Rabu, 29 Nopember 2006 Sulitnya Hidup Saat Minyak Langka
Sudah lebih dari sepekan, Mang Itok disibukkan oleh urusan mencari minyak tanah. Pedagang bakmi di bilangan Srengseng, Jakarta Barat, ini setiap hari harus mengelilingi Jakarta Barat untuk bisa mendapatkan minyak tanah. Bagi Mang Itok, minyak tanah sangat penting untuk kelangsungan dagangnya. ''Kalau nggak ada minyak, bagaimana saya masak mi, dagangan saya,'' ungkap dia. Mengingat begitu pentingnya keberadaan minyak tanah, Mang Itok rela bermandi keringat, keliling dari wilayah Kebon Jeruk hingga Kembangan, agar bisa mendapatkan minyak tanah. Sekalipun sudah berkeliling, minyak tanah tetap susah untuk didapatnya. Kalaupun ada, kata Mang Itok, jumlah minyak yang didapatnya jauh dari kebutuhan. Dalam sehari, ia membutuhkan minyak sekitar 7 liter. Tapi, minyak yang didapatnya maksimal hanya 3 hingga 4 liter. Tak ayal lagi, Mang Itok terpaksa mengurangi jumlah mi yang dibawanya. Ia khawatir kalau mi yang dibawanya banyak, minyak tanahnya tidak akan cukup. Terang saja, kenyataan itu membuat Mang Itok sulit mendapatkan untung dari bisnis bakminya. Ia hanya bisa menjual sekitar separuh dari dagangannya. ''Tapi, lebih baik saya kurangi. Kalau saya tetap bawa seperti biasa, akan tambah rugi. Mi akan jadi mubazir,'' tutur dia. Kerugian tak hanya disebabkan oleh berkurangnya volume dagangan. Kelangkaan minyak tanah membuat harga melambung sangat tinggi. Kalau biasanya harga minyak tanah di tingkat eceran hanya sekitar Rp 2.275 per liter. Sekarang ini, Mang Itok harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa mendapat minyak tanah. Harga minyak tanah di pasaran melambung mencapai Rp 3.500 per liter. Bahkan, bisa mencapai Rp 4 ribu per liter. Keluhan yang sama juga diungkap Haji Sani, pemilik warung makan Betawi di Jl Warung Buncit, Jakarta Selatan. ''Pusing aye (saya) seminggu ini nyari minyak,'' tutur Haji Sani mengeluh. Untuk bisa mendapat minyak tanah, Haji Sani mengaku harus pergi ke Cipete, Jakarta Selatan. Malahan, ia terpaksa meminta anaknya menempuh jarak puluhan kilometer untuk membeli minyak tanah ke Depok atau Tangerang. Untuk kebutuhan warungnya, Haji Sani membutuhkan minyak tanah sekitar 10 liter per hari. Tapi, jumlah itu tidak bisa terpenuhi. ''Paling dapat minyak cuma 5 liter,'' ungkap dia. Agar kebutuhan memasak tetap terpenuhi, Haji Sani terpaksa menggunakan kompor gas. Akibatnya, ongkos produksinya melambung tinggi. Pedagang gorengan di Kelurahan Kebon Jeruk, Abdullah, mengaku keuntungannya menurun drastis, sejak minyak tanah sulit didapat. Dalam kondisi normal, Abdullah mengaku bisa mendapat untung Rp 50 ribu per hari. Tapi, dengan harga minyak tanah yang selangit, dan dagangannya yang harus dikurangi, keuntungannya hanya sekitar Rp 30 ribu per hari. Hingga kemarin, warga di Jakarta masih merasakan kelangkaan minyak tanah. Parahnya kelangkaan minyak tanah itu tergambar dari antrean panjang warga, yang membeli minyak tanah dari operasi pasar Pertamina. Ribuan warga terpaksa antre di pangkalan minyak, di Jalan Kotabambu Ujung, Palmerah. ''Selama hidup saya, ngatri beli minyak tanah cuma terjadi saat ini dan zaman PKI sekitar tahun 1965,'' ujar Ny Rasnah, warga Kemanggisan yang ikut antre. Rasnah harus berjalan kaki sekitar tujuh kilometer dari rumahnya menuju pangkalan minyak. Sejak pagi buta, ia sudah mengantre. Namun, hasilnya juga tidak maksimal. Ia cuma mendapat jatah 3 liter saja, setelah antre sekitar 5 jam. Meski demikian, Rasnah merasa beruntung karena harga yang didapatnya sesuai dengan harga pasar. Kelangkaan minyak tanah telah memicu gejolak di masyarakat. Selasa (28/11), ratusan warga RW 01 Kelurahan Kalideres, Jakarta Barat, menyerbu pangkalan minyak di RW 01 Kalideres dan memaksa pemilik pangkalan tidak menjual minyak ke pedagang eceran. ''Para pengecer yang menggunakan gerobak itu menjual lagi ke warung- warung dengan harga lebih tinggi dari harga standar. Akibatnya, pengelola warung menjual lagi ke masyarakat dengan harga mencapai Rp 4 ribu,'' ungkap salah seorang warga, Titi. Kalau minyak dijual langsung ke warga, lanjut dia, maka beban warga akan bisa berkurang. Pemilik Pangkalan, Jarusman, mengatakan suplai minyak dari agen sangat terbatas. Dalam sepekan ia hanya dikirimi satu tanki, padahal biasanya dua tangki. Sebagian besar minyak dibagikan kepada pengecer yang menggunakan gerobak untuk dijual langsung ke masyarakat. Wapres Jusuf Kalla menegaskan, sebenarnya rakyat tidak boleh kekurangan minyak tanah. Apalagi buat warga yang tinggal di Jakarta, menurut dia, minyak tanah sangat penting karena begitu minyak langka, warga sulit mendapatkan penggantinya. ''Di Jakarta kan bahaya kalau pakai kayu bakar,'' ujar dia. Kalla juga mengaku tak ingin dipusingkan soal subsidi yang bisa saja harus dikeluarkan lebih banyak dari kantong pemerintah. Saat ini, prioritas hanya diberikan bagi pemenuhan kebutuhan minyak tanah bagi rakyat kecil dan UKM. Seiring dengan semakin turunnya harga minyak mentah dunia, Kalla percaya bahwa subsidi BBM yang harus dikeluarkan pemerintah sepanjang tahun ini bakal ikut turun. Sebelumnya, dia telah memerintahkan penambahan pasokan minyak tanah sebanyak 100 ribu kiloliter. Kalla yakin, penambahan kuota ini tidak akan melanggar UU APBN Perubahan. Kalaupun dianggap melanggar, ia berjanji untuk langsung membicarakannya dengan DPR. dwo/djo ( ) sumber : Republika

