----- Original Message -----
From: [EMAIL PROTECTED]

Jemie: Azan itu masih terngiang di telingaku

Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural
Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat
dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir
pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang
yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar
dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung
dengan the Islamic Forum for non Muslims, tapi rupanya
orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.

Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule
dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut
sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan
salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya
mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam
(Palestina, Jordan atau Libanon).

Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya:
"Hi, what's your name and where are you from?" Dengan
sedikit tersenyum dia menjawab: "Hi,. I am Jemie. I am
from here but my parents are from Texas". Saya ingin
tahu kepasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya:
"How come you said salaam in way that's so perfect? I
tended not to believe that you're an American". "Oh..I
know Arabic and speak it fluently" jawabnya cepat.

Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab.
"Aena darasti al Arabiyah?" tanyaku. "Darastuha fi
Suriyah, lakin qabla sanawaat", jawabnya. Tanpa terasa
percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang
dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar
bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari
penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar
Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI
(Department of Public Information) PBB New York.

Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya
mengetaui Islam. "I know a lot about Islam. Basically
I am coming this morning because I feel this is the
right time for me", katanya. "What do you mean the
right time?" tanyaku. Dengan sedikit serius dia
menjelaskan: "For the last many years, about 10 years,
I have been so confused and struggling within my
self". "Why is that?" tanyaku dengan sedikit heran.

Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan
selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata. "You
know, I tried my best not to this", katanya sambil
mengusap air matanya. "Why is that?" tanyaku. "This
may kill my career" katanya agak gusar. Saya kemudian
bertanya dengan serius: "What do you mean killing your
career?". Seolah memaksakan tersenyum, Jemie
mengatakan bahwa dia khawatri kalau masuk Islam akan
susah meniti karir yang lebih tinggi.

Saya kemudian bertanya lebih jauh: "Why do you think
in that way?". Ternyata karena pengalaman yang dia
lihat selama ini di beberapa negara Muslim.
Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara
Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan
dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.

Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak
ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum
wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu
akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan
hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu
menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika
dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti
terjadi "kesemrawutan" dalam hidup.

Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjnag itu
nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam
ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi
Muslim dia akan dilarang untuk berkarir. "In fact,
Islam wants all Muslim women to be professional.
Didn't you read the hadith that commands the women to
study as men?", jelasku.

Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara
dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya
juga tidak dihiraukan. Tiba-tiba saja sekali lagi
nampak berlinang airmata dan mengatakan: "I have some
thing to tell you!" "What's that?" tanyaku. Dia dengan
nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata
mengatakan: "When I was in Syria around ten years ago,
I was so impressed with the Azan". Saya mengatakan
bahwa memang azan orang-orang Suriah itu indah. "Their
voice is softer than other Arabs, kata saya. "But I
swear, that azan never gone from my ear. I feel being
listening to it all the time" katanya serius.

Tanpa sadar, saya langsung mengatakan "Subhanallah!".
Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian
mengatakan: "Sister, God is loving you. Your heart is
being attached to the divine inspiration, and I am
sure you are being blessed with that". Nampak Jemie
hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.

Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan
berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai
jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!

New York, 18 Juni 2007

Syamsi Ali

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW 
bersabda, Jika seorang Imam membaca ghairil maghdhuubi alaihim waladh 
dhaalinn, maka ucapkanlah oleh kalian aamiin, karena barangsiapa ucapannya
itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang
masa lalu (Shahih Bukhari no. 782)

Kirim email ke