|
Kompas, 9 November 2006
MENGGABUNGKAN AGROBISNIS DAN
AGAMA
"Waktu pertama kali mencoba memberdayakan
petani setempat, golok yang saya hadapi," kenang Pemimpin Pondok Pesantren
Al-Ittifaq KH Fuad Affandi (58). Ihwalnya, saat itu dia menganjurkan masyarakat
menanam tomat dan kubis. Tak disangka, harga kedua komoditas itu jatuh sehingga
membua petani murka.
Oleh : Dwi Bayu Radius
Mereka mendatangi pondok pesantren (ponpes) yang
berlokasi di desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
itu. Untunglah kemarahan petani dapat diredakan, tetapi Fuad sempat tertekan
atas kejadian tersebut. Meski demikian, tekadnya meningkatkan harkat dan derajat
hasil agrobisnis petani tak luntur.
Kini, Ponpes Al-Ittifaq menjadi salah satu penyalur
buah dan sayur untuk pasar swalayan besar di Jakarta, yaitu Hero, Makro dan
Giant. Adapun di Bandung, menurut Fuad, seluruh pasar swalayan menjadi
langganannya, seperti Yogya, Matahari dan Superindo.
Kapasitas produksinya sekitar 3,5 ton per hari,
satu ton dari lahan pesantren dan sisanya dari lahan 400 warga sekitar. Jenis
produk terdiri dari 26 sayur dan buah, antara lain tomat, wortel, bawang daun
dan selada.
Al-Ittifaq merupakan salah satu yang paling lama
menyalurkan sayur dan buah ke pasar swalayan besar, yaitu sejak tahun 1993.
Tentu pada awalnya ada kesulitan. Pengiriman pertama mengalami kegagalan. Fuad
kebingungan dengan istilah seperti grading (pengelompokan) atau
wrapping (pengepakan).
Fuad merasa kekurangan pengetahuan itu harus
menjadi tanggung jawab bersama, antara petani pemasok dan pasar swalayan.
Suryadharma Ali, kini Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah,
yang ketika itu manajer di Hero, lalu mengutus sarjana pertanian untuk mendidik
santri Al-Ittifaq selama tiga bulan dengan biaya dan peralatan yang ditanggung
Hero.
Akhirnya,barang dikirim dengan rapi dan kualitas
produkpun terjaga. Fuad, kelahiran Ciburial, Kabupaten Bandung, 20 Juni 1948,
itu mengungkapkan sedikit cacat saja pada produk yang ditawarkan, bisa membuat
Suryadharma marah.
"Dia sempat datang ke Al-Ittifaq beberapa kali,"
tutur suami Hj. Sa'adah dan ayah dari Neneng Ilan, Neti Hasanah, Reni, Isye
Zubaidah, dan Evi Fitrianti ini.
Generasi Ketiga
Ponpres Al-Ittifaq berdiri pada tahun 1934. Fuad
adalah pemimpin Al-Ittifaq generasi ketiga atau cucu dari sang pendiri, KH
Mansyur. Pada awalnya, boleh dikata ilmu pengetahuan ponpes "berjalan di
tempat". Para santri dilarang mengenal pejabat pemerintah. Media massa, seperti
radio dan televisi, dianggap haram. Fuad sendiri hanya bersekolah sampai kelas
empat setara sekolah dasar dan tidak berijazah.
Namun, dia berpikir, jika pola kehidupan seperti
itu terus dipertahankan, masyarakat setempat dan santri tidak akan maju. Tekad
mengangkat harkat santri dan masyarakat petani sekitar membuat Fuad mengubah
pemahaman tersebut.
Selama kepemimpinannya, sudah lebih dari 10 menteri
berkunjung ke Al-Ittifaq. Pengembangan usaha membuat Al-Ittifaq juga memiliki
peternakan untuk mencegah limbah sayur yang tidak memenuhi standar menjadi
mubazir dengan menjadikan limbah organik itu sebagai pakan ternak.
"Di Al-Ittifaq terdapat 300 santri, tidak ada yang
membawa beras. Semua dikaryakan. Silakan belajar, tetapi mereka juga harus punya
keahlian," paparnya.
Santri setingkat sekolah dasar mengurus budi daya
tanaman, ternak sapi dan kambing, serta kolam ikan. Pada tingkat sekolah
lanjutan tingkat pertama, santri mengelola gudang serta mengurusi pengepakan,
pemberian label, dan penyortiran. Sedangkan santri setingkat sekolah tingkat
lanjutan atas bekerja di bidang pemasaran.
Al-Ittifaq juga mampu membantu Pemerintah Kabupaten
Bandung dengan memperbaiki jalan-jalan di kampung sekitar pesantren, menyediakan
air bersih, dan menata gang-gang. Tahun 2001 Fuad menerima Satya Lencana
Wirakarya dari Presiden RI dan pada tahun 2003 meraih Kalpataru untuk kategori
Penyelamat Lingkungan. Tahun 2005 dia memperoleh penghargaan organisasi sosial
berprestasi.
Lintas agama
Berada di bawah naungan Departemen Agama, Ponpes
Al-Ittifaq juga mendapat dukungan dari Departemen Pertanian, Departemen
Pendidikan Nasional, Departemen Sosial, Departemen Perdagangan, serta
Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM.
Beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas
Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Institut Pertanian Bogor,
juga mengadakan kerja sama di bidang teknologi, penelitian, serta tesis dan
skripsi untuk mahasiswa.
HR Nuriana, mantan Gubernur Jabar, menyebut
Al-Ittifaq sebagai ponpes terpadu sebab menggabungkan ilmu agrobisnis dan agama.
'Al-Ittifaq' sendiri berarti kerja sama yang baik. Artinya, kata Fuad, bisnis
dan ilmu pengetahuannya bersifat lintas agama, seperti pada Juni 2006 sebanyak
11 warga non-Muslim dari Papua belajar manajemen agrobisnis di
Al-Ittifaq.
"Tidak akan ditanya agamanya apa. Saya juga
mengangkat asisten bidang teknologi pertanian yang beragama Katolik. Kerja
samanya di bidang ilmu pengetahuan," ungkapnya. Asisten itu mengajarkan cara
bercocok tanam seperti di Taiwan atau membuat pupuk seperti di
Belanda.
***************
|
[Ar-Royyan-5131] Menggabungkan Agrobisnis dan Agama
FPS Indonesia \(Jkt\) - Mr. Jaerony S Wed, 08 Nov 2006 20:31:59 -0800

