Muhammad Arifin Ilham, Zikir dan Menghindari Poligami
The Executive Corner Mon, 01 Dec 2003 11:35:00 WIB
Konsep zikir dan doa telah membuat pria berusia 35 tahun ini melambung
namanya. Uniknya, ia enggan disebut ustad. Padahal kalau berceramah, banyak
jemaah yang menangis karena sadar akan dosa-dosanya.
Lahir dengan nama Muhammad Arifin Ilham>, 8 Juni 1969 di Banjarmasin, ulama
yang tidak mau memakai gelar ustad ini dibesarkan dalam lingkungan keluarga
yang agamis. Sejak kecil, pria yang akrab disapa arifin ini sudah berniat
menjadi pendakwah, atau dai. Berkat talenta yang dimiliki serta dukungan
keluarga, keinginan itu akhirnya tercapai.
Dengan konsep zikir dan doa, dai yang mulai berdakwah dari usia 16 tahun ini
namanya semakin populer. Pengaggum almarhun Haji Abdul Malik Karim Amrullah,
atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka ini sangat yakin bahwa dengan
zikir, Indonesia bisa selamat dari bahaya.
"Zikir bisa membuat manusia lebih tenang dan sadar ajan dosa-dosa yang
pernah dibuatnya, "tuturnya.
Dalam berdakwah, suami Wahyuniati Al'wali serta ayah dua anak ini tidak
pernah mematok harga. Malah sebaliknya, kalau berdakwah di daerah, dialah
yang membagi-bagikan sedekah kepada masyarakat. Ia juga mengaku tidak
terpaku pada satu golongan tertentu, siapa pun yang memintanya berdakwah dan
dimanapun pasti dilayani.
"Saya pernah diminta Presiden Megawati berceramah. Karena sudah ada jadwal
maka saya menolaknya. bagi saya tidak ada bedanya berceramah di depan
pejabat atau rakyat biasa, si kaya atau si miskin, semuanya sama saja," kata
lulusan Universitas Nasional jurusan Ilmu Hubungan Internasional, tahun
1989.
Berikut wawancara panjang tentang visi dan misi Muhammad Arifin Ilham dari
keinginannya membangun perkampungan Islam, sampai ambisinya menyadarkan umat
dan pandangannya tentang poligami.
Bisa cerita, bagaimana cita-cita Anda menjadi dai itu muncul?
Allah yang menghendaki, sedangkan saya hanya menjalani desain-Nya. Segala
peristiwa yang terjadi telah disusun sesuai dengan kehendak Allah. Yang saya
maksud, segala ciptaan dan kejadian, musibah atau masalah, sebenarnya
merupakan proses pembelajaran Allah pada hambanya. Ini penilaian obyektif.
Sedangkan yang subyektif, berangkat dari dalam diri saya sendiri. Dari kecil
keinginan saya memang mau menyebarkan ajaran agama ke masyarakat.
Darimana Anda mempelajari ilmu agama?
Dunia ini sekolah, tempat belajar bagi saya. Dunia adalah universitas
universal dengan gurunya Allah. Tuhan mengajarkan pada hambanya, iqra
(baca), teliti, amati, kau akan menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Sakit adalah rahmat, musibah adalah hikmah.
Awalnya, saya belajar agama dari ayah. Meski beliau bukan ahli agama, tapi
berjiwa agama. Ayah selalu mengajak saya shalat Magrib dan Isya di masjid,
memberikan contoh pada saya bagaimana beragama yang benar. Anda mungkin tak
percaya, jarak masjid dengan rumah saya di Banjarmasin sekitar dua kilometer
dan kami tempuh dengan jalan kaki. Kalau orang sekarang mungkin malas
melakukannya.
Secara subyektif, saya mengikuti pendidikan formal di pesantren. SD saya di
Muhammadiyah, kemudian lanjut ke Pesantren Darunnajah di Ulujami, Cileduk.
