? Kiai Kholil menyebutkan, alladziina yu'minuna bilghaibi wayuqimunasshalata wamimma razaqna hum yun fiqun. Orang takwa itu pertama beriman kepada yang ghaib, senantiasa mendirikan shalat, serta senantiasa menginfakkan sebagian harta yang diberikan Allah SWT kepadanya. ''Ini bukan zakat karena zakat itu hukumnya wajib kalau yang wajib itu sama nilainya antara seorang yang alim dengan yang awam, antara yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Nah, karena infak ini sunah, maka perlu kesadaran tinggi untuk memberikan sebagian hak orang lain yang ada di dalam hartanya,'' ungkapnya. Pimpinan Pesantren Al Husnayain Jakarta ini menyebutkan, dengan menjadi seorang yang takwa maka orang yang berhasil dalam melaksanakan ibadah puasa, dia akan peduli kepada fakir, miskin, dhuafa. ''Bahkan ada ayat lain yang menyebutan, orang takwa itu selalu menginfakkan hartanya di kala sempit maupun keadaan lapang. Artinya, orang yang berpredikat takwa dia mudah untuk berbagi. ujarnya. Menurut Kholil menjelaskan, predikat takwa yang dicapai seorang yang berhasil dalam menjalankan ibadah puasa ditandai dengan kepekaan sosialnya yang sangat tinggi. ''Ia bisa merasakan penderitaan orang lain, khususnya yang fakir miskin bukan hanya pada saat puasa. Tetapi justru setelah dia puasa. Itu sebabnya, puasa Ramadhan selalu ditutup dengan zakat fitrah. Zakat fitrah itu kan artinya peduli kepada orang lain yang tidak punya beras pada hari raya, ia menambahkan. Kiai Kholil melukisan, orang yang berhasil menjalankan ibadah puasanya kemudian meraih predikat takwa, orang tersebut ibarat seorang bayi yang baru keluar dari perut ibunya. ''Itu dari sisi pribadi karena dosa-dosanya diampuni. Orang takwa, kata dia, juga senantiasa memiliki keinginan untuk mengajak orang lain masuk surga, ia tidak ingin sendirian masuk surga. Surga itu kan tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Nah, surga dunia itu adalah bebas dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, penderitaan dan sebagainya. Orang takwa sangat peduli kepada oranglain. Ia tidak ananiyyun, tidak egois, tidak mau menang sendiri dan tidak mau bersenang sendiri. Pandangan yang sama diungkapkan Ustadz Ir Jamil Azzaini. Instruktur dan motivator dari Kubik Training Leadership ini menegaskan poin penting dari ciri orang yang bertakwa adalah harus peduli kepada orang lain. ''Peduli kepada orang lain itu artinya ia memberi manfaat kepada orang lain, dan tidak hanya memberi manfaat bagi dirinya sendiri. Orang takwa itu keberadaannya sangat berarti bagi orang lain,'' ujarnya. Jamil menjelaskan, dalam setiap bimbingan yang disampaikan Rasulullah SAW kepara para sahabat, tidak sekadar mengingatkan untuk meningkatkan amal ibadahnya, seperti memperbanyak shalat, zikir dan membaca Alquran, tapi bagaimana umat Islam meningkatkan kepeduliannya kepada orang lain, lebih peduli kepada fakir miskin dan dhuafa. ''Istilahnya kita tidak sekadar menjadi ahli ibadah tapi bagaimana kita juga harus menjadi seorang ahli manfaat,'' tutur Jamil. DR Ibdalsyah MA, Ketua Jurusan Magister Agama Islam Universitas Ibnu Khladun (UIKA) Bogor menjelaskan sifat dari takwa membias atau melekat di dalam diri seorang Muslim. ''Hal itu tercermin pada perilaku seorang Muslim yang bertakwa. Bila selama bulan suci Ramadhan sangat peduli kepada fakir miskin, ringan tangan untuk membantu orang yang berbuka puasa, maka seharusnya di luar bulan Ramadhan, ia akan semakin peduli lagi. Maka, apalah arti ibadah puasanya selama satu bulan penuh, bila setelah Ramadhan berakhir, perilakunya tak berubah. Hasil ibadah puasa itu tercermin pada perilaku dan sikap seorang Muslim setelah Ramadhan, jelas Ibdalsyah. Ibarat seseorng yang mengikuti latihan senam aerobik, setelah latihan selama satu bulan maka badannya menjadi lebih bugar. ''Begitu juga dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan, hasilnya akan membekas. Artinya, orang yang selama bulan Ramadhan baca Alqurannya rajin, setelah Ramadhan tambah rajin. Yang selama Ramadhan, rajin dan giat bersedekah, maka setelah Ramadhan tambah rajin bersedekah. Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam bukunya, Majelis Ramadhan, mengungkapkan di akhir bulan Ramadhan ini Allah telah mensyariatkan beberapa ibadah yang dapat menambah kedekatan kita kepada Allah, menguatkan iman, dan memperbanyak kebaikan. Salah satunya adalah zakat fitrah dan melafalkan takbir setelah sempurnanya hitungan bulan Ramadhan sejak tenggelamnya matahari pada malam Idul Fitri hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya: ''Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.'' Allah juga mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk melaksanakan shalat Ied pada hari raya Idul Fitri yang merupakan puncak dan kesempurnaan zikir kepada-Nya. Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk menunaikannya, baik laki-laki maupun perempuan. Dari Ummu Athiyah RA ia berkata: ''Rasulullah SAW menyuruh kami mengeluarkan anak-anak perempuan, orang-orang yang haid, dan wanita-wanita pingitan pada hari raya Fitri dan Adha. Wanita-wanita yang haid menjauhi tempat shalat dan menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Saya bertanya, 'wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab.' Beliau menjawab, 'hendaklah saudaranya mengenakan (meminjamkan) jilbab kepadanya.'' (HR Bukhari-Muslim). Bahkan sebelum berangkat menunaikan ibadah shalat Ied, disunnahkan untuk memakan beberapa buah kurma dengan hitungan ganjil seperti hadis nabi yang diriwayatkanAhmad dan Bukhari: ''Rasulullah SAW tidak pergi menunaikan shalat Iedul Fitri hingga beliau makan beberapa buah kurma dan beliau memakannya dalam bilangan ganjil.' 'Juga disunnahkan untuk pergi ke tempat shalat Ied dengan berjalan kaki, tidak berkendaraan kecuali ada uzur seperti lemah atau jaraknya jauh. Bagi kaum laki-laki disunnahkan untuk berdandan serta mengenakan pakaian yang paling baik. Adapun kaum wanita, hendaklah mereka pergi ke tempat shalat Ied tanpa bersolek, tanpa memakain wangi-wangian dan tidak menampakkan auratnya. Karena mereka diperintahkan menutup tubuhnya dan tidak boleh memamerkan perhiasannya ketika keluar dari rumah. Pada saat itu, disunnahkan untuk memperbanyak zikir dan doa kepada Allah, mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. dam (dam ) |

