Sudah Punya Bekal, Belum Berangkat? 


Markaban sejak pulang haji menjadi orang alim. Tidak hanya itu, ia juga suka 
menasihati para tetangganya untuk rajin beribadah dan mendatangi masjid. 
Menurutnya, dengan rajin beribadah dan mendatangi masjid untuk shalat adalah 
modal sebagai bekal kelak di akhirat. Markaban tidak peduli orang tua atau 
anak-anak, setiap bertemu dengannya pasti selalu dinasihati untuk rajin 
beribadah.

Suatu kali ia bertemu dengan anak-anak badung. Anak-anak badung tersebut sudah 
menjelang Shalat Maghrib masih saja asyik bermain-main. Tidak segera pulang 
untuk mandi dan berangkat ke masjid untuk mengaji. Kepada anak-anak badung itu, 
Markaban mengingatkan agar segera pulang dan segera berangkat ke masjid. Ia 
juga mengatakan bahwa semasih muda harus rajin-rajin beribadah.

''Semenjak kecil kamu harus rajin-rajin beribadah. Rajin shalat lima waktu dan 
ngaji di masjid. Jangan bermalas-malasan, apalagi seharian waktu hanya 
dihabiskan untuk main-main saja,'' kata Markaban. Namun nasihat Markaban 
tersebut oleh anak-anak badung dibiarkan berlalu.

Sama sekali tidak didengarkan dan mereka tetap asyik bermain. Merasa diabaikan 
nasihatnya, Markaban lalu bilang bahwa shalat dan mengaji itu bisa menjadi 
bekal kelak kalau sudah meninggal. ''Sekarang kamu harus mencari bekal untuk di 
akhiratmu kelak kalau sudah meninggal. Kalau kamu tidak mencari bekal sejak 
sekarang, kalau sudah meninggal tidak ada waktu lagi untuk mencari bekal,'' 
katanya lagi.

Dasar anak badung, diperingatkan baik-baik malah membantah dan meledek. Di 
antara mereka bertanya, ''Emang Pak Kaji Markaban sudah punya bekal?'' 
Mendengar jawaban itu, Markaban langsung menjawab bahwa dirinya sudah punya 
bekal ke akhirat dengan kini ia menjalankan semua perintah ibadah. ''Kalau 
sudah punya bekal, kenapa Pak Kaji Markaban tidak segera berangkat ke 
akhirat,'' kata anak-anak badung.

Kali ini Markaban tidak bisa bersabar. ''Eh, sialan ente. Dasar anak badung. 
Diperingatkan untuk mengaji dan shalat untuk bekal kelak, malah mendoakan orang 
tua mati,'' kata Markaban dengan marah-marah. Keruan, anak-anak badung 
ketakutan dan kabur pulang ke rumah mereka masing-masing. 

( wot ) 

Kirim email ke