Setelah itu, saya masuk Pesantren Assafii'yah dan selesai tahun 1989. Baru
kemudian saya melanjutkan kuliah di Universitas Nasional, jurusan Hubungan
Intemasional.
Anda Tidak mau diberi gelar ustad, padahal alim ulama seperti Anda akrab
dengan sebutan itu. Apa alasannya?
Jujur saja, gelar tersebut sungguh berat. Saya merasa belum pantas
menyandangnya. Karena kalau di Al Azhar Mesir, ustad itu setara dengan
profesor. Secara ilmu agama, pengertianulama adalah seorang yang ikhlas,
cinta pada Allah, takut pada Allah, dan rasa takutnya lebih kuat dari
segalagalanya serta setia bisa menjadi teladan bagi
umatnya.
Memang kalau di Indonesia, gelar ustad itu murah. Sekolah, terus mengikuti
kursus dakwah selama seminggu, keluarnya sudab bisa jadi ustad. Sama sekali
tidak ada kriteria khusus. Di Indonesia yang mengangkat ustad adalah umat,
tidak ada lembaga khusus.
Kalau menurut saya, hal seperti ini akibatnya bisa fatal. Makanya ada ustad
cabul. Karena dia tidak memiliki latar belakang keahlian agatna, hanya bisa
baca Alquran dan cuap-cuap saja. Contohnya; ada ulama yang berkhotbah untuk
mcngendalikan hawa nafsu, tapi selesai khotbah dia merokok. Ini artinya dari
hal kecil saja dia tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Siapa pun tahu, yang
namanya merokok itu sama sekali tidak ada manfaatnya.
Pernah mengalami peristiwa spiritual yang semakin mempertebal keimanan Anda,
misalnya bertemu para Wali Songo dan Nabi?
Walaupun ada, saya tidak akan menceritakannya. Untuk soal yang satu ini,
biar saya saja yang menyimpannya. Karena bagi saya, setiap perjalanan hidup
itu indah, karena Allah memberikan isyarat-isyarat lewat kejadian-kejadian.
Anda terkenal sebagai dai yang memasyarakatkan zikir dan doa.. Boleh tahu
dari mana ide itu lahir?
Indonesia berzikir adalah rintihan Anak Bangsa yang cinta akan negerinya dan
juga mencintai Allah. Indonesia sekarang lagi berantakan, krisis terjadi di
semua unsur, bukan hanya di bidang ekonomi.
Sebaiknya kalau kita mau jujur, iblis lah yang kini tengah menguasai semua
lini setan telah menguasai Indonesia. Sampai-sampai acara televisi saja
dikuasai oleh setan, ada program Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul belum lagi
acara misteri seperti Percaya enggak Percaya, dan yang lainnya.
Ini menunjukan harga setan mahal, pokoknya yang berbentuk tahyul harganya
tinggi. Sebagaimana disebut dalam Alquran, keburukan memang lebih disukai
dari pada kebaikan. Keburukan itu menakjubkan, sementata kebaikan sebaliknya
Jalan menuju surga penuh dengan onak dan duri, sementara menuju ke neraka
penuh dengan kemudahan. Terlena dengan kenikmatan semu, manusia sangat
gampang tergiur dengan dunia.
Lalu sejak kapan konsep zikir dan doa secara masal itu Anda lakukan?
Pada awalnya, saya berzikir hanya untuk pribadi, menikmatinya sendiri.
Setelah mendapatkan kenikmatan, kenapa tidak dibagi-bagi. Mulailah saya
mengajak orang lain, awalnya hanya dua, tiga atau empat orang. Tahun 1999
mulai bertambah menjadi tujuh orang. Setelah itu jamaah makin banyak. Tahun
2001, mulai berzikir ramai-ramai di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia
Indah.
Sampai akhirnya, saya membuat konsep yang disebut "Indonesia Berzikir". Ini
lahir karena melihat kondisi negeri yang selalu dilanda masalah. Kezaliman
terjadi di mana-mana. Kasus Marsinah, Aceh, Tanjung Priok para koruptor
dibebaskan, ulama-ulama ditangkap, Abu Bakar Baasyir difitnah, Habib Ridzik
Shihab ditangkap, akhirnya batin ini pun berontak.
