Mengatasi Musin Dingin 


Kebanyakan calon jamaah haji yang belum pernah ke Tanah Suci, sebelumnya 
membayangkan bahwa Arab Saudi itu hanyalah padang gersang dan panas. Anggapan 
itu tak seluruhnya salah, sebagian besar daratan Arab Saudi adalah padang 
pasir. Tapi soal panas? Nanti dulu.

Sebenarnya, di Arab Saudi ada dua musim, yakni musim panas dan musim dingin. 
Musim panas biasanya dimulai pada bulan April hingga Agustus. Pada musim ini 
sinar matahari sangat terik. Suhu udara pada siang hari bahkan bisa mencapai 55 
derajat celsius.

Sedangkan musim dingin biasanya berlangsung mulai Oktober hingga Maret. Puncak 
musim dingin justru terjadi pada musim haji, yakni sekitar Desember hingga 
Januari. 

Hingga tahun 2014 nanti jamaah haji akan mengalami musim dingin di Arab Saudi. 
Bagi jamaah yang berasal dari daerah yang mengalami musim dingin, suhu di Tanah 
Suci nanti tak akan menjadi persoalan. Namun bagi jamaah asal Indonesia, suhu 
yang kadang bisa mencapai dua derajat celcius di Tanah Suci akan menjadi 
kendala tersendiri.

Serangan dingin akan dialami jamaah baik di Jeddah, Madinah, dan juga Makkah. 
Kelembaban udara rendah. Angin bertiup kencang dan kering, tapi dingin menusuk 
tulang. Kondisi itu sangat terasa pada pagi hari dan malam hari.

Untuk menghadapi kondisi dingin di Tanah Suci nanti, sebaiknya calhaj 
mempersiapkan diri sejak sebelum keberangkatan. Sangat baik jika sejak awal 
calhaj mengetahui kondisi kesehatannya sebelum berangkat. Dengan begitu bisa 
mengantisipasi keadaan dingin nantinya.

Keluhan yang banyak dialami jamaah karena hawa dingin di Tanah Suci antara 
lain, batuk, pilek, bibir pecah-pecah, mimisan, kulit bersisisik, dan 
gatal-gatal. Selain itu hawa dingin juga berpengaruh pada mereka yang sejak 
awal termasuk dalam jamaah risiko tinggi (risti). Misalnya sakit jantung, 
hipertensi, dan lainnya.

Persiapan di Tanah Air dapat dilakukan dengan berolah raga dan makan teratur. 
Berbeda dengan ibadah lainnya, ibadah haji banyak diisi dengan kegiatan fisik. 
Tiap hari jamaah harus berjalan jauh menuju dan pulang masjid. Juga saat tawaf, 
sai, dan melempat jumrah. Antre dan berdesakan keluar masuk masjid juga 
membutuhkan banyak energi. Karena itu fisik memang harus prima. Sebelum 
berangkat ke Tanah suci biasakan lari pagi, atau minimal jalan-jalan sesudah 
Shalat Subuh.

Jangan lupa juga membawa perlengkapan yang bisa menahan dingin seperti jaket, 
kaus kaki, dan penutup kepala. Banyak jamaah haji Indonesia yang membawa sarung 
dan sebo (penutup kepala sampai leher, yang terbuka hanya bagian muka). Ini 
juga ampuh untuk menahan dingin.

Obat-obatan juga diperlukan. Misalnya obat batuk dan pilek atau anti masuk 
angin. Untuk menghindari kulit bersisik dan bibir pecah, jangan lupa membawa 
krim pelembab. Madu juga bisa dipakai untuk menghindari bibir pecah-pecah. 
Caranya dengan mengoleskannya di bibir.

Udara di Madinah lebih dingin dibandingkan di Makkah. Pada saat Subuh udara 
sangat menusuk, karena itu sebaiknya berangkat ke masjid lebih cepat, sebab 
jika tak kebagian tempat dan terpaksa shalat di pelataran masjid, dingginnya 
akan sangat menyiksa.

Pada siang hari, suhu relatif agak hangat. Namun jamaah tetap harus menghindari 
sinar matahari langsung. Dehidrasi bisa terjadi tanpa disadari. Untuk 
menghindarinya jamaah sebaiknya memperbanyak mimum air putih. Air zam-zam bisa 
mudah di dapat di masjid. Sebaiknya jamaah membawa tempat minum untuk persiapan.

Jika ada keluhan kesehatan sebaiknya langsung menghubuingi dokter atau petugas 
kesehatan. Tapi lebih baik lagi kalau dari Tanah Air kita juga sudah 
mempersiapkan obat-obatan untuk keperluan pribadi.

Di Makkah hawa dingin akan sangat terasa saat jamaah berada di Mina, 
Muzdalifah, dan Arafah. Karena itu jamaah hendaknya betul-betul mempersiapkan 
diri dengan kondisi di tempat ini. Sebaiknya sebelum wukuf, mengurangi kegiatan 
yang tak perlu sehingga kondisi badan bisa tetap prima.

Makanan tak kalah penting, harus benar-benar diperhatikan.'Makan pakai otak 
jangan pakai hati'. Itu nasihat yang sering diberikan kepada para jamaah haji. 
Nasihat itu artinya kita harus tetap makan, kendati makanan di Tanah Suci nanti 
tak sesuai dengan selera lidah. Jangan gunakan hati untuk menilai makanan itu 
enak atau tidak, tapi gunakanlah otak, bahwa jika tak makan maka kesehatan kita 
akan terganggu. Jangan sampai karena masalah makan perjalanan haji kita jadi 
berantakan.

( sbt ) 

Kirim email ke