----- Original Message -----
From: "Hendy" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Milis_Iqra" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 15, 2007 9:15 AM
Subject: [Milis_Iqra] Fengshui
Sumber : sepia.blogsome.com
Fengshui
"Bapak percaya fengshui?" begitu kira-kira pertanyaan saya suatu
ketika kepada Pak Dimitri.
"Alam ini adalah simbol Pak...," jawab Pak Dim tidak langsung, yang
seterusnya menyampaikan dasar pemikiran tentang keteraturan alam, dan
betapa mungkinnya bahwa semua simbol-simbol di alam semesta itu bisa
ditafsirkan. Singkatnya, kita memang harus percaya bahwa peramalan itu
memungkinkan.
Sebagai muslim, saya percaya akan adanya ramalan. Sebentar, bukankah
ada hadits yang melarang kita mempercayai peramal?
"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya
tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari". (HR
Muslim dari sebagian Istri-istri Rasulullah Saw)
sumber : http://paranormalsakti.freehomepage.com/about.html
Saya percaya akan adanya ramalan BUKAN berarti saya percaya sembarang
peramal. Bukti-bukti tentang ilmu mengetahui masa depan dicontohkan
pada kisah para nabi, diantaranya adalah Nabi Yusuf ketika
menerjemahkan mimpi dua orang yang dipenjara. Seorang ditafsirkan
mimpinya bahwa dia akan bebas, dan seorang lagi akan dihukum mati.
Ramalannya benar. Setelah itu beliau menafsirkan mimpi raja bahwa akan
terjadi masa makmur selama 7 tahun dan masa paceklik selama 7 tahun.
'Ramalan'nya benar. Dalam hadits, juga terdapat beberapa 'ramalan'
Nabi Muhammad tentang masa depan. Yang menyampaikan adalah Nabi.
Akankah Anda tak percaya? Ini adalah bukti nyata bahwa ramalan itu
ada.
Kalau Nabi kita percaya, bagaimana kalau Mama Lauren? Apalagi ramalan
bintang di koran lokal yang tampaknya diambil dari sembarang kumpulan
database ramalan zodiak, apakah Anda juga percaya? Bagaimana dengan
Fengshui, percaya juga?
Saya sendiri memilih, kadang percaya, kadang tidak. Sikap tersebut
didasarkan bahwa keteraturan di alam ini memang sebenarnya bisa
diramalkan, namun tetap saja sulit dilakukan.
Fengshui sebenarnya adalah kumpulan pengamatan manusia atas fenomena
alam. Fenomenanya sendiri teratur, pengamatnya sangat mungkin bias.
Bila orang Cina pakai istilah Naga Hijau dan Macan Putih, itu adalah
cara mereka membuat penjelasan atas fenomena alam itu sendiri.
Simbolisasi ini (yang bisa juga disebut 'rumus') jelas sangat mungkin
salah. Kalau mereka membuat 'rumus' itu berdasarkan pengamatan di
belahan bumi utara (negeri Cina), apakah masih berlaku untuk belahan
bumi selatan (misalnya di Jawa)? Kalau dulu belum ada listrik, telepon
seluler, perubahan iklim global, bergesernya kutub magnet bumi, dll,
apakah 'rumus' kuno itu masih akan manjur seperti saat pengamatan dulu
dilakukan? Logikanya sih, tidak.
Namun tentu ada pengamatan yang masih berlaku. Misalnya Anda bekerja
membelakangi pintu masuk (secara Fengshui ini posisi buruk), tentu
masih akan berlaku hingga saat ini. Secara psikologis tetap saja
seseorang merasa tidak nyaman bila setiap saat bisa terjadi seseorang
mengintainya dari sebelah belakang. Yang ini saya percaya.
Bagaimana dengan instrumen pendukung Fengshui seperti perhitungan
bintang, shio, dll. Yang ini menurut saya sangat mungkin 'rumus'nya
sudah tidak jitu lagi. Posisi bintang terus berubah (galaksi ini terus
berputar kawan, bukan di atas seekor kura-kura seperti anggapan orang
kuno dulu). Secara pemodelan sederhana sudah jelas rumusnya tak akurat
lagi. Saat ini pun sudah resmi dirumuskan zodiak ke-13 (OPHIUCHUS 30
Nov - 17 Des), rumus peramal bintang sudah pasti jadi meleset.
Jadi saya mempercayai ramalan sekedar sebagai 'rumus' perkiraan dengan
keakuratan rendah. Ibaratnya ramalan cuaca. Kita harus percaya bahwa
peramalan itu mungkin. Sekaligus juga percaya bahwa secara statistik
ramalan itu cuma sebuah peluang belaka. Ramalan cuaca saat ini yang
didukung pengamatan satelit, jelas lebih akurat dibandingkan ramalan
nasib. Saya percaya dengan Fengshui, sebatas sebuah 'model rumus'
dengan keakuratan bervariasi. Sebagian mungkin akurat 60 persen.
Lainnya mungkin akurat 20 persen saja.
Bagaimana dengan keakuratan ramalan Mama Lauren? Saya percaya... bahwa
itu juga hanya peluang.
