Pengantar :
Kajian Islam berikut ini bertemakan amalan yang tak terputus dengan
berdasarkan Hadits Shahih dari Abu Hurairah dimana salah satunya adalah
shadaqoh jariyah ( termasuk shadaqoh dalam pembangunan Masjid ).dan Hadits
riwayat Ibnu Majah yang meriwayatkan tentang amal kebajikan yang akan sampai
kepada mayit setelah meninggalnya, dimana diantaranya adalah masjid yang dia
dirikan.
Semoga bermanfaat.
wassalam / agus rasidi
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Amalan yang tak Terputus
Muhadharah (ceramah) yang disampaikan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan tentang
syarah hadits "Apabila anak Adam meninggal dunia maka akan terputus segala
amalannya kecuali tiga perkara.".
Segala puji hanya milik Allah Yang mempunyai segala apa yang ada di langit
maupun di bumi. Bagi-Nya segala pujian di dunia maupun di akherat dan Dialah
Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya manusia diciptakan di alam
kehidupan ini bertujuan untuk beramal, kemudian nanti akan dibangkitkan di
hari kiamat untuk dibalas berdasarkan apa yang telah mereka amalkan. Maka
manusia tidak diciptakan sia-sia, juga tidak ditelantarkan begitu saja.
Orang yang beruntung adalah orang yang telah memberikan kebaikan untuk
dirinya yang akan dia dapatkan simpanannya di sisi Allah. Dan orang yang
celaka adalah orang yang yang memberikan kejelekan untuk dirinya yang akan
mengakibatkan kesengsaraan.
Lihatlah kepada amal-amalmu, dan mawas dirilah sebelum datang ajalmu, karena
kematian menandakan terputusnya amalan dan merupakan permulaan menuai
balasan. Kematian begitu dekat namun kalian tak mengetahui kapan datangnya.
Dan perhitungan amal sangat teliti namun kalian tak mengetahui kapan
saatnya. Rambut beruban telah memberikan tanda peringatan akan kematian,
maka bersiaplah menghadapinya. Kematian teman karib seseorang menandakan
dekatnya kematian dirinya.
Ingatlah kematian, beramallah untuk menghadapi masa sesudahnya yang pasti
kalian akan datang menemuinya dan menetap di sana. Jangan sampai dilalaikan
dengan sesuatu yang kalian datangi tapi akan segara kalian tinggalkan.
Jangan tertipu dengan impian-impian panjang lalu menjadi lupa dengan
kedatangan ajal. Berapa banyak orang yang mendambakan sesuatu lalu tidak
bisa dia dapatkan. Berapa banyak orang yang hidup dalam waktu paginya suatu
hari, lalu tak menemui waktu sorenya; atau mengalami sorenya suatu malam
namun tak menemui paginya. Berapa banyak orang ketika datang ajalnya
berangan untuk ditunda beberapa saat lagi agar dia bisa memperbaiki
kesalahannya serta melakukan apa yang telah dia lupakan. Maka dikatakan
padanya : "Mustahil, apa yang kau harapkan telah berlalu, kami telah
memperingatkanmu sebelumnya dan kami telah ancam kamu bahwa tidak ada waktu
lagi untuk kembali". Allah berfirman (yang artinya) :
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka
mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa
yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah
seorang di antara kamu; lalu ia berkata : "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak
menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku
dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah
sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang
waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al
Munafiqun : 9-11)
Sebenarnya seseorang itu terhenti amalnya tatkala datang kematiannya. Tetapi
ada beberapa amalan yang dilakukan pada saat hidupnya dan manfaatnya
terus-menerus dipakai, maka pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya
meskipun temponya berlangsung lama. Dan itu berbentuk segala usaha kebaikan
yang bisa bermanfaat bagi manusia ataupun binatang ternak; seperti
wakaf-wakaf untuk kebaikan, pohon-pohon berguna yang berbuah, sumber-sumber
air minum, membangun masjid-masjid dan madrasah, anak keturunan yang shalih,
mengajarkan ilmu bermanfaat dan mengarang kitab-kitab yang berfaedah.
Di dalam As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
"Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali
tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih
yang mendoakan kepadanya".
Hadits ini menunjukkan terputusnya amalan seseorang itu dengan kematiannya,
dan waktu untuk beramal adalah selama dia masih berada dalam kehidupannya.
