|
From: Perkataan 4 Oleh
: Al- Kiranya
sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian perkataan
mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan
bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain
mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta, dan bagi orang yang
berpegang teguh kepada madzab-madzab dan perkataan-perkataan mereka,
sebagaimana kalau madzab-madzab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit.
Allah Subhanahu Wa Taala, berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya.
Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)". (QS. Al-Araf :3) I. ABU HANIFAH Yang
pertama-tama diantara mereka adalah 1. "Apabila hadits itu shahih, maka hidits itu
adalah madzhabku." (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63) 2.
"Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk
berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami
mengambilnya". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqau fi Fadha
ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145) 3.
Dalam sebuah riwayat dikatakan: "Adalah
haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan
perkataanku". 4.
Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: "sesungguhnya
kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di
esok hari". II. MALIK BIN ANAS
2.
"Tidak ada seorang pun setelah Nabi
Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil
dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Salallhu Alaihi Wasallam".
(Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227) 3.
Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang
menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada
hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia
berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di
dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan
Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi
Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan
hadist kepada kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara
jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya
hadist ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku
mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk
menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya
Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33) III. ASY-SYAFII Adapun
perkataan-perkataan yang diambil dari 1.
"Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus
bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku
mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka
peganglah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku."
(Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3) 2.
"Kaum muslimin telah sepakat bahwa
barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa
Sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti
perkataan seseorang." (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.
68) 3.
"Apabila kamu mendapatkan di dalam
kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam, maka berkatalah dengan sunnah rasulullah Salallahu alaihi Wa sallam,
dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." Al-Harawi di dalam
Dzammul Kalam, 3/47/1) 4. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah
madzhabku." (An-Nawawi di dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57) 5.
"kamu ( 6.
"Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi
Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku
katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati."
(Al-Harawi, 47/1) 7.
"Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist
Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku
telah bermadzhab dengannya." (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash
Al-Muaddab) 8.
Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu alaihi wa sallam
terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi
adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku." (Aibnu
Asakir, 15/9/2) IV. AHMAD BIN HAMBAL 1.
"Janganlah engkau mengikuti aku dan
jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah
dari mana mereka mengambil." (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim
di dalam Al-Ilam, 2/302) 2.
"Pendapat AuzaI, pendapat Malik, dan
pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama,
sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar."
(Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149) 3.
"Barang siapa yang menolak hadits
Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di
tepi kehancuran." (Ibnul Jauzi, 182). Allah
berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya"
(An-Nisa:65), dan firman-Nya: "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi
perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih."
(An-Nur:63). Al-Hafizh
Ibnu Rajab berkata: "Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang telah
sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Sallam dan
mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasehati mereka dan
memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu
bertentangan dengan pendapat orang besar diantara umat, maka sesungguhnya
perintah Rasulullah salallahu alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk
disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun yang telah
bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara secara salah. Dan
dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap
orang yang menentang sunnah yang sahih, dan barangkali mereka telah berlaku
keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan dia
dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah Salallahu
alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi
setiap makhluk lainnya. Oleh karena
itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah selainnya, maka
perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi
oleh pengagungan terhadap orang yang bertentangan dengan perintahnya, walaupun
orang itu mendapat ampunan. Orang yang bertentangan itu tidak membenci apabila
perintahnya itu diingkari apabila memang ternyata perintah Rasulullah itu
bertentangan dengannya. Bagaimana mungkin mereka akan membenci hal itu,
sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya, dan mereka telah
mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan
dengan sunnah." (Di
sadur dari Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii SAW, karya Al- |

