assl.wr.wb.

Artikel dibawah ini sebelumnya sudah diposting ke milis dkm, namun karna dirasa 
perlu juga diketahui oleh yang lainnya, maka saya kirimkan juga ke milis 
arroyyan dgn harapan mari kita sama-sama kembali ke koridor jamaah (termasuk 
disini dalam hubungannya dengan organisasi masjid, dan tidak meninggalkan 
urusan akhirat apalagi lebih cenderung ke masalah dunia, yang bukan tidak 
mungkin dipengaruhi oleh umat lainnya yang ingin memecah belah umat Islam... 
ingat politik devide et empera ketika di jaman penjajahan dulu).

akhirul kalam.
wassl.wr.wb.

Agus Rasidi

============================
Beramal Islami di Dalam dan Melalui Jama'ah
Oleh: Anis Matta,Lc

Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencinta
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu

Itulah beberapa bait dari sajak doa Iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada 
setiap kesaksiannya atas zamannya; ummat ini seperti daun-daun yang 
berhamburan. Seperti daun-daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi 
kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih 
menggayut pada pohonnya.

Begitulah kenyataan ummat ini; mungkin banyak orang saleh diantara mereka, 
tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam 
sebuah wadah yang bernama jama'ah. Mungkin banyak orang hebat diantara 
mereka, tapi kehebatan mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak 
potensi yang tersimpan pada individu- individu diantara mereka, tapi 
semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.

Maka jama'ah adalah alat yang diberikan Islam bagi umatnya untuk menghimpun 
daun-daun yang berhamburan itu; supaya kekuatan setiap satu orang saleh, 
atau orang hebat, atau satu potensi, bertemu padu dengan kekuatan saudaranya 
yang lain, yang sama salehnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.

Jama'ah juga merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan 
perbedaan-perbedaan pada individu. Di dalam satu jama'ah, individu- individu 
yang memiliki kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka meskipun ada 
banyak jama'ah, itu tetap jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. 
Sebab jauh lebih mudah memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau 
simpul-simpulnya, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.

Maka jalan panjang menuju kebangkitan kembali ummat ini, harus dimulai dari 
menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta 
diantara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian 
`meledakkannya' pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang 
teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Tapi itulah masalahnya. Ternyata itu bukan pekerjaan yang mudah. Ternyata 
cinta tidak mudah ditumbuhkan diantara mereka. Ternyata orang saleh tidak 
mudah disatukan. Ternyata orang hebat tidak selalu bersedia menyatu dengan 
orang hebat yang lain. Mungkin itu sebabnya, ada ungkapan di kalangan 
gangster mafia; seorang prajurit yang bodoh, kadang-kadang lebih berguna 
dari pada dua orang jenderal yang hebat. Tapi tidak ada jalan lain; nabi 
umat ini tidak akan pernah memaafkan setiap orang diantara kita untuk 
meninggalkan jama'ah semata-mata karena ia tidak menemukan kecocokan bersama 
orang lain dalam jama'ahnya. Sebab, kekeruhan jama'ah, kata Imam Ali Bin Abi 
Thalib Ra, jauh lebih baik daripada kejernihan individu.

Dari Individu ke Jama'ah

Orang-orang saleh diantara kita harus menyadari, bahwa tidak banyak yang 
dapat ia berikan atau sumbangkan untuk Islam kecuali kalau ia bekerja di 
dalam dan melalui jama'ah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada 
orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain, bahwa 
tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi 
segalanya, bahwa kecerdasan individual tidak pernah dapat mengalahkan 
kecerdasan kolektif. Bekerja di dalam dan melalui jama'ah tidak hanya 
terkait dengan fitrah sosial kita, tapi terutama terkait dengan kebutuhan 
kita untuk menjadi lebih efisien, efektif dan produktif.

Ada juga alasan lain. Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli- ahlinya 
dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua 
aktivitas manusia dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, 
politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan 
dan lainnya. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat 
moderen menjadi sangat efektif dan efisien serta produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan- keterbatasan 
yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi 
keterbatasan mereka itu dengan kekuatan- kekuatan yang ada pada 
individu-individu yang lain.

Jadi kebutuhan setiap individu Muslim untuk bekerja, atau beramal Islami di 
dalam dan melalui jama'ah, bukan saja lahir dari kebutuhan untuk 
meningkatkan efektivitas, efesiensi dan produktivitasnya, tapi juga lahir 
dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal Islami pada level yang setara 
dengan tantangan zaman kita.

Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka 
dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan 
kalau ada, biasanya tanpa manajemen.

Pilihan untuk bekerja dan beramal Islami di dalam dan melalui jama'ah hanya 
lahir dari kesadaran mendalam seperti ini. Tapi kesadaran ini saja tidak 
cukup. Ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat 
bekerja lebih efektif, efisien dan produktif dalam kehidupan berjama'ah.

Pertama, kesadaran bahwa kita hanyalah bagian dari fungsi pencapaian tujuan. 
Jama'ah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar. Untuk jama'ah bekerja 
dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Di 
dalam strategi besar itu, individu harus ditempatkan sebagai bagian dari 
keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapainya.

Jadi sehebat apa pun seorang individu, bahkan sebesar apa pun kontribusinya, 
dia tidak boleh merasa lebih besar daripada strategi dimana ia merupakan 
salah satu bagiannya. Begitu ada individu yang merasa lebih besar dari 
strategi jama'ah, maka strategi itu akan berantakan. Untuk itu setiap 
indvidu harus memiliki kerendahan hati yang tulus.