Maka wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari sikap lalai dan
membuang-buang waktu, dan hendaklah bersegera melakukan ketaatan sebelum
datang kematian, tidak mengakhirkannya sampai waktu yang mungkin tidak bisa
dia gapai. Dalil-dalil yang menunjukkan perintah untuk berlomba-lomba dalam
kebaikan, bersegera dalam melakukan ketaatan dan bercepat-cepat untuk
melakukan amalan banyak, menandakan bahwa kalau tidak segera dikerjakan hal
itu akan luput dari tangan kita.
Hadits tadi menunjukkan dikecualikannya amalan kebaikan yang terus bisa
dimanfaatkan setelah meninggalnya orang yang melakukannya, tidak terputus
dengan kematian dia. Bahkan pahalanya akan terus mengalir selama bermanfaat
meskipun bisa bertahan sampai lama.
Perkara-perkara itu adalah :
Pertama : shadaqah jariyah.
Para ulama telah menafsirinya dengan wakaf untuk kebaikan. Seperti
mewakafkan tanah, masjid, madrasah, rumah hunian, kebun kurma, mushaf, kitab
yang berguna, sumber-sumber air minum berupa sumur, bak, kran-kran minum
dengan pendingin, dan lain sebagainya. Disini merupakan dalil
disyariatkannya mewakafkan barang yang bermanfaat dan perintah untuk
melakukannya, bahkan itu termasuk amalan yang paling mulia yang bisa
dilakukan seseorang untuk kemuliaan dirinya di akhirat. Yang pertama ini
bisa dilakukan oleh para ulama maupun orang awam.
Kedua : ilmu yang bermanfaat.
Hal ini bisa dilakukan dengan cara seseorang mengajarkan ilmu kepada manusia
perkara-perkara agama mereka. Ini khusus bagi para ulama yang menyebarkan
ilmu dengan cara mengajar, mengarang dan menuliskannya. Orang yang awam juga
bisa melakukannya dengan cara ikut serta di dalamnya berupa mencetak
kitab-kitab yang bermanfaat atau membelinya lalu menyebarkannya atau
mewakafkannya. Juga membeli mushaf lalu membagikannya kepada orang-orang
yang membutuhkan atau meletakkannya di masjid-masjid. Hal ini menganjurkan
kita untuk mempelajari ilmu dan mengajarkannya, menyiarkannya dan
menyebarluaskan kitab-kitabnya agar bisa mengambil manfaat sebelum dan
sesudah kematian dia.
Manfaat ilmu akan tetap ada selama di permukaan bumi ini masih ada seorang
muslim yang sampai kepadanya ilmu tersebut. Berapa banyak ulama yang
meninggal semenjak ratusan tahun yang lalu tetapi ilmunya masih ada dan
dimanfaatkan melalui kitab-kitab yang telah dikarangnya lalu dipakai dari
generasi ke generasi sesudahnya dengan perantara para muridnya kemudian para
pencari ilmu setelah mereka. Dan setiap kali kaum muslimin menyebutkan nama
dia, mereka selalu mendoakan kebaikan dan mendoakan agar Allah merahmati
dia. Ini adalah fadhilah dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang
dikehendaki. Berapa banyak generasi yang diselamatkan Allah dari kesesatan
dengan jasa seorang alim, maka alim itu mendapatkan seperti pahala orang
yang mengikutinya sampai hari kiamat.
Ketiga : anak shalih
Anak shalih baik laki-laki maupun perempuan, anak kandung maupun cucu, akan
terus mengalir kemanfaatan mereka untuk para orang tua berkat doa baik yang
diterima Allah untuk ibu bapak mereka. Juga shadaqah yang dilakukan
anak-anak shalih untuk orang tua, juga hajinya, bahkan doa yang diucapkan
orang yang pernah mendapatkan kebaikan dari anak-anak tersebut. Seringkali
orang yang mendapatkan kebaikan dari seseorang dia mengatakan : "Semoga
Allah merahmati orang tuamu dan mengampuni mereka".
Disini juga menunjukkan anjuran untuk menikah, dengan tujuan untuk
mendapatkan anak yang shalih, dan melarang dari membenci banyaknya anak.
Sebagian manusia kadang terpengaruh dengan propaganda-propaganda sesat
sampai dia membenci banyaknya anak dan berusaha untuk membatasi kelahiran
atau bahkan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Ini dikarenakan
kebodohan mereka terhadap ilmu agama dan ketidaktahuan mereka tentang hasil
yang akan didapatkan nanti, serta disebabkan karena lemahnya iman.
Dalam hadits tadi juga terdapat anjuran untuk mendidik anak agar menjadi
shalih dan menumbuhkan mereka dalam ajaran Islam dan dalam keshalihan agar
mereka menjadi generasi yang shalih buat orang tua mereka yang nantinya
mendoakan kebaikan kepada mereka setelah meninggal. Dan terus menerus
kebaikan pahala akan mengalir meskipun telah terputus amalan orang tua.
