--- Begin Message ---
Reply ttg AA gym nikah lagi di milis dkm aja, pak.
Tahu sendiri khan dkm ar-royyan sedang dilanda persoalan berkaitan dengan BHUJ
(bukan YZME).
Ini saran saya lho....
Kecuali buat pak Djarot ( kapan nikah nya nich ? ).
----- Original Message -----
From: M.K. Roziqin
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 03, 2006 10:53 PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-5312] Terobsesi Hijaukan Arafah [bcc][faked-from][abs]
Apa benar....
Wah bagus amat ..................
----- Original Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Saturday, December 2, 2006 6:50:45 PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-5312] Terobsesi Hijaukan Arafah [bcc][faked-from][abs]
Ass. WW
Katanya Aa Gym istrinya sudah menjadi dua. Jadi pengurus Ar Royyan kasih
contoh dong ?
Wass.
Djarot
jaerony
<[EMAIL PROTECTED] To: "[email protected]"
<[email protected]>
sa.co.id> cc:
Subject: Re: [Ar-Royyan-5312]
Terobsesi Hijaukan Arafah [bcc][faked-from][abs]
11/30/2006 09:34
AM
Please respond
to
"[EMAIL PROTECTED]
.com"
Asslmkm.Wr.Wb.
Pak Jojo, Jika ada akses dan kesempatan insya Allah.
Tapi, kata Aa Gym, lebih baik dari kita sendiri yang mulai melakukannya.
Semakin berharap kepada orang lain, semakin kecewalah kita!
Ingat soal "masjid raya" di lingkungan kita?
Itu antara lain kebanyakan wacana bahwa "akan ada sumber sumbangan
besar"!! Dan hasilnya : NIHIL!
Sama dengan hal itu, kalau kita cuma pandai berwacana, akan bernasib sama.
Jadi, kita harus kembali ke track : "dakwah bil hal"!
Wass / Jaerony.-
----- Original Message -----
From: jojo wahyudi
To: [email protected]
Sent: Wednesday, November 29, 2006 5:11 PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-5312] Terobsesi Hijaukan Arafah
Wah Pak Jaerony, boleh juga nich kita minta bibit juga dari beliau
siapa tahu di kasih untuk di tanam di lingkungan RW kita......
wuiiihhh nggak bisa di bayangkan kalau komplek kita jadi ASRI
(bukan cuma penuh pohon bambu doank he he he)
Boleh tuh Pak di follow up..............
salam,
Jojo
----- Original Message ----
From: jaerony <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, November 29, 2006 4:27:50 PM
Subject: [Ar-Royyan-5312] Terobsesi Hijaukan Arafah
Minggu, 23 April 2006
Andi Tenri Gappa
Terobsesi Hijaukan Arafah
Bekerja sebagai bankir ternyata belum cukup bagi Andi Tenri Gappa yang
akrab disapa Onny. Di sela-sela kesibukannya, pria kelahiran Jakarta pada 1
Desember 1958 ini belakangan menambah kesibukannya dengan giat melakukan
pembibitan pohon-pohon untuk penghijauan.
Berbagai jenis bibit tanaman pun dikembangkan suami A Soraya Mattalatta ini
dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang luasnya `hanya' 1.000 meter
persegi itu. Halaman rumah tersebut tidak pernah kosong dari bibit tanaman.
Setelah bibit-bibit tersebut cukup besar, ayah dari Ahmad Yani (9 tahun)
ini kemudian membagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat tanpa
memungut bayaran. Bagi Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI)
Sulawesi ini, menanam pohon adalah investasi yang tak terhingga.
Onny tak pernah menghitung berapa banyak uang yang sudah dikeluarkannya
untuk pengadaan bibit-bibit tersebut. Baginya, pohon bukanlah kembang api
yang sekali meletup setelah itu mati. `'Pohon ini akan menyala dan tumbuh
makin lama makin besar, dan saya akan menyalakan api di mana-mana,'' ujar
anak kesembilan dari sepuluh bersaudara itu pada wartawan Republika Andi
Nur Aminah.
Niatnya yang tanpa pamrih untuk menghijaukan bumi disadarinya tak bisa
dilakoni sendiri. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada ini
kemudian menggandeng Universitas Hasanuddin untuk membentuk sebuah
komunitas bernama `Unhas Green Community'. Lewat komunitas tersebut,
keponakan almarhum Jenderal M Jusuf ini berangan-angan bisa menghijaukan
Nusantara dari Kota Makassar. Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi yang
jatuh pada 22 April, Onny kemudian memproklamirkan lahirnya `Unhas Green
Community' yang diharapkan bisa menjadi pelopor untuk pelaksanaan
penghijauan di berbagai daerah.
