|
Komentar:
Sekedar masukan saja, coba lihat harga-harga yang
ada di artikel bawah ini.
Pandainya mereka memanfaatkan kesempatan yang ada
dan .... "sim salabim" ... jutaan rupiah masuk kantong.
Wass / Jaerony.-
*********************************
Bisnis
Aglaonema Kian Laju Rabu,
01 Maret 2006 Sumber
: www.trubus-online.com Aglaonema
hasil silangan Gregori Garnadi Hambali itu tidak sendirian. Selain sepot di
atas, masih ada 4 pot widuri lain. Namun, keempatnya hanya dipaksa menghasilkan
5- 6 anakan sehingga kondisi induk tetap sehat. Dengan harga jual sama, berarti
Frans-sapaan akrab Fransiskus Wiratmahusada-memperoleh tambahan pendapatan
minimal Rp80-juta dari penjualan 20-24 anakan. Padahal pemilik nurseri Gama
Cactus di Semarang itu juga mencangkok bertingkat-begitu Frans mengistilahkan
cara perbanyakan aglaonemanya-hibrida turunan Aglaonema kochinensis asal
Aglaonema
terdiri atas 1 induk dan 11 anakan itu dicangkok menjadi 12 tanaman baru. Harga
jual anakan Rp5-juta per pot. Tambahan Rp60- juta kembali masuk kantong alumnus
Jurusan Lanskap Universitas Trisakti, Jakarta Barat, itu. Cara
serupa tapi tak sama ditempuh Ukay Saputra di Jakarta Barat. Pria yang gemar
mengumpulkan tanaman mutasi itu memborong 30 pot golden lipstik terdiri dari 6-7
daun dari Tiga
bulan kemudian, dari setiap pot muncul 2 tunas. Anakan terdiri atas 3-4 daun
siap dipisahkan 3-4 bulan kemudian. Setelah dirawat selama 4 bulan, anak-anak
manee lompetch-nama asli sri rejeki itu di
Kencang Sukses
dengan golden lipstik, Ukay pun mengkarantina golden red peacock, red hot chilli
pepper, princess noble, butterfly, joey alias manee daeng-sekadar menyebut
puluhan aglaonema asal Thailand yang tengah diperbanyak-di nurseri terpisah,
berjarak selemparan batu dari showroom. Setiap tunas yang tumbuh susul-menyusul,
berarti rupiah buat pria yang sudah hobi mengoleksi sri rejeki sejak awal
1990-an itu. Di
Semarang, Frans pun kian getol menggandakan anggota famili Araceae itu. Trubus
melihat, hampir tak ada tanaman dewasa yang utuh. Frans rela mencacah
aglaonema-aglaonema berharga total ratusan juta rupiah itu lantaran begitu
anakan siap dijual, pembeli sudah antre. Bisnis aglaonema sekarang sedang
kencang, tuturnya. Itu
pulalah yang dialami Indri Greg Hambali. Perempuan kelahiran
Untuk
widuri, misalnya, Ini sudah ada 60 pohon diinden. Mereka (calon pembeli, red)
berani membayar Rp1,5-juta per lembar, kata perempuan yang bersama sang suami
bahu-membahu menelurkan sri rejeki-sri rejeki anyar itu. Permintaan serupa
datang untuk tiara, hot lady, dan adelia-yang kini paling banyak diincar. Belum
lagi permintaan santi, JT-2000, petit, merah delima, dan diana. Kencangnya
tarikan bisnis tanaman yang dipercaya membawa hoki itu juga dirasakan pula oleh
Suhandono, Iwan Hendrayanta, dan Ansori di Jakarta Selatan, Harry Setiawan di
Jakarta Timur, Gunawan Wijaya dan Tri Rahmadi di Bogor, Yopie Joko Pramono di
Semarang, serta nurseri Yanti & Linda di Medan. Sekarang ini kalau ada 100
tiara pasti langsung ludes dalam sehari, ujar Suhandono menggambarkan kencangnya
pasar. Investor
Munculnya
pemain-pemain baru yang berani membeli tanaman-tanaman mahal jadi pemicu gairah
bisnis aglaonema. Sebut saja A Kiong di Jakarta. Penggemar anyar yang
tergila-gila pada sri rejeki itu rela membenamkan duit miliaran rupiah untuk 30
pot widuri dan 200-an pot adelia. Padahal harga widuri saat ini Rp1,5-juta per
daun; adelia, Rp350.000 per lembar. Masih
di ibukota, Sukardi dan Santi Pieters juga keranjingan mengumpulkan ratu tanaman
hias daun. Hampir setiap hari Santi menyambangi nurseri-nurseri penyedia
aglaonema. Kerapkali ia membeli jenis yang sama dengan koleksi di rumah lantaran
kondisi tanaman lebih bagus. Nun
di Pekanbaru, Riau, ada Hj Andriani Lubis kolektor aglaonema sejak 3 tahun
silam. Wanita 37 tahun itu memiliki minimal 400 pot terdiri atas ratusan jenis.
Aglaonema-aglaonema silangan Greg Hambali bersama jenis-jenis asal
Tak
heran, dengan stok terbatas, harga aglaonema-terutama silangan Greg
Hambali-meroket tajam. Pertama kali dilepas pada April 2004, widuri hanya
berbandrol Rp750.000 per lembar. Kini harga melonjak 2 kali lipat. Setahun silam
harga adelia Rp60.000 per daun, sekarang Rp350.000 per helai. Sementara hot lady
naik dari Rp900.000 per lembar menjadi Rp1,5-juta per helai dalam hitungan
bulan. Suhandono membeli tiara Rp750.000 per lembar pada Agustus 2004, kini
Rp1-juta per daun. Toh, para kolektor tak peduli, mereka tetap menginden sang
incaran. Dengan
kondisi seperti itu, pantas bila para penangkar mengantre anakan sebagai bahan
indukan. Mereka tak khawatir membenamkan rupiah lantaran yakin keuntungan bakal
cepat dituai. Buktinya, para pedagang dan kolektor berkali-kali mengontak Harry
Setiawan untuk menjadi yang pertama memiliki anakan hot lady. Padahal, pemilik
pabrik mi itu sendiri masih menginden aglaonema merah cerah itu pada sang
penyilang. Daerah
Kehadiran
jenis-jenis baru yang tak habis-habisnya diduga kian menggenjot pasar. Lelang
aglaonema-aglaonema anyar silangan Greg Hambali pada 2001 sebagai titik tolak.
Bermunculanlah adelia, JT-2000, diana, tiara, widuri, dan lain-lain. Lalu itu
diikuti oleh masuknya jenis-jenis asal
Ramainya
pasar pun ditunjang oleh penampilan sang ratu tanaman daun. Warna-warni
aglaonema yang seperti warna bunga abadi-tidak tergantung musim. Lain halnya
dengan tanaman bunga yang keindahannya hanya dinikmati saat bunga muncul, tutur
Ansori. Pantas Harry hampir 2 kali dalam sebulan ulang-alik Jakarta-Bangkok. Hal
serupa dilakukan Gunawan Widjaja dan Iwan Hendrayanta. Penyebaran
aglaonema ke daerah membuat permintaan pasar kian melebar. Pembeli yang datang
ke tempat Harry berasal dari Bisa
diusahakan di lahan sempit dengan keuntungan menggiurkan. Itu pula yang membuat
orang berbondong-bondong menerjuni bisnis aglaonema. Hanya bermodalkan
pekarangan rumah di kawasan kompleks perumahan kelas menengah di
Yanti
& Linda menanamkan modal Rp100-juta untuk membeli tanaman dari
Batu
sandungan
Toh,
untuk memasok pasar itu bukan tanpa kendala. Delapan dari 18 red hot chilli
pepper yang Ukay boyong dari Iwan
pernah ditipu pedagang di negeri Gajah Putih. Mantan manajer pemasaran salah
satu bank swasta nasional itu membeli red peacock. Sang empunya menyebut, jenis
itu belum diperbanyak. Lantaran yakin jenis itu satu-satunya, Iwan pun rela
melepas uang jutaan rupiah. Namun, begitu kolektor enchephalartos itu berbelanja
lagi ke Kenal
baik dengan para penangkar di Setelah
tiba di tanahair, belum tentu siamese rainbow itu cocok dengan kondisi iklim
Salah
perawatan pun menjadi kendala. Dua aglaonema seharga total 40-juta milik dr
Purbo Djojokusumo-kolektor di Best
seller
Namun,
bila sandungansandungan itu teratasi, dipastikan rupiah bakal mengalir deras.
Yang menikmati keuntungan bukan melulu mereka yang bermain di kelas-kelas mahal
dan jenis-jenis anyar. Sri rejeki-sri rejeki lawas seperti pride of sumatera dan
donna carmen dengan harga terjangkau kantong pun tetap diincar pasar. Ukay
menghitung, Sebanyak 70% penjualan dari tanaman dengan harga Rp100.000-Rp300.000
per pot. Berikutnya, kelas Rp300.000-Rp500.000 (15-17%), sisanya kelas
Rp500.000-Rp1.000.000 per tanaman. Setiap
bulan Suhandono mendapat pesanan 300 pot pride of sumatera. Jumlah yang sama
juga terjual di kebun milik Yopie di Semarang. Lantaran permintaan pasar tidak
sebanding dengan stok barang, harga aglaonema pertama berwarna merah itu pun
melonjak. Pada 2004, selembar pride of sumetera hanya Rp12.500-Rp15.000.
Dua-tiga bulan ke belakang harganya naik Rp20.000 per lembar
daun. Pantas
Yopi pun mulai memperbanyak pride of sumatera dengan teknik cangkok. Masih juga
kurang pasokan, para importir pun mendatangkan aglaonema kelahiran
Saat
ini aglaonema pertama berwarna merah itu memang menduduki peringkat teratas yang
paling banyak diperdagangkan bersama lady valentine. Ukay menghitung, setidaknya
8.000 lady valentine yang diimpor sejak Desember 2004-Februari 2006 ludes
terjual. Itu tanaman terdiri atas 6-7 daun setinggi 10-15 cm dengan harga
Rp125.000 per pot. Kini permintaan 500 pot lady valentine terus mengalir. Dalam
kurun waktu sama, Tri Rahmadi sanggup mendistribusikan 10.000 lady valentine
kepada konsumen di Kencangnya
pasar pun membuat seorang penangkar berani membuka gerai khusus aglaonema di
kawasan sentra tanaman hias di Jakarta Selatan. Di lahan seluas 4 m x 20 m
sekitar 700-750 pot aglaonema beragam jenis dan ukuran distok. Sejak dibuka pada
Desember 2005, omzet sekarang sudah mencapai 2 kali lipat, tutur sang empunya
sambil menyebut angka Rp50-juta untuk omzet per bulan. Ekspor
ke Belanda
Apalagi
aglaonema bukan barang pabrikan yang dapat dicetak massal dalam waktu singkat.
Kini memang ada yang mencoba memproduksi sri rejeki dengan cara kultur jaringan.
Tapi tidak akan semudah itu, ujar Greg Hambali. Anggota famili Araceae itu
terbilang rewel bila diperbanyak dengan kultur jaringan. Setiap jenis menuntut
perlakuan berbeda, misal formula media. Padahal untuk menghasilkan media tepat
dibutuhkan riset bertahun-tahun. Kecepatan pertumbuhan pun lambat. Pantas bila
Greg menilai secara ekonomis perbanyakan itu tidak menguntungkan. Lantaran sulit
diperbanyak pula, harga sang ratu tanaman daun itu bakal terus
bertahan. Peluang
ekspor pun sebetulnya terbentang bila pemain lokal bisa memanfaatkan.
**************** |
[Ar-Royyan-5133] Bisnis Aglaonema Kian Laju
FPS Indonesia \(Jkt\) - Mr. Jaerony S Thu, 09 Nov 2006 01:31:48 -0800