Indonesia berzikir mengajak semua komponen bangsa, mulai dari ulama, pejabat
dan masyarakat duduk bersama di satu lapangan, berzikir dan berdoa.
Mendoakan negeri ini agar selamat, Jangan biarkan bangsa yang kita sayangi
ini hancur, luiuh lantak karena segelintir orang yang memiliki sifat buruk.
Anda yakin dengan cara barzikir bisa membantu menyelesaikan masaiah yang
dihadapi indonesia?
Saya optimis, jangan dalam skala yang besar dulu, cukup yang kecil saja
Tanya pada orang-orang di sekitar rumah saya yang mengikuti zikir, kenapa
majelis zikir terus bertambah? Untuk apa orang-orang dari Singapura Malaysia
dan kiai-kiai besar datang ke sini? Setiap hari zikir, puluhan ribu orang.
datang ke sini (Masjid AI- Amru Bittaqwa, Masjid tempat berzikir Muhammad
Arifin llham bersama jamaahnya, red). Alhamdulillah, mereka merasakan
mendapatkan sesuatu, yaitu perubahan.
Saya akan memberikan contoh salah satu jamaah saya. Namanya, Ujang.
Sebelumnya dia jarang shalat. Kalau Maghrib bukannya shalat, tapi menonton
otang shalat. Setelah ikut berzikir, ia jadi rajin shalat, subuh ke masjid
bersama anak-anaknya. Tidak itu saja, dia merasa mendapat ketenangan yang
selama ini tidak pernah ia rasakan. Dulu sangat tempetamental, sekarang jadi
penyabar dan pemurah.
Apa kakuatan zikir sehingga bisa membuat orang manjadi larut di dalamnya,
malah ada yang sampai menangis ?
Karena zikir lebih banyak bersifat rohani dan rasa. Rasa nikmat, rasa
bersama Allah dan rasa bersalah. Tumpukan dosa yang pernah dilakukan muncul
semuanya. Coba Anda duduk berzikir atau masuk dalam lingkaran zikir, dosa
sepuluh tahun yang pernah dilakukan akan teringat. Terbayang orang yang kita
sakiti, orangtua yang kita kasari, anak yang pernah kita jahati, istri yang
penah kita khianati. Semuanya akan muncul di depan mata, terjadilah proses
pertobatan, itu yang membuat orang sadar.
Bayangkan, ada sepasang suami-istri yang sudah mau bercerai tapi setelah
berzikir mereka lupa pada perceraian, malah rujuk kembali. Akhirnya mereka
instrospeksi dan saling memaafkan. Begitu juga anak yang durhaka pada orang
tuanya, tidak mau pulang ke rumah, ngambek. Tapi setelah berzikir, dia
mencari orang tuanya untuk mohon ampun.
Kekuatan zikir tidak hanya membuat hati umat Islam tersentuh, tapi juga non
muslim. Di sini ada juga non muslim yang berzikir. Mereka merasa mendapat
ketenangan setelah berzikir. Kekuatan zikir itu sangat luar biasa karena
zikir program Allah, bukan buatan manusia. Maka diperintahkan oleh Allah,
"Hai, orang yang beriman berzikirlah pada AIlah sebanyak-banyaknya zikir.
Bertasbihlah di waktu pagi dan petang niscaya Allah akan merahmati kalian.
Malaikat yang senang berzikir akan hadir menyertai, akan mengeluarkan kalian
dari kegelapan. Dan Allah menyayangi orang-orang beriman, salam dari Allah
bagi mereka yang berzikir. Allah telah mempersiapkan ganjaran berlipat ganda
padanya."
Realitanya, manusia hidup di muka bumi mencari tenang dan damai. Kenapa
orang gelisah? Karena ia banyak dosa. Nah, setiap lafas zikir membersihkan
dosa. Zikir adalah pembersih untuk hati yang kotor. Ketahuilah, bahwasanya
zikir membuatmu menjadi tenang.
