Jumat, 08 Desember 2006

Aa 

Oleh : Zaim Uchrowi 


Hari-hari ini adalah hari-hari yang tidak mudah bagi Aa Gym. Menikah lagi 
adalah persoalan pribadi dan keluarganya sendiri. Tapi Aa, sebutan akrab KH 
Abdullah Gymnastiar, tak mungkin membatasi urusan itu dari sorotan publik. Aa 
Gym telanjur milik publik. Aa telah menjadi idola.

Sebagai idola, setiap ucapan dan tindakan Aa ''ditunggu'' oleh jutaan orang. 
Bahkan, oleh yang bukan Muslim sekalipun. Sebutan Aa pun kini populer. Bahkan, 
di luar tanah Sunda. Setelah nama Aa Gym berkibar, sosok-sosok dengan sebutan 
''Aa'' pun bermunculan. Persis seperti merebaknya sebutan ''Gus'' setelah Gus 
Dur meraih posisi tinggi di kancah politik. Sebutan yang bukan sekadar 
mengakrabkan, namun juga menempatkannya ke level berbeda dengan orang 
kebanyakan.

Namun, menjadi idola bukan hanya sangat berharga, tapi juga harus memikul beban 
berat. Idola tak dapat melangkah berdasar kebenaran menurut kepercayaannya 
sendiri. Idola dituntut pula melangkah berdasar kebenaran sesuai keyakinan 
pengidolanya. Sebuah kebenaran yang bisa jadi ''lebih benar'', bisa juga 
''lebih kurang benar'', dibanding kebenaran versi sang idola. Apa pun 
pertimbangannya, Aa Gym telah membenturkan kedua versi kebenaran berbeda itu. 

Boleh jadi selama ini Aa Gym telah merasa risi. Pengidolaan pada dirinya begitu 
luar biasa. Salah-salah pengidolaan itu bisa berlebihan. Berlebihan jelas tidak 
baik. Apalagi, sebenarnya, hanya Rasulullah SAW-lah manusia yang layak 
diidolakan. Tidak pada tempatnya manusia mengidolakan manusia lainnya. Aa Gym 
boleh jadi khawatir, pengidolaan pada dirinya tersebut melampaui batas. Maka, 
ia tergerak mendudukkan kekaguman jamaah itu ke posisi yang lebih wajar.

Citra yang telah begitu menggumpal tak dapat diencerkan dengan cara 
biasa-biasa. Perlu jalan luar biasa untuk pengenceran itu. Boleh jadi Aa Gym 
mengikuti cara Nabi Chaidir yang mengguncang perasaan Nabi Musa untuk dapat 
menunjukkan kebenaran sejati. Aa Gym pun rela tidak populer dengan membuat 
langkah yang dianggap menyakitkan. Bagi banyak jamaahnya. Mungkin juga bagi 
istrinya sendiri. Dengan itu, Aa Gym mengajak publik untuk tidak 
mengelu-elukannya. 

Memang, pilihan langkah untuk mengencerkan citra diri itu begitu kontroversial. 
Isu poligami memang gampang jadi perdebatan. Sebagian agamawan menganggapnya 
keutamaan. ''Itu sunah Rasul,'' katanya. Mayoritas pemeluk teguh Islam cuma 
menganggapnya sebagai katup sosial. Terutama bagi yang berpotensi terjerumus 
maksiat. ''Jika memang sunah, mengapa Rasul melarang keras Ali berpoligami,'' 
kilahnya.

Rasulullah SAW lebih seperempat abad monogami. Nabi membangun hidup bersama 
Khadijah yang jauh lebih tua. Bersama-sama mereka mengasuh anak-anak, 
bermasyarakat, hingga jatuh bangun memperjuangkan Islam. Mautlah yang 
memisahkan pasangan ideal itu. Perilaku itu mencengangkan Makkah. Saat itu, 
hampir semua lelaki Quraisy hidup bersama banyak perempuan. Sah maupun tidak 
sah.

Baru di Madinah, setelah Khadijah wafat dan anak-anaknya berkeluarga, 
Rasulullah SAW beristri lebih dari satu. Saat itu, Rasul bukan sekadar pemimpin 
umat. Rasul juga pemimpin negara. Ikatan sosial politik pemimpin saat itu 
sangat ditentukan oleh ikatan perkawinannya. Sekitar sepuluh tahun menjelang 
wafat, Nabi berpoligami. Tak ada anak yang harus dibesarkan saat itu. 

Jadi, sebenarnya Rasullah SAW menyeru poligami atau monogami? Jawabnya bisa 
berbeda sesuai pemahaman dan kepentingan masing-masing. Perbedaan pandang 
seperti ini sebenarnya bukan hanya soal poligami. Pemahaman umat Islam secara 
umum memang terbelah. Tak hanya soal keutamaan pribadi, Juga soal apa yang 
dianggap utama dalam berkeluarga, bermasyarakat, apalagi dalam politik yang 
begitu banyak kepentingan.

Dengan pemahaman agama yang terbelah itu, umat Islam tak bisa berbuat banyak. 
Jangankan mengurus hal besar seperti mengatasi kemiskinan, memberantas korupsi, 
atau membantu Palestina menjadi merdeka, mengelola peribadatan di masjid pun 
bisa berselisih. Kasus poligami Aa Gym menyadarkan kita tentang adanya 
keterbelahan itu.

Kirim email ke