Mengenang Ramadhan Sebagai Madrasah Pengorbanan

Oleh Nursalam AR
*

*

No pain no gain *kata orang Barat. Maknanya sama seperti pepatah di negeri
sendiri,berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Atau dalam bahasa
Jawa yang sekaligus menjadi slogan Provinsi Jawa Timur ' *jer basuki mawa
bea'*, untuk dapat keberuntungan perlu biaya. Intinya, segala keberhasilan
atau keberuntungan tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia harus diraih
melalui kerja keras. Ada harga yang harus dibayar. Dalam satu kata, kita
bisa simpulkan bahwa kunci sukses hidup itu adalah "pengorbanan".

Dalam konteks *hablumminallah*, Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah,
9:111: "Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang
beriman dengan memberikan surga untuk mereka; mereka berperang di jalan
Allah, sebab itu mereka membunuh dan terbunuh menurut janji sebenarnya dari
Tuhan di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Siapakah yang lebih memenuhi
janjinya selain Allah? Sebab itu bergembiralah kamu terhadap perjanjian yang
telah ada antara kamu dengan Tuhan. Dan itulah keberuntungan yang besar."

Di bagian yang lain,"Katakan: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,
saudara-saudaramu, perempuan-perempuanmu, kaum keluargamu, kekayaan yang
kamu peroleh, perniagaan yang kamu kuatiri menanggung rugi dan tempat
tinggal yang kamu sukai, kalau semua itu lebih kamu cintai daripada Allah,
tunggulah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya dan Allah tidak memberikan
pimpinan kepada kaum yang jahat." (Surah At-Taubah, 9:24).

Nah, apakah Allah biarkan ummat manusia berkorban begitu saja tanpa
memberikannya tuntutan dan pelatihan? Tentu tidak. Sebagai Sang Pencipta
yang Maha Adil, Ia telah sempurna menciptakan segala pranata bagi manusia
yang ingin sukses dunia-akhirat. "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa." (Surah Al Baqoroh, 2:183). Diperjelas lagi pada ayat 185: "Bulan
Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur'an, sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang benar dan yang batil)."

Ramadhan yang telah berlalu adalah pelatnas, kawah candradimuka, madrasah
yang melatih kita berkorban untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar,
kesuksesan dunia-akhirat. Pengorbanan sendiri terkait erat dengan ketaatan,
tanggung jawab, rasa memiliki ( *sense of belonging*) dan cinta kasih.
Seseorang akan rela berkorban jika terdapat elemen-elemen tersebut yang
melandasi tindakannya. Memang banyak pula faktor-faktor lain seperti
mengharap popularitas, nama besar atau laba. Misalnya, seorang petinju yang
rela berkorban bertarung habis-habisan demi mengharap nama besar dan
keuntungan materi jika berhasil menang. Tapi masih diragukan apakah bentuk
pengorbanan tersebut suatu bentuk yang sejatinya tulus ikhlas. Yang jelas
ada *sense of belonging *yang dimiliki petinju tersebut terhadap profesinya.
Ia rela berjibaku mati-matian hingga babak-belur dan bercucur darah karena
merasa itulah profesinya dan adalah tanggung jawabnya untuk bertarung
habis-habisan di atas ring.

Dengan analog tersebut barangkali kita dapat memahami makna ayat 111 Surah
At-Taubah di atas yakni "transaksi antara Allah dan orang Mukmin" sebagai
sebuah kata kunci mengapa kita harus berkorban demi Al Islam. Masalah
pengorbanan dalam konteks tersebut bukan masalah mau atau tidak mau namun
pertanda bukti keimanan dan suatu kemutlakan eksistensi seorang Muslim.