Bagaimana pandangan Anda terhadap sekelompok organisasi Islam yang membasmi
maksiat dengan cara kekerasan?
Semuanya harus sesuai prosedur yang ada. Misalkan, ada kemaksiatan di
linkungan sekitar saya, saya akan melaporkannya dulu ke RT dan RW, terus ke
kelurahan dan Polsek. Lapor sekali, dua kali sampai tiga kali. Kalau mereka
tidak bertindak, baru kita bertindak. Itupun tidak dengan cara
menghancurkan, tapi dengan dakwah. Berikan mereka petunjuk supaya sadar,
bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang oleh agama Kalau mereka
tolak juga baru bertindak lebih keras.
Rasulullah saja melarang umatnya ubtuk berhenti mabuk secara bertahap.
Percama, boleh mabuk tapi jangan shalat. kedua, kalau mau shalat, tidak
boleh mabuk karena bisa mengganggu kekhusyukan shalat. Ketiga, baru
diharamkan karena pengetahuan umatnya tentang agama sudah meningkat. Jadi,
berdakwah harus memakai etika.
Di Eropa, terjadi pemisahan antara agama dan politik. Tapi sebaliknya di
Indonesia, banyak yang mencobamenggabungkan keduanya. Contohnya, ulama yang
masuk partai politik. Apakah Anda setuju dengan cara-cara seperti itu?
Islam itu masuk pada semua aspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial dan
budaya, makanya disebut agama universal. Sebagai contoh ketika Nabi Musa
menghadapi rezim Fir'aun dan Nabi Muhammad menghadapi Abu Jahal dan Abu
Lahab; apa itu bukan politik? Tapi politik yang ditampilkan adalah politik
akhlak.
Lalu, saat Islam disebut sebagai agama teroris, apa itu bukan politik. Islam
sekarang ini dalam kondisi yang kritis. Penilaian yang negatif seperti itu
hanya bisa ditepis dengan perbuatan mulia, bertindak dengan akhlak yang
berdasarkan pada aturan Alquran dan hadis. Akhlak mulia bisa muncul dengan
zikir. Mendekatkan diri selalu pada Tuhan, ingat mati, biar hidup lebih
sempurna. Dengan mendekatkan diri pada Pengatur Alam, semangat memperbaiki
diri akan muncul, otomatis akhlak juga akan menjadi baik. Kalau akhlak sudah
mulia, Islam akan bersinar.
Kalau soal ulama masuk politik, selama politik mereka politik akhlak,
menurut saya pribadi tidak jadi masalah. Contohnya, seperti K.H. Zainuddin
MZ. Sayangnya orang memang selalu berburuk sangka. Padahal siapa tahu dengan
masuknya dia dalam politik akan terjadi politik Islami. Mungkin kalau
terpilih jadi presiden, dia akan menjalankan pemerintahan dengan memakai
syariat Islam. Inilah kesalahan yang sering terulang, kita belum tahu tapi
sudah berani memvonis.
Kalau pendapat Anda soal poligami, gimana? Biasanya, sesaorang yang ilmu
agamama sudah tinggi, identik dengan perbuatan ini?
Poligami itu fitrah, sah-sah saja orang berpoligami selama dia mampu. Agama
tidak melarang orang untuk berpoligami. Di negara kita jumlah wanita lebih
banyak dari pria. Lalu, siapa yang akan menikahi wanitawanita yang tidak
kebagian pria?
Persoalannya, apakah manusia bisa berbuat adil? Kalau berpatokan pada
prinsip keadilan a!a Barat, ya jelas tidak bisa. Nabi Muhanimad melakukan
poligami, para Wali Songo melakukan Juga. Adil di sini bukan berarti harus
sama. Istri tua dengan muda harus beda. Maaf, dalam hubungan biologis,
jangan s'amakan yang tua dengan yang muda. Jika yang muda bisa empat kali
dalam sehari, bersama yang tua jangan lakukan sebanyak itu.
