Latihan Jalan Kaki 


Ibadah haji membutuhkan aktifitas fisik yang lebih banyak dibandingkan dengan 
ibadah lainnya. Rangkaian ibadah haji banyak dilakukan dengan berjalan kaki. Ke 
masjid, tawaf, sa'i, ke tempat-tempat ziarah, melempar jumrah, dan kegiatan 
lainnya dilakukan dengan jalan kaki.

Untuk mempersiapkan aktifitas fisik yang berat selama berhaji nanti, jauh hari 
menjelang pemberangkatan calon jamaah haji hendaknya sudah memulai latihan 
fisik. Latihan fisik bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau lari-lari kecil 
sehabis Shalat Subuh. Tak perlu jauh-jauh. Cukup 2-3 kilometer saja. Latihan 
jalan kaki ini nantinya akan sangat membantu jamaah menjalankan ibadah di Tanah 
Suci. Dengan rajin latihan fisik, tubuh tidak kaget ketika nanti harus banyak 
berjalan kaki.

Hari-hari di Madinah dan Makkah penuh dengan kegiatan fisik. Untuk ke Masjid 
Nabawi di Madinah jarak yang ahrus ditempuh dari penginapan bervariasi antara 
100 meter hingga 2 kilometer. Hotel-hotel jamaah ONH plus hanya sekitar 100 
meter dari masjid. Sedangkan untuk jamaah biasa lebih dari satu kilometer. 
Anggaplah jarak dari penginapan ke masjid 1.000 meter. Jadi untuk ke masjid 
pulang pergi 2.000 meter. Sehari berapa kali ke masjid? Anggaplah dua kali 
(Subuh dan Zuhur sampai Isya). Jadi paling tidak jamaah harus berjalan 4.000 
meter atau 4 km. Ini belum termasuk aktifitas jalan-jalan, belanja, dan 
berjalan dari pelataran masjid sampai ke dalam.

Aktivitas belanja atau jalan-jalan sering tak terhitung berapa kali sehari. 
Sekeliling Masjid Nabawi dipenuhi dengan pertokoan yang menjual aneka macam 
barang. Biasanya sebelum berangkat atau pulang dari masjid jamaah memanfaatkan 
waktu untuk 'tawaf' di pertokoan itu. Berangkat ke masjid di waktu subuh juga 
membutuhkan fisik prima. Biasanya jamaah sudah mulai berangkat ke masjid pukul 
04.30. Saat itu udara Madinah berada di titik paling rendah. Selain dingin 
angin juga bertiup kencang.

Jamaah juga perlu fisik kuat untuk wisata ziarah. Banyak tempat menarik di 
Madinah dan Makkah yang hanya bisa dicapai dengan fisik kuat. Misalnya ke Bukit 
Uhud, keliling kebun kurma, Guwa Hira, dan sebagainya. Disarankan agar jamaah 
selalu beristirahat dan tidur cukup selama di Tanah Suci. Kurangi aktifitas tak 
perlu seperti 'tawaf' di pertokoan. Sering pula terjadi jamaah mati-matian 
mengejar ibadah arbain (shalat 40 waktu tak terputus di Masjid Nabawi). Akibat 
ibadah terus-menerus jamaah kelelahan dan jatuh sakit. 

Di Makkah kesiapan fisik jamaah lebih dituntut lagi. Jarak penginapan ke masjid 
rata-rata lebih jauh. Suasana Makkah yang lebih padat juga menguras tenaga 
jamaah. Untuk bisa mendapat tempat dekat Ka'bah membutuhkan perjuangan yang 
cukup besar. Ratusan ribu orang berdesak-desakan. Untuk keluar masjid pun bukan 
perkara yang gampang. Antre di pintu keluar bisa sampai satu jam. 

Untuk jamaah yang tinggal di Aziziyah Makkah, mereka mendapat fasilitas gratis 
bus menuju Masjidil Haram. Tapi jangan bayangkan bus itu seperti di Jakarta. 
Dibutuhkan tenaga sangat ekstra untuk naik, karena jamaah Indonesia harus 
rebutan dengan jamaah dari negara lain. Bayangkan saja, satu bus diperebutkan 
ratusan orang. Postur tubuh jamaah Indonesia yang mungil selalu kalah berebut 
dengan jamaah asal Mesir, Afrika, Iran dan lainnya yang bertubuh tinggi besar. 

Ada jamaah yang memilih jalan kaki, tapi jaraknya sangat jauh, lebih dari lima 
kilometer. Jalan yang dilalui terdiri dari terowongan dan taman-taman, tapi 
tetap saja sangat melelahkan. Tawaf dan sa'i jika dalam kondisi cukup lengang, 
bisa selesai 15 menit saja. Tapi jika padat, dua jam belum tentu selesai. 
Masalahnya pelataran Ka'bah hampir mustahil lengang pada musim haji. Pagi, 
sore, siang, malam jamaah berjubel untuk tawaf.

Aktifitas fisik bertambah di Arafah dan Mina. Perjalanan ke Arafah dan kembali 
ke Mina, baik naik bis atau berjalan kaki, sama-sama membutuhkan energi besar. 
Padahal prosesi ini tak boleh ditinggalkan dan digantikan. Makanya jamaah yang 
sedang dirawat pun harus dibawa ke Arafah dengan safari wukuf. Puncak aktifitas 
fisik adalah saat melontar jumrah. Jutaan orang akan melontar jumrah rentang 
waktu yang sama. Dibutuhkan fisik yang benar-benar fit untuk menjalaninya. 
Padahal biasanya, saat inilah kondisi fisik jamaah sudah sangat menurun. Selain 
latihan jalan, istirahat, dan tidur cukup, jamaah disarankan untuk makan 
bergizi teratur agar fisik tetep oke. Selain itu obat-obatan dan makanan 
suplemen bisa membantu menjaga tubuh tetap bugar.

Tips Bugar

-latihan jalan sebelum berangkat
-kurangi kegiatan yang tak perlu
-istirahat dan tidur cukup
-makan bergizi dan teratur
-sedia obat-obatan

( sbt ) 

Kirim email ke