"Seorang Muslim dapat didefinisikan dengan kepatuhan kepada Tauhid, dengan
pengakuannya akan keesaan dan transendensi Allah sebagai prinsip tertinggi
dari seluruh ciptaan, semua wujud dan kehidupan dari seluruh agama," tulis
Ismail Razi Al Faruqi, seorang guru besar di Amerika Serikat asal Palestina
yang *syahid* dibunuh agen rahasia Israel, dalam bukunya yang berjudul *Tauhid
*(terjemahan MIZAN, 1984*)*. "Mematuhi Tuhan yakni merealisasikan
perintah-perintah-Nya, dan mengaktualisasikan pola-Nya berarti memperoleh *
falah* atau keberhasilan. Tidak berbuat demikian yakni tidak mematuhi-Nya
berarti mengundang hukuman, penderitaan, dan kesengsaraan akibat kegagalan.
Setiap pembacaan surah-surah Al Qur'an yang diwahyukan di Mekah akan
mengukuhkan pengalaman tentang hubungan antara Tuhan dan manusia yang
bersifat perjanjian timbal balik. Ia juga merupakan pemahaman dari semua
nabi sebelumnya beserta para pengikut mereka. Jiwa perjanjian yang sama
menjadi landasan agama dan moral bagi bangsa-bangsa kuno. Ini jelas terlihat
dari Enuma Elish dari Mesopotamia dengan kode hukum Lippit Ihtar dan
Hammurabi."

Inti pengorbanan adalah komitmen terhadap Tauhid, mengesakan Allah sebagai
satu-satunya Rabb (zat dominan, sembahan, *causa prima* atau pengatur). Nabi
Ibrahim AS mengajarkan kepada kita makna Tauhid yang sebenarnya dengan
doanya:"Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidup dan matiku kepunyaaan
Allah *rabbul 'alamin*. Tidak ada syarikat bagi-Nya dan aku diperintah untuk
itu, serta aku termasuk orang yang pertama berserah diri." (Q.S Al An'am,
6:162-163).

Dalam Al Qur'an, Nabi Ibrahim digambarkan sebagai orang yang menyerahkan
diri sepenuhnya kepada Allah sehingga perintah apapun ia lakukan kendati
bertentangan dengan pikiran dan perasaannya. Ketika Ismail lahir, Allah
menyuruhnya "membuang" Siti Hajar dan anaknya di sebuah lembah gersang.
Tatkala Ibrahim meninggalkan mereka dengan sebuah *ghariba* (semacam wadah
air yang terbuat dari kulit binatang), Siti Hajar bertanya:"Mau kemana
engkau, Ibrahim. Engkau tinggalkan kami di lembah yang tiada siapapun dan
apapun?"

Ibrahim tidak menjawab.

"Kepada siapa engkau titipkan kami di sini?" tanya Siti Hajar lagi.

"Kepada Allah," jawab Ibrahim pendek.

"Kalau begitu aku rela karena Allah," ujar Siti Hajar mantap penuh keimanan.

Ucapan Siti Hajar tersebut senada dengan pernyataan seorang sahabat
Rasulullah SAW, Sa'ad bin Mu'adz, ketika diminta pandangannya mengenai
keberangkatan kaum kafir Quraisy dari Mekah menjelang Perang Badar.
Rasulullah saat itu meminta pendapat para sahabat apakah hendak menghadang
pasukan itu di luar kota Madinah atau tidak. Dengan penuh keyakinan, Sa'ad
berkata,"Kami telah beriman kepada Anda (Rasulullah SAW) dan kami pun telah
membenarkan kenabian dan kerasulan Anda. Kami juga telah menjadi saksi bahwa
apa yang Anda bawa adalah benar. Atas dasar itu kami telah menyatakan janji
dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada Anda.
Jalankanlah apa yang Anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah,
seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti
akan terjun bersama Anda." Dalam salah satu kutipan *Siroh Nabawiyah* yang
disusun Dr. M. Sa'id Ramadhan Al Buthy tersebut sungguh tergambar suatu
keyakinan kokoh atas landasan iman sejati, dan bukan berdasarkan fanatisme
buta atas kharisma seorang tokoh.