Contoh lain, yang tua sudah punya anak, tapi yang muda belum. Tentunya dalam
memberi materi harus beda. Yang tua harus lebih banyak. Bila yang tua Rp 5
juta, yang muda Rp 3 juta, itu baru adil namanya.
Berpoligami juga ada syaratnya. Pertama ikhlas, istri pertama merestui.
Kedua berilmu, poligami itu ada ilmunya. Sekarang orang beristri banyak
lebih karena hawa nafsu. Kalau berangkat dari manajemen hawa nafsu, bisa
berantakan. lstri kedua bisa ribut Ketiga telah bahagia bersama istri
berpoligami bukan karena konflik. Bukan karena perang sama istri pertama,
nikah lagi. Keempat, karena agama. Contohnya Nabi Muhammad. Beliau
berpoligami bukan karena nafsu, melainkan karena Allah. Menikah dalam rangka
menyebarkan agama. Ini juga dilakukan oleh para ulama dari Gujarat, India ke
Indonesia, untuk menyebarkan agama di Indonesia mereka mengawini wanita
pribumi.
Anda sendiri, apakah punya niat untuk berpoligami?
Apa yang saya ceritakan di atas adalah ajaran agama secara obyektif. Tapi
kalau ditanyakan tentang diri saya sendiri, nanti dulu. Saya sama sekali
tidak ada niat untuk berpoligami, karena saya sangat sayang pada istri saya.
Saya ingin mencurahkan hidup pada umat, tidak mau memikirkan diri sendiri.
Masih banyak yang harus dipikirkan selain berpoligami. Rencana saya adalah
merealisasikan bangunan pesantren sebagai tempat penampungan anak-anak yatim
piatu dan para janda. Anggaran biayanya sekitar Rp 2,2 miliar. Ini salah
satu bentuk upaya saya menghindari poligami. Mudah-mudahan keinginan ini
dikabulkan oleh Yang Kuasa.
Soal biaya pembangunannya, saya kumpulkan dari jamaah, tidak ada donatur.
Tapi dimulai dari diri saya sendiri dan kawan-kawan terdekat, jangan
mengumpulkan harta umat. Kalau Anda melihat proses awal perjuangannya, pasti
akan terkesima. Saat mengumumkan akan membebaskan tanah, semua menyambut
baik. Bayangkan, ada yang memberikan mobil, berlian, kalung, cincin dan
masih banyak lagi.
Sekarang masalah pribadi, kriteria seperti apa yang Anda tetapkan
dalam memilih pasangan hidup?
Pertama, cantik. Kalau istri tidak cantik, walau dia beriman sekalipun,
hidup kita rasanya jadi kurang bersemangat dan kerjapun jadi malas Kedua,
kaya harta. Ketiga, berasal dari kerurunan baik, yaitu keturunan ulama.
Terakhir, baru agamanya. Tapi yang terakhir inilah yang paling penting.
Setidaknya, dia saleh dan orang pesantren.
Lalu, bagaimana dengan Istri Anda sekarang. Apakah dia sudah memenuhi semua
kriteria yang Anda harapkan?
Alhamdulillah. Dia sempurna, cantik, agamis dan lulusan pesantren. Saya dan,
istri sama-sama lulusan Pesantren Darunnajah dan Universitas Nasional.
Proses pertemuannya sendiri tidak terlalu panjang, hanya dua kali bertemu
terus langsung menikah. Tidak ada jalinan percintaan seperti pada umumnya.
Waktu saya mau menikah, teman-teman saya saja sampai kaget. Ternyata saya
laku juga. He he he...
Yang pasti, orang tua, terutama ibu, memang punya andil besar dalam
menentukan siapa calon istri saya. Makanya beberapa kali saya batal menikah
karena ibu tidak setuju dengan pilihan saya. Meski begitu, saya tidak pernah
marah pada ibu saya. Bagi saya, orangtua adalah segalanya. Kalau mau berkah,
bahagiakanlah orangtua. Jangan sakiti hati mereka.