Saya percaya bahwa sebagian orang diberi karunia tertentu, yah bisa
kita katakan kecerdasan supranatural. Tak perlu diragukan lagi, memang
faktanya jelas. Masalahnya adalah, apakah kita percaya Mama Lauren
punya karunia kelebihan seperti itu? Ya, terserah Anda mau percaya
atau tidak. Sulitnya hal semacam ini karena metode pembuktian ilmiah
sulit dilakukan. Instrumen pengukurannya apa? Siapa yang bisa
dijadikan kalibrasi/referensi?
Anggap Mama Lauren punya kemampuan supranatural itu (dan hal tersebut
sah-sah saja dimiliki seseorang). Yang penting adalah, bagaimana sikap
kita terhadap sebuah ramalan?
Saya pernah diramal menjadi orang sukses, sepertinya Anda juga pernah.
Saya pernah diramal akan gagal pada umur sekian dan sukses pada umur
sekian. Pernah diramal bisnis tertentu akan oke, dan lain sebagainya.
Menurut pengamatan saya, semua ramalan itu tidak jelas keakuratannya.
Saat ini saya (merasa) sukses pada sebagian hal, dan gagal pada
sebagian yang lain. Jadi bagaimana kita bisa katakan ramalan tersebut
akurat bila semua kondisi peramalan itu terjadi?
Penjelasan tentang 'keakuratan' ramalan Mama Lauren dan semacamnya ini
bisa dikaitkan dengan adanya Qadla' (ketetapan Allah atas suatu
kejadian) dan Qadar (terjadinya suatu kejadian) dalam ilmu Islam.
Semua hal di dunia ini sudah ada ketetapannya (disebut Qadla'),
sehingga sering kita diberitahu tentang lahir, rizki, mati, daripada
seseorang sebenarnya sudah ditentukan. Nah, yang sering salah
diartikan oleh kebanyakan orang adalah, bahwa Qadla' seseorang itu
tunggal, padahal sesungguhnya bisa BANYAK!
Sesuatu yang pasti itu belum tentu tunggal. Sebuah persamaan kuadrat
atau polinomial dalam matematika bisa mempunyai jawaban benar dua,
tiga, bahkan sangat banyak. Jawabannya bisa banyak tapi pasti! Artinya
himpunan jawabannya itu sudah tertentu, walaupun jumlahnya banyak. Di
luar himpunan jawaban tersebut adalah kemustahilan. Sebagai ilustrasi,
bahwa peluang Anda menikah dengan salah satu teman Anda sekarang
pastilah ada, walau mungkin kecil sekali. Tapi peluang Anda menikah
dengan Cleopatra misalnya jelas suatu kemustahilan karena hidup di
masa yang berbeda.
Nah, dari jutaan ketentuan qadla' tersebut, bisa saja sebagian kecil
tertangkap oleh indera keenam (supranatural) seseorang. Misalnya Mama
Lauren meramal tentang suatu kejadian, maka saya berpandangan bisa
saja memang dia menangkap isyarat satu dari jutaan pilihan masa depan.
Berapa peluang kejadian tersebut akan terjadi? Ya, variatif, bisa
sangat kecil (karena qadla' sesungguhnya jutaan), bisa cukup besar
(karena qadla' sesungguhnya hanya beberapa puluh). Jadi bagaimana kita
bisa yakin ramalan itu benar? Ya, sulit.
Yang bisa kita lakukan adalah menganggapnya sebagai input mentah. Itu
ibarat seorang guru yang melihat muridnya malas belajar, lalu
meramalkan bahwa si murid akan gagal ujian. Bisa saja ramalannya
meleset karena si murid tiba-tiba rajin belajar, atau dapat contekan
saat ujian, atau soal ujian yang keluar kebetulan saja dia bisa.
Prediksi si guru (yang muncul dari akumulasi pengetahuan yang menjadi
intuisi) bisa kita anggap sebagai peringatan awal. Tapi jelas sangat
jauh dari mutlak.
Jadi kalau ada ramalan (atau saya diramal tanpa diminta), saya anggap
itu sebagai input mentah. Mungkin berguna, mungkin tidak. Pengalaman
selama ini sih, minta diramal (dulu waktu kecil terpikat oleh tawaran
peramal pinggir jalan, hehe) ternyata tidak akurat, atau tepatnya
tidak bisa dibuktikan keakuratannya.
Kesimpulan sekarang : semua ramalan itu hakikatnya cuma ilmu statistik
saja. Ketepatannya tidak pernah mutlak. Kadang tepat, sering juga
meleset. Dalam statistik itu disebut model dengan reliabilitas
(keandalan) rendah. Misalnya, kalaupun sinyal-sinyal masa depan yang
ditangkap Mama lauren itu benar, penafsiran atas sinyal itu secara
akurat sangat sulit (data valid, penafsiran Mama Lauren lah yang
bias). Hanya orang-orang tertentu seperti misalnya Nabi Yusuf dan Nabi
Khaidir saja yang tingkat keakuratannya tinggi.
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Ibnu Masud R.A. berkata bahwa Rasulullaah SAW. bersabda, Tidak halal darah
seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah dan
aku adalah utusan Allah kecuali karena salah satu dari tiga hal: berzina
padahal ia sudah menikah, membunuh orang, meninggalkan agamanya, dan
memisahkan diri dari jamaah. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)