Pengorbanan merupakan indikator keimanan seorang Muslim. Pengorbanan dalam
beragam bentuknya adalah prasyarat apakah seorang Muslim dapat digolongkan
sebagai Muslim sejati atau tidak. Itulah *sunnatullah* yang lazim berlaku
sejak orang-orang terdahulu. "Alif Laam Mim. Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman" sedang mereka
tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum
mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS Al Ankabut,
29:1-3).

Sebagai *dien* yang *kaffah*, Islam tidak hanya mensyaratkan ummatnya
berkorban untuk urusan ritual (ibadah *mahdoh*) saja."Perumpamaan kaum
mukminin dalam hal jalinanan kasih sayang, kecintaan dan kesetiakawanan
adalah sama seperti satu tubuh yang bila salah satu anggotanya mengeluh
karena sakit maka seluruh anggotanya menunjukkan simpati dengan berjaga
semalaman dan menanggung panas karena demam." (Hadits Riwayat Bukhari dan
Muslim).

Dalam sebuah riwayat lain yang dikutip Jalaluddin Rahmat (*Islam Alternatif*,
1991) dikisahkan pertemuan antara dua malaikat. Keduanya bercakap-cakap di
dekat Kabah pada musim haji. Salah satu malaikat bertanya,"Berapa jumlah
orang yang naik haji tahun ini?"

"Sekian ratus ribu," jawab malaikat yang lain.

"Berapa orang yang hajinya *mabrur* (diterima) di antara mereka?"

"Hanya dua orang, dan salah satunya bahkan tidak menunaikan ibadah haji itu
sendiri." Lalu diceritakan bahwa ketika si fulan itu sudah siap berangkat
haji dengan perbekalan secukupnya tiba-tiba di tengah perjalanan dia melihat
seorang janda miskin dengan beberapa anak yatim yang amat membutuhkan. Maka
dia serahkan seluruh bekalnya kepada janda dan anak-anak yatim itu sehingga
ia terpaksa mengurungkan niatnya berhaji. Namun justru karena pengorbanannya
itulah Allah menerima ibadah hajinya meskipun ia baru berniat.

Atau seperti teladan Rasulullah SAW ketika beliau hendak dijamu oleh Aus bin
Khaulah dengan susu dan madu selepas perjalanan jauh. Rasulullah menolaknya
seraya berkata,"Aku tidak mengatakan bahwa ini haram tetapi aku tidak ingin
pada hari kiamat nanti Allah bertanya padaku tentang hidup berlebihan di
dunia ini." (HR Ahmad bin Hambal).

Ramadhan telah mengajarkan itu semua kepada kita. Ketika *shaum* tidak hanya
sekedar menahan haus dan lapar tapi juga menahan nafsu duniawi untuk
menumpuk harta dan menumbuhkan jiwa berbagi kepada kita, terbentuklah
pribadi-pribadi yang rela berkorban, hidup sederhana dan tidak
bermewah-mewahan. Dalam ramadhan tidak hanya ada pranata sholat tarawih yang
memberikan kita kesempatan berasyik-masyuk sendiri dengan Allah dan
berjamaah tapi juga ada pranata zakat fitrah dan zakat *ma'al* yang
"memaksa" kita beramal sholeh secara sosial.

Jika tidak alamat bencana akan menimpa kita seperti yang disabdakan
Rasulullah SAW,"Bila masyarakat sudah membenci orang-orang miskin dan
menonjol-nonjolkan kehidupan dunia serta rakus dalam mengumpulkan harta maka
mereka akan ditimpa empat bencana: zaman yang berat, pemimpin yang lalim,
penegak hukum yang khianat dan musuh yang mengancam." (HR Ad-Dailami).

Semoga kita saat ini telah lulus sebagai alumni madrasah Ramadhan yang *
mubarak* ini, dengan predikat:"terlahir kembali seperti bayi yang suci dari
kandungan ibunya". *Amien, allahumma amien*.
*

Jakarta, 2 Desember 2006

Kirim email ke