Bagaimana awalnya hingga Anda terjun dan terlibat dalam pembibitan
pohon-pohon untuk penghijauan?
Awalnya pada tahun 2004, pertama kali saya membibitkan sekitar 12.000
bibit saja. Setahun kemudian menjadi lebih banyak lagi karena saya bikin
bukan lagi hanya untuk Makassar. Ada banyak permintaan dari berbagai
daerah seperti Manado, Gorontalo, Palu, Kendari. Boleh jadi karena di awal
tahun 2005 saya pernah diberitakan di salah satu media nasional, tidak
lama kemudian surat dari mana-mana masuk, dari Ternate sampai NTT, yang
minta pohon ke saya. Saya sudah kepalang basah, dan itu konsekuensinya.
Tapi tidak apa, karena itu pekerjaan yang saya suka.
Kepedulian lingkungan juga yang mendorong Anda membentuk suatu komunitas
lingkungan yang menjalin bekerja sama dengan Unhas?
Saya merasa tangan saya hanya dua. Makanya, saya lantas berpikir, dalam
bidang ini harus dibentuk satu komunitas. Saya tidak mau jalan sendiri.
Saya kemudian ngomong ke Prof Idrus Paturusi (Rektor Universitas
Hasanuddin, red) dan beberapa teman-teman. Ternyata, disambut baik oleh
rektor. Bahkan, kita lantas dikasih lahan di kampus Unhas, di samping
danau, lalu kita bikinlah pembibitan di situ.
Komunitas ini namanya Unhas Green Community yang diluncurkan bertepatan
dengan Hari Bumi. Pertama memang di Unhas, nanti dalam waktu dekat akan ke
Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Tadulako Palu, Universitas
Haluoleo Kendari. Teman-teman di Unhas akan menjadi pelopor atau inspirator
terhadap kampus-kampus lain untuk bisa berbuat hal yang sama. Saya bilang,
saya siap memfasilitasi teman-teman mahasiswa untuk membuat hal serupa,
saya akan memberikan mereka bibit tanaman, bersinergi dengan pihak-pihak
yang memiliki kepentingan-kepentingan yang sama.
Anda juga berperan menghijaukan Kota Makassar. Apa ini juga menjadi tekad
Anda?
Oh ya, saya pernah menyiapkan 15.000 bibit pohon untuk ditanam di
Makassar. Semuanya saya berikan gratis. Cita-cita saya begini. Kota
Makassar ini kan ada kotamadya, kecamatan, sampai kelurahan. Yang bagus
memulai dari kelurahan. Satu kelurahan ada beberapa jenis jalan, ada yang
kelas besar, kecil, sampai kecil sekali. Saya sudah memikirkan, untuk jalan
yang besar itu pohonnya jenis apa yang cocok, mungkin raintree, jalan
kecil pohon apa, sampai jalan kecil sekali mungkin cocoknya jenis palem,
sehingga setiap kepala desa atau lurah bisa merencanakan sendiri. Nanti
diketahui, satu kelurahan itu butuh tanaman sekian banyak dan jenis apa
saja. Kalau sudah terdata, tinggal order ke mahasiswa, dan kegiatan ini
harus melibatkan untuk menanamnya.
Bagaimana untuk skala yang lebih luas lagi?
Saya siap ke mana saja, keliling Indonesia untuk menanam pohon. Saya punya
uang dan siap lakukan apa saja. Saya mengeluarkan uang dan tidak berharap
untuk kembali. Ini investasi bagi saya, besok-besok kalau kita dipanggil
sama Tuhan dan ditanya kita sudah berbuat apa saja di dunia ini. Makanya,
sekarang saya merasa punya kesempatan, saya harus tanam
sebanyak-banyaknya. Pohon-pohon ini umurnya bukan 10 atau 20 tahun, tapi
ratusan tahun. Yang saya inginkan adalah bagaimana keinginan saya ini bisa
dilaksanakan oleh saya atau oleh siapa pun. Yang penting pohon itu
tertanam, bisa besar, dan bisa berfungsi mengurangi efek panas bumi.
Saya tidak perlu itu kembali, saya sudah cukup makan tiga kali sehari kok.
Menanam pohon ini bukan membuat api. Tapi, pohon itu bisa menyala terus
dan tambah lama tambah besar. Bukan kembang api yang cuma sekali buuum,
setelah itu mati. Yang saya tanam ini insya Allah akan menyala terus, dan
saya akan nyalakan api di mana-mana. Pokoknya selama saya masih punya
uang, saya tidak akan berhenti. Dan uangnya juga memang tidak
kurang-kurang tuh, selalu ada saja. Saya tidak khawatir akan jadi miskin
hanya karena menanam pohon-pohon ini. Saya percaya itu tidak akan terjadi.
Jadi, saya ingin mengajak teman-teman yang lain supaya punya pemikiran
mengenai ini juga.
Boleh dibilang Onny beranjak besar di Jakarta. Jenjang pendidikan dari SD
hingga SMA dituntaskan di kota ini dan beberapa bulan di kota Bandung.
Setamat dari SMA 6 Bulungan, penggemar motor besar ini kemudian
melanjutkan kuliah di UGM hingga lulus pada tahun 1983. Setahun berselang,
Onny pulang ke kampung halaman orang tuanya dan mengerjakan empang di
Kajuara, kabupaten Bone.
Ketika itulah dia sempat mengalami masa sulit. Maklum, ia sudah terbiasa
dengan hiruk-pikuk Jakarta dan tiba-tiba dia berada di perkampungan yang
listriknya pun belum ada. Setelah empangnya gagal panen sebanyak dua kali,
Onny kemudian kembali ke Jakarta dan melanjutkan sekolah perbankan di Panin
pada 1987. Karier di Bank Panin dimulainya sebagai junior officer. Setahun
kemudian ia kembali ke Makassar dan bekerja di Bank Panin Makassar.
Perlahan tapi pasti, kariernya semakin menanjak hingga akhirnya menjabat
sebagai pimpinan cabang Bank Panin Wilayah Indonesia Timur dari tahun 1995
hingga sekarang.
Sebenarnya, apa obsesi terbesar Anda dalam penanaman pohon?
One day, jika saya diberikan kesempatan, saya ingin menghijaukan Arafah,
seperti yang dilakukan (mantan presiden) Soeharto dulu. Saya pernah
mengirim e-mail ke pemerintah Saudi Arabia, tapi belum ada respons. Tapi,
mungkin kalau Pak Jusuf Kalla yang ngomong, barangkali direspons, saya
akan pergi ke sana. Tidak semua Saudi Arabia itu padang pasir. Di Riyadh
itu, daerah pertanian yang bagus. Saya bisa bibitkan raintree dan pohon
ini tepat sekali untuk daerah itu.
Kalau di Indonesia, saya yakin bisa kita lakukan. Saya ingin menghijaukan
Indonesia dari Makassar. Tapi, saya tidak mau main sendiri sekarang. Saya
ingin memberdayakan teman-teman mahasiswa. Saya tidak ingin membuat mereka
bergantung pada saya, tapi membuat mereka termotivasi. One day, mereka
sudah bisa berpikir dan berbuat sendiri. Merekalah yang akan pergi NTT, ke
Jogya, dan ke mana saja. Obsesi saya memang, kalau kita sudah bisa masuk di
Sumatra, di Jawa, suatu saat niatnya akan Arafah. Kalau sudah sampai ke
sana, luar biasa sekali. Mereka sudah punya teknologi penyiraman yang
bagus, tapi kenapa mereka tidak melakukan. Saya pikir kenapa Soeharto yang
waktu itu sekitar tahun 1970-an teknologinya belum secanggih sekarang saja
bisa melakukan, masak saya nggak bisa.
Adakah tempat yang menjadi inspirasi bagi Anda sehingga begitu ingin
menanam ribuan pohon di mana-mana?
Singapura dan Malaysia. Dua negara itu tidak sebanding dengan negara kita
yang luar biasa kayanya. Tapi, mereka bisa melakukan penghijauan yang
sangat bagus. Itu membuat saya iri sekali. Lantas saya berpikir, ini bisa
kok saya lakukan, makanya saya lakukan.
Jadi, saya mencoba sekarang menginspirasi teman-teman lain yang mungkin
sepikiran dengan saya, memfasilitasi mereka, supaya pembibitannya bisa
lebih besar. Selama ini pembibitan saya lakukan di rumah saya saja. Tapi,
halamannya cuma 1.000 meter, bisa bikin berapa banyak. Tahun lalu saya
bisa bikin 15.000 bibit, kemudian saya pakai pollybag (kantong bibit) yang
besar, hanya sekitar 2.000 (bibit), sudah penuh halaman saya. Akhirnya
saya telepon-telepon teman-teman, relasi, (bilang) 'Tolong dong diambil
nih bibit'. Sekarang yang sisa tinggal palem saja. Sebetulnya banyak orang
yang ingin terlibat dan memberikan kontribusinya, tapi masalahnya siapa
yang bisa dipercaya. Ibaratnya, kalau kita ingin naik Gunung Mahameru,
kita harus naik Gunung Latimojong dulu, baru Semeru, baru lebih tinggi,
jadi bertahap.
Setelah tsunami di Aceh, Anda juga pernah membawa bibit-bibit tanaman ke
sana ketika orang-orang belum memikirkan untuk menanam pohon. Apa Anda juga
bermaksud menghijaukan Aceh atau ada tujuan lain?
Sebetulnya itu bukan penghijauan. Waktu itu hanya simbol persaudaraan
antara Aceh dan Sulawesi. Saya hanya bawa beberapa bibit. Ada lima ditanam
di sekitar Masjid Baiturrahman dan tiga di RS Zainul Arifin. Beberapa lagi
di daerah Bireun. Tapi nanti, lewat komunitas ini, Unhas bisa melakukan
kontak dengan Universitas Syiah Kuala. Kalau mereka bersedia, kita akan ke
sana, membawa bibit, pollybag, kita saranai, sehingga dia bisa membuat
satu komunitas sendiri juga. Kita berharap Unhas dengan komunitas ini bisa
menjadi inspirasi dan menularkan apa yang telah dilakukan ke kampus-kampus
lain se-Indonesia. Jadi, hijau dari Makassar.
''Saya kadang bertanya sendiri, saya tidak pernah merencanakan hidup,
tahu-tahu saya ada saja, dan suatu waktu saya akan mati. Makanya, saya
berpikir, selama saya masih hidup, saya harus menjadi orang
bermanfaat.''Tidak cuma untuk diri sendiri dan keluarga, Onny juga memilih
untuk bermanfaat lebih banyak lagi untuk orang lain. ''Lebih banyak, lebih
besar, lebih bagus.''
Akhirnya, langkah melestarikan lingkungan lewat bibit-bibit pohon itulah
yang diambilnya. Dengan langkahnya itu, Onny berangan orang-orang dari
Ambon misalnya akan mendatanginya untuk meminta bibit. Keinginan Onny
tidak muluk. ''Saya kepingin orang-orang melihat, mendengar, dan melakukan
hal yang sama dengan saya. Saya tidak ingin menjadi populer. Mudah-mudahan
besok akan banyak orang-orang yang berpikiran sama seperti saya.''
Apakah ada pengalaman masa kecil yang mewarnai sehingga saat ini begitu
jatuh cinta pada pepohonan?
Sebetulnya tidak ada. Saya lahir dan besar di Jakarta. Hanya ceritanya,
suatu hari saya naik mobil dengan bapak saya dari Bone ke Makassar. Itu
sekitar tahun 1988, dan saya tidak kecil lagi waktu itu. Bapak saya
bilang, Onny kamu tahu, semua pohon asam yang ada di pinggir jalan, dari
Pampanua, Bone Utara sampai di sini, semuanya Bapak saya yang tanam.
Mendengar itu, saya berpikir, 'Wah hebat juga. Kakek saya sudah meninggal,
tapi pohonnya masih hidup semuanya'. Di situ saya mulai kepikiran, saya mau
menanam pohon. Saya memulainya dengan biji palem. Waktu masih kuliah, kalau
saya lagi punya duit banyak, saya bibitkan banyak, Kalau duitnya lagi
sedikit ya bibitkan sedikit, tapi tidak pernah berhenti.
Sekarang, saya pikir sudah waktunya saya membuat yang banyak. Memang,
kadang-kadang orang mikir saya ini aneh. Kadang ada yang bilang, Onny kamu
ini mau jadi apa? Mau jadi wali kota, mau jadi gubernur. Tidaklah, mau
jadi gubernur ngapain? Saya bilang, taruh-taruhan kalau hanya soal gaji
gubernur dengan saya, gajinya lebih gedean saya. Itu kalau tidak korupsi
lho ya. Mungkin tiga kali lipat. Buat apa jadi gubernur. Kalau jadi
presiden mungkin mau, ha ha ha.
Anda berharap di keluarga Anda juga akan mengikuti jejak mencintai pohon?
Bagi saya, keluarga masing-masing sajalah. Mereka punya pikiran
masing-masing. Saya tidak pernah memengaruhi mereka untuk harus cinta
tanaman. Mereka bisa cinta sama binatang, pakaian, atau apa saja, terserah
merekalah. Tapi, setidaknya kita telah menggambarkan. Seperti anak saya
kadang berkomentar, 'Papa ngapain sih, buat apa ini, banyak begini mau
dibawa ke mana'?
( )
sumber: www.republika.co.id
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and
get things done faster.
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com
--------------------------------------------------------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
--------------------------------------------------------------------------------
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.12.3/445 - Release Date: 9/11/2006
--- End Message ---