Pada zaman ini banyak sekali orang yang melalaikan permasalahan tersebut.
Tidak memperhatikan kepada pendidikan anak-anaknya, justru mendidik anaknya
agar rusak, dan tidak berusaha untuk memperbaikinya. Melihat anak-anaknya
melakukan larangan dan meninggalkan kewajiban serta meninggalkan shalat, dia
tidak memerintahkan mereka atau melarang. Atau melihat anak-anaknya bermain
di jalanan, bergaul dengan teman-teman jelek, bahkan kadang pergi ke
tempat-tempat yang disitu ada kerusakan, sama sekali tak menjadi pikirannya.
Padahal kalau anaknya merusakkan salah satu benda yang dimilikinya, dia
pasti akan menjadi lelaki tegas dan pahlawan pembela, membela harta dunianya
namun sama sekali tak membela agamanya. Perhatiannya hanya untuk perbaikan
harta dan tidak ada perhatian untuk kebaikan anak-anak dalam hidupnya,
bagaimana setelah mati?
Maka bertaqwalah kalian wahai para bapak dalam perkara yang berkenaan dengan
anak-anakmu agar mereka menjadi simpanan untukmu dan jangan sampai mereka
menjadikan kalian rugi. Ketahuilah bahwa keshalihan anak tak akan terwujud
begitu saja tanpa mengupayakan sebab, tanpa kesabaran dan kesusahan.
Hadits diatas juga menunjukkan bahwa anak disyariatkan mendoakan orang
tuanya bersamaan dengan doa untuk dirinya di dalam maupun di luar sholat.
Dan ini termasuk perbuatan berbakti yang akan terus ada setelah meninggalnya
para orang tua.
Perkara-perkara yang tersebut di dalam hadits tadi adalah inti dari firman
Allah Subhanahu wa ta'ala :
"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa
yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan". (QS
Yaasiin : 12)
Apa yang telah mereka kerjakan disini maksudnya adalah apa yang mereka
lakukan secara langsung dalam hidupnya berupa amal-amal yang baik maupun
yang buruk. Sedang bekas-bekas yang mereka tinggalkan maksudnya hasil dari
amalannya yang terus terwujud setelah kematiannya yang baik maupun yang
buruk.
Bekas-bekas amalan yang sampai kepada seorang hamba setelah meninggalnya ada
tiga perkara :
Pertama : amal shalih yang dilakukan orang lain sebagai hasil upaya si
mayit, berupa dakwah dan pengarahannya kepada orang itu sebelum meninggal.
Kedua : beberapa perkara yang digunakan orang lain berupa usaha-usaha
kebaikan yang bermanfaat yang telah didirikan si mayit sebelum dia
meninggal. Atau wakaf yang diwakafkannya pada saat masih hidup yang kemudian
diambil hasilnya setelah dia meningga dunia.
Ketiga : amalan-amalan yang dilakukan orang yang masih hidup kemudian
pahalanya dihadiahkan kepada si mayit berupa doa, shadaqoh dan amalan
kebajikan yang lain.
Ibnu Majah meriwayatkan :
"Sesungguhnya amal kebaikan yang akan sampai kepada mayit setelah
meninggalnya adalah : ilmu yang dia sebarkan, anak shalih yang dia
tinggalkan, mushaf yang dia wariskan, masjid yang dia dirikan, rumah yang
dipakai para musafir yang telah dia bangun, sungai yang dia alirkan, atau
shadaqoh yang dia keluarkan dari hartanya pada saat dia masih hidup dan
sehat, semua akan sampai kepadanya setelah dia meninggal".
Maka berusahalah -semoga Allah merahmatimu-, untuk mengerahkan semua sebab
dan melakukan amalan yang bermanfaat yang akan terus ada manfaatnya dan
mengalir pahalanya setelah wafatmu, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Harta dan anak-anak shaleh adalah perhiasan dunia tetapi amalan-amalan yang
kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih
baik untuk menjadi harapan". (QS Al Kahfi : 46)
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Muhammad, keluarga dan
shahabatnya.
www.ashthy.wordpress.com/2007/06/22/amalan-yang-tak-terputus
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Abu Masud Uqbah bin Amr Al-Anshari al-Badri berkata bahwa Rasulullaah saw.
bersabda, Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari
ungkapan kenabian yang pertama adalah, Jika engkau tidak malu, berbuatlah
sekehendakmu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)