Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ijinkan saya menulis email ini dengan tata bahasa yang amburadul,
maklum dari jaman sekolah dulu, sampai sekarang kepenginnya menulis
tapi paling males kalo suruh mbaca tulisan orang lain :)

Waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama & menengah atas
saya tidak pernah terlibat sama sekali dengan kegiatan keorganisasian
sekolah
seperti misalnya OSIS, kepanduan atau apalah kegiatan ekstrakulikuler
lainnya.

Tapi jangan di tanya, bila saya melemparkan "kritik" pada teman2 yg jadi
pengurus
"Kripik"nya sangat "pedas" dan sering tidak masuk "akal" kata mereka.
Biasanya saya akan tersenyum "penuh kemenangan" bila mereka
tidak bisa meng-konter atau menjelaskan semua kritik yg saya lemparkan
atau malah terjadi polemik di sesama pengurus dan anggotanya :))

Nah akhirnya Gusti Allah memberikan "ganjaran" atau lebih tepatnya
"pembelajaran" pada saya.
Menjelang acara ulang tahun kantor tempat saya bekerja, manajer HR meminta
saya jadi panitia kesenian
dan tidak tanggung-tanggung langsung jadi ketua-nya.
Untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak (betul gak ya
pepatahnya?)
permintaan orang HRD tsb tidak dapat di tolak, lantaran saya bisa sedikit
menggambar & main gitar. Lho ?
memang saya kerja di bagian yg ada hubungannya dg desain, meskipun bisnis
perusahaan adalah asuransi (gak nyambung kan)
Sebagai ketua panitia kesenian, saya juga merangkap sebagai pembuat dekor
panggung
dan juri kegiatan lomba kesenian, antara lain lomba vokal grup antar
departemen.
Men-juri lomba tersebut saya dibantu beberapa karyawan dari setiap
departemen yg bisa musik.
Karena memang segala sesuatu untuk perayaan tsb di arrange sendiri, tanpa
mengundang outsource untuk mengerjakannya
(kata manajemen : mahal ! ......... pelit banget ya :))

Di sini "coba"an menimpa, tanpa saya kira sebelumnya.
Biaya acara tsb terbatas, segala sesuatunya harus kita create sendiri
termasuk menggunakan fasilitas kantor yg tersedia apa-adanya.
Lumayan capek sebagai panitia, mempersiapkan terlaksananya acara
tanpa dapat uang lembur - kelebihan waktu bekerja (he he he alasan klasik,
loyalitas)
Bikin panggung, buat backdrop lalu jadi juri........... cape dech.
Peserta vokal grup, satu persatu tampil di atas panggung hingga tiba pada
peserta terakhir dari departemen customer service.
Tiba-tiba listrik mati, lomba harus terus dilanjutkan karena pertimbangan
waktu
menyanyilah mereka tanpa sound system, lumayan bagus sich, meskipun sempat
complain berat pada panitia.
Saat pengumuman lomba-pun tiba, saya dan juri lainnya bekerja
se-adil-adil-nya & se-sportif mungkin,
saya maju ke depan mengumumkan para juaranya.
Apa di nyana, customer service hanya bisa menempati posisi ke tiga.
Merasa paling "baik", tetapi karena kekurang siapan panitia dgn matinya
aliran listrik, mereka melemparkan "protes" berat
Tidak terima sebagai juara ke tiga karena tahun sebelumnya jadi nomor satu,
dan meminta agar lomba kembali di ulang.
Saya sebagai panitia tentu saja menolak, mereka "ngotot"
dengan "esmossi" mereka jelek2an panitia via mulut ke-mulut
maupun "kripik pedas" via jaringan lotus note yg ada di kantor.
Yang panitia tidak profesional lah, yang menerima suap lah
yang men-sabotase mereka lah (walaupun salah satu juri ada juga dari
mereka:( )

"Busyet" saya sempat naik pitam, sudah gak dapat lemburan di caci maki
pula.
Apa sih maunya mereka ? Gak tahu apa, cape-nya jadi panitia
wong tinggal nyanyi saja, trus dapat hadiah juara, kok masih komplain.
Masih untung ada kita-kita yang sukarela dengan dana terbatas masih mau
jadi panitia
Dengan mangkel saya berujar "coba bikin sendiri acaranya, bisa ndak?" tanpa
dpt fee dan keistimewaan dari manajemen!"
dasar pada gak tau diri............. dll .............dll

He he he......... tiba-tiba saya lupa, kalo dulu saya lebih sering
"komplain" ketimbang ikut berpartisipasi
memang enak melihat orang bekerja, trus kita tinggal kasih "kripik pedas"
berupa kome-komen (yg katanya "membangun":))
Seperti hal-nya waktu nonton bola, kita bisa teriak lantang " dasar
guoblok" tinggal gocek dikit aja-kan bisa gol !!
padahal kita sendiri tidak bisa bermain bola, boro-boro bikin gol, nendang
aja melenceng mulu :)))

Setelah ingat hal itu, sempet juga "lubuk hati" yg paling dalam jadi "malu"
ternyata gak gampang, jadi pekerja "sosial" yang melayani "banyak orang"

Akankah demikian yang terjadi dengan "kecintaan" kita bersama : masjid Ar
Royyan ??
Mudah2an kekhawatiran saya meleset semeleset-melesetnya, sebab saya tahu
baik panitia, pengurus maupun para jamaah-nya mempunyai niat-an yang baik
untuk kemajuan bersama
Tidak ada intrik, politik maupun kepentingan pribadi di dalamnya, kalau pun
ada selisih pendapat
itu untuk kebaikan bersama, untuk kemaslahatan umat dan menjadi khasanah
bersosialisasi di masyarakat.

Saya sendiri hanya menyambangi Ar Royyan bila ada event2 tertentu saja plus
Jum'atan saat libur ngantor.
Memang sulit "mencintai" masjid, apalagi "melebur" jadi satu di dalam-nya
seperti misalnya jadi pengurus.
Kalimat klise yg sering terdengar "saya malu, baca Qur'an saja belum becus,
kok malah jadi pengurus"
sesudah begitu, biasanya kita jadi semakin malas datang ke masjid,
menghadiri pengajian ataupun undangan lainnya.
Tetapi kita juga tidak mau, kalo masjid yg tercinta itu tiba-tiba di
lempari kotoran oleh orang apalagi di"hancur"kan
saat itu ke-Islam-an kita "terusik". Jengkel, marah atau kalo bisa
"menonjok" orang yg melakukan perbuatan tsb.
Begitulah kita, marah & kecewa saat masjid di-sewenang-wenangi dan di
"habisi"
tetapi membiarkannya "merana" saat megah berdiri, tanpