Asslmkm.Wr.Wb.
Hhmmmm ... 
Nasihat yang membumi ... menyejukkan!
Wass / Jaerony.-


----- Original Message ----- 
From: Ananto Pratikno 
Subject: [Sarikata.com] Khotbah Nasruddin Khoja

Khotbah Nasruddin Khoja

Seluruh kampung tahu belaka bahwa Nasruddin Khoja adalah alim besar tapi ogah 
berkhotbah. Berulang kali aparat muspika, juga para tomas (tokoh
masyarakat), memintanya berkhotbah di masjid jami setempat. "Ah, apakah saya 
lebih pandai dan lebih berakhlak dibanding bapak-bapak sekalian?" begitu
alasan penolakannya selalu, seraya tersenyum seramah-ramahnya.

Tapi akhirnya ia menyerah. Pada Jumat pertama, ia datang paling akhir (ia tahu 
adat istiadat di blantika perkhotiban). "Sidang Jumat rahimakumullah",
ucapnya di mimbar. "Apakah Anda sekalian tahu apa yang akan saya sampaikan 
dalam khotbah ini?"

Setelah hadirin serempak menjawab, "Tahu!" Khotib Nasruddin mengumumkan : 
"Kalau begitu saya akan segera pulang, karena tentu tak ada faedahnya
memberitahu orang-orang yang sudah tahu". Tak ada yang bisa menahan alim yang 
nyentrik itu.

Pada Jumat kedua, Khotib Nasruddin kembali mengulangi pertanyaan, "Apakah 
saudara sekalian tahu apa yang akan saya sampaikan siang ini?"

Hadirin serempak menjawab: "Tidaaaak!"

"Kalau begitu saya akan segera pulang, sebab pastilah tak ada gunanya 
berkata-kata kepada orang yang tidak tahu sama sekali apa yang mau saya 
katakan".

Di Jumat ketiga jamaah sepakat menyusun strategi untuk membuat Nasruddin 
berkenan memberi petuah-petuah agama yang paling berharga dalam hidup.

"Apakah saudara-saudara sudah tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khotbah 
kali ini?"

"Sebagian dari kami sudah tahu, ya ustad, dan sebagian dari kami belum tahu...."

"Nah, untuk Anda yang sudah tahu, silakan beritahu mereka yang belum tahu. Bagi 
Anda yang belum tahu, silakan simak baik-baik. Saya akan segera pulang.
Wassalam".

****

Kita perlu banyak khatib seperti Nasruddin. Dia tahu kapan saat untuk tak 
bicara. Dia tahu bahwa mewejang jamaah yang sama sekali tak tahu tak akan
ada gunanya, sebab dialog internal yang produktif tak akan terjadi dalam benak 
mereka.

Dia tahu mengkhotbahi orang-orang yang sudah tahu hanya akan membuat mereka 
jengkel, geli atau iba menonton pameran kedangkalan sang khotib. Akhirnya
Nasruddin menyerahkan banyak perkara kepada jamaah/masyarakat sendiri. 
Ulama/khotib mungkin hanya perlu berperan sebagai fasilitator, bukan menjadi
Tuan Serbatahu alias Mr. Knowall apalagi Menteri Urusan Kebenaran -­ yang gemar 
benar main gertak dengan menghunus ayat dan hadis. "*The best ulama is
the least ulama*," ujar Nasruddin.

(Hamid Baasyaib)

[Non-text portions of this message have been removed]


.
 
__,_._,___ 

Kirim email ke