Jadwal dakwah Anda sangat padat, gimana cara Anda membagi waktu untuk
keluarga?
Selalu ada satu hari untuk keluarga. Malam hari saya sengaja tidak menerima
undangan untuk dakwah. Ini tidak bisa ditawar-tawar, kecuali keadaan
darurat. Kesempatan ini saya pergunakan untuk bercengkrama bersama keluarga,
sekaligus mempersiapkan diri untuk shalat Tahajud. Setelah shalat Subuh,
saya baru menyediakan waktu untuk berte
mu teman-teman.
Kalau ada jamaah wanita yang berkonsultasl mengenai agama, apakah Istri Anda
suka cemburu?
Awalnya, ya. Istri suka cemburu dan ketakutan. Tapi saya mencoba memberi
penjelasan. Sehingga lama-lama, ia pun jadi terbiasa. Istri paham, rumah
tang ga adalah salah satu hal terpenting dalam hidup saya. Kami berdua
berusaha menciptakan rumah tangga yang sakinah. Kuncinya adalah cintailah
Allah dari segala sumber cinta. Kemudian, saling mencintai, dan yang
terakhir, saling memuaskan baik dalam hubungan jasmani maupun rohani.
Boleh tahu, apa sih obsesi Anda di masa depan?
Semuanya diserahkan pada Allah. Saya totalitas menyerahkan diri saya pada
Yang Kuasa karena hanya Dia yang mengetahui tentang hari esok. Yang jelas
ada tiga hal yang bisa mengubah takdir. Pertama, ikhtiar. Kedua, berdoa
terus menerus. Dan yang ketiga, selalu berbaik sangka.
Insya Allah, dalam rangka menyelamatkan umat, saya dan teman-teman memiliki
rencana unruk membuat perkampungan Islami di tanah seluas 42 hektar. Ini
proyek ke depan. Rencananya akan dibuat di Cipanas, Bogor, sekitar wilayah
Puncak. Perkampungan ini akan dilengkapi dengan fasilitas supermarket, rumah
sakit dan sebagainya. Mudah-mudahan saja bisa terealisasi, sehingga kawasan
Puncak nantinya bukan lagi dikenal sebagai tempat maksiat, melainkan tempat
zikir.
Artinya, Anda tertarik juga terjun ke dunia bisnis?
Bisnis adalah efek dari dakwah. Kalau dakwah benar, Allah akan memberikan
jalan kemudahan untuk dunia. Contohnya, Aa Gym (KH. Abdullah Gymnastiar,
red.), bisa membangun pesantren, bangun kafe Islam, sampai semua lini usaha
ia kuasai. Lima ribu lebih pengangguran bekerja bersamanya, perputaran
uangnya lebih dari satu miliar per bulan. Nah, kita harus belajar pada Aa
Gym. Saya akan melakukan hal yang sama secara pelan-pelan. Karena saya bukan
ahli bisnis seperti Aa Gym, maka akan ada tim khusus yang menangani rencana
pembangunan perkampungan Islami ini. Segalanya saya serahkan pada yang ahli.
Dalam bulan Ramadhan ini, apa saja kegiatan yang Anda lakukan?
Ramadhan adalah bulan penggemblengan diri, saya lebih banyak introspeksi
diri. Ciri khas saya, suka dikritik dan selalu menerima kritikan. Ketika
shalat berjamaah, kalau bacaan saya salah, saya selalu ditegur, begitu juga
ketika memakai sarung. Dulu saya kalau pakai sarung tanpa lapisan. Terus
teman-teman menegur saya, karena katanya transparan. Sekarang kalau pakai
sarung, saya pasti pakai lapisan.
Pokoknya semua yang ada di diri saya ini adalah hasil kritikan temanteman.
Perbaikan diri tak lepas dari kritikan. Makanya jangan marah kalau dikritik,
karena kritik itu sebenarnya bukan suatu yang menjatuhkan, tapi malah
membangun.
Sumber: CBN
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com