----- Original Message ----- 
From: saman 
To: Ka Udin BNI ; Suwardi Mappewa ; Yaya ; [EMAIL PROTECTED] ; Yusran ; Wulan 
Samarinda ; [EMAIL PROTECTED] ; Andri Reza ; [EMAIL PROTECTED] ; Achmadi Hamid 
; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, December 19, 2006 12:05 AM
Subject: :SPAM: Jangan jadi gelas


      Jangan jadi gelas

      Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
      belakangan ini selalu tampak murung.

      "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
      dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.

      "Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
      tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang
      murid muda.

      Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
      Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
      Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
      gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
      yang diminta.

      "Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
      Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
      Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
      asin.

      "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

      "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
      meringis.

      Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
      keasinan.

      "Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
      tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
      Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
      bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
      asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
      di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

      "Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
      mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
      danau.

      Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
      membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
      dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
      kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

      "Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
      punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
      air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
      Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
      tersisa di mulutnya.

      "Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

      "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
      meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
      membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

      "Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
      dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
      Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
      kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
      untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
      dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
      demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
      bebas dari penderitaan dan masalah."

      Si murid terdiam, mendengarkan.

      "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
      tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak,
      supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu
      dalam dadamu itu jadi sebesar danau
     
             
     

<<attachment: newimage.jpg>>

Kirim email ke