HP Ivan Jadi Mbe... Mbe...
"HARI gini nggak punya handphone? Wah..., itu mah kata-kata iklan di
televisi dong. Iya juga sih, tapi itu juga yang sering dikatakan Ivan pada
ayahnya. Ivan yang udah kelas 6 SD itu sering kesel ama ayahnya karena
sampai segede itu, Ivan belum juga dibeliin handphone sama ayahnya. Padahal,
hampir semua temen Ivan di kelas, sudah punya handphone. Makanya, Ivan
sering menirukan kata-kata di iklan itu. Maksudnya, sekarang kan udah
zamannya anak-anak SD punya handphone, tapi Ivan belum punya tuh.
Trus, apa jawaban ayah Ivan ketika dua minggu lalu Ivan ngomong gitu lagi ke
ayahnya? "Dari pada dibeliin handphone, mendingan uangnya buat beli kambing
kurban aja," jawab ayahnya.
Hah..., kambing? Buat apa kambing? Buat dinaikin? Buat jaga rumah? Buat
disembelih terus nyate rame-rame? Ngapain lagi...? Seribu pertanyaan
berhamburan dari benak Ivan. "Eh, kalau mau makan sate kambing mah, beli aja
di pinggir jalan yang harganya cuma 8 ribu perak 10 tusuk," begitu kata Ivan
dalam hati. Ivan beraninya cuma dalam hati sih, karena Ivan tau kalau marah,
kesal, dan melawan sama orang tua itu kan nggak baik.
Tapi, karena Ivan ngomongnya cuma dalam hati, maka ayah Ivan menyangka Ivan
setuju-setuju aja kalau ayahnya ngebatalin lagi ngebeliin Ivan sebuah HP,
dan ayah Ivan pun mengira, Ivan OK-OK aja kalau uang untuk HP itu dibeliin
kambing kurban. Makanya, pas hari Kamis, tanggal 20 Januari kemarin, ayah
Ivan pulang dari kantor pake mobil bak terbuka, biasanya kan pake motor.
Dan, di belakang mobil itu, "mbe...., mbe...."
"Ya ampun!" Ivan kaget setengah mati. Ngapain ayahnya bawa kambing segala?
Kenapa gak beli sate kambing yang udah jadi aja? "Buat apa Yah bawa kambing
segala? Dapet hadiah dari kantor?" tanya Ivan begitu ayahnya turun dari
mobil bak terbuka itu.
"Kan besok Iduladha, Van. Artinya juga kita harus berkurban. Tahun ini kita
berkurban lagi satu ekor kambing. Ayah sangat berterima kasih sama kamu yang
sudah merelakan uang untuk handphone itu dibelikan kambing kurban. Artinya,
Ivan juga sudah berkurban," kata ayah Ivan panjang lebar.
O... ow... ternyata Ivan juga dianggap sudah berkurban. Maksudnya, sudah mau
berkorban menunda membeli HP untuk membeli hewan kurban. Tetapi, Ivan masih
tetap bertanya-tanya --masih dalam hati--, penting mana sih, membeli HP atau
membeli hewan kurban? Kenapa agama Islam menyuruh umatnya untuk berkurban
saat Iduladha setiap tahun?
Pertanyaan Ivan ini kayaknya juga sama ama pertanyaan sobat-sobat Percil
semua, 'ner kan? Masih banyak sobat Percil yang nggak ngerti, kenapa umat
Islam pake nyembelih hewan kurban segala setahun sekali? Bukankah kita harus
sayang sama binatang, dan tidak boleh menyakiti binatang, apalagi
membunuhnya? Kecuali untuk mempertahankan diri dari binatang buas, tentunya.
Ada yang bilang nih, hewan kurban yang disembelih itu buat kendaraan kita di
akhirat nanti. Jadi, kalau di dunia, kita punya mobil untuk kendaraan ke
sekolah, les, dsb., maka di akhirat, kita juga pengen dong punya kendaraan.
Nah makanya, biar sobat-sobat Percil ngerti apa dan bagaimana berkurban di
Hari Raya Iduladha itu, banyak sekolah-sekolah yang sengaja membeli kambing
atau sapi di Hari Raya Qurban. Hewan kurban itu dibeli dengan biaya dari
murid-muridnya. Patungan gitu loh. Jadi, sedikit uang yang kalian sumbangkan
ke sekolah-sekolah itu hanya untuk proses pembelajaran, bagaimana ritual
berkurban menurut agama Islam. Kecuali, kalau ortu kalian menyumbangkan
uangnya seharga seekor kambing atau sapi sesuai aturan, barulah namanya itu
berkurban. Sekalian belajar, sekalian berkurban juga kan! (Emka)***
sumber : Pikiran Rakyat Online
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com