Kedua, semangat memberi yang mengalahkan semangat menerima. Dalam kehidupan 
berjama'ah terjadi proses memberi dan menerima. Tapi jika pada sebagian 
besar proses kita selalu berada pada posisi menerima, maka secara perlahan 
kita `mengkonsumsi' kebaikan-kebaikan orang lain hingga habis. Itu tidak 
akan pernah mampu melanggengkan hubungan individu dalam sebuah jama'ah. 
Betapa bijak nasihat KH Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah; 
"Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam 
Muhammadiyah".

Ketiga, kesiapan untuk menjadi tentara yang kreatif. Pusat stabilitas dalam 
jama'ah adalah kepemimpinan yang kuat. Tapi seorang pemimpin hanya akan 
menjadi efektif apabila ia memiliki prajurit-prajurit yang taat dan setia. 
Ketaatan dan kesetiaan adalah inti keprajuritan. Begitu kita bergabung dalam 
sebuah jama'ah, kita harus bersiap untuk menjadi taat dan setia. Tapi ruang 
lingkup amal Islami yang sangat luas membutuhkan manusia-manusia kreatif. 
Dan kreativitas tidak bertentangan dengan ketaatan dan kesetiaan. Jadi kita 
harus menggabungkan antara ketaatan dan kreativitas; ketaatan lahir dari 
kedisiplinan dan komitmen, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan 
kelincahan. Dan itu merupakan perpaduan yang indah.

Keempat, berorientasi pada karya, bukan pada posisi. Jebakan terbesar yang 
dapat menjerumuskan kita dalam kehidupan berjama'ah adalah posisi 
struktural. Jama'ah hanyalah wadah bagi kita untuk beramal. Maka kita harus 
selalu berorientasi pada amal dan karya yang menjadi tujuan utama kita 
berjama'ah, dan memandang posisi structural sebagai perkara sampingan saja. 
Dengan begitu kita akan selalu bekerja dan berkarya ada atau tanpa posisi 
struktural.

Kelima, bekerjasama walaupun berbeda. Perbedaan adalah tabiat kehidupan yang 
tidak dapat dimatikan oleh jama'ah. Maka adalah salah jika berharap untuk 
hidup dalam sebuah jama'ah yang bebas dari perbedaan. Yang harus kita 
tumbuhkan adalah kemampuan jiwa dan kelapangan dada untuk tetap bekerjasama 
di tengah berbagai perbedaan. Perbedaan tidaklah sama dengan perpecahan, dan 
karena itu kita tetap dapat bersatu walaupun kita berbeda.

Jama'ah yang Efektif

Mungkin jauh lebih realistis untuk mencari jama'ah yang efektif ketimbang 
mencari jama'ah yang ideal. Kita adalah ummat yang sakit. Setiap kita 
mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu 
saling bertemu dalam sebuah jama'ah, pada dasarnya jama'ah itu juga 
merupakan jama'ah yang sakit. Itulah faktanya. Tapi tugas kita menyalakan 
lilin, bukan mencela kegelapan.

Jama'ah yang efektif adalah jama'ah yang dapat mengeksekusi atau 
merealisasikan rencana-rencananya. Kemampuan eksekusi itu lahir dari 
integrasi antara berbagai elemen; ada sasaran dan target yang jelas, 
strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja 
dengan penuh semangat, lingkungan strategi yang kondusif. Jama'ah yang 
didirikan untuk kepentingan menegakkan syariat Allah Swt di muka bumi, akan 
menjadi efektif apabila ia memiliki syarat-syarat berikut ini;

Pertama, ikatannya aqidah, bukan kepentingan. Orang-orang yang bergabung 
dalam jama'ah itu disatukan oleh ikatan aqidah, dipersaudarakan oleh iman, 
dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan 
duniawi yang biasanya lahir dari dua kekuatan syahwat; keserakahan (hubbud 
dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

Kedua, jama'ah itu sarana, bukan tujuan. Jama'ah itu tetap diposisikan 
sebagai sarana, bukan tujuan. Sehingga tidak ada alasan untuk memupuk dan 
memelihara fanatisme sekadar untuk menunjukkan kesetiaan pada grup. 
Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama'ah- jama'ah itu saling bekerja 
sama diantara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam 
pertarungan yang saling mematikan.

Ketiga, sistem, bukan tokoh. Jama'ah itu akan menjadi efektif jika 
orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, 
bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan 
prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalah sesuatu yang terpisah. 
Dengan cara ini kita mencegah munculnya diktatorisme dimana selera sang 
Pemimpin menjelma menjadi sistem.

Keempat, penumbuhan, bukan pemanfaatan. Sebuah jama'ah akan menjadi efektif 
jika ia memandang dan menempatkan orang-orang yang bergabung ke dalamnya 
sebagai pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh- kembangkan secara 
terus menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama'ah itu. Jama'ah itu akan 
menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas 
individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus 
dipaksa bekerja keras, atau sapi- sapi yang dungu yang harus diperah setiap 
saat.

Kelima, mengelola perbedaan, bukan mematikannya. Jama'ah yang efektif selalu 
mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya. Dan itu 
dilakukan melalui mekanisme syuro yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan 
untuk diubah menjadi konsensus.. 

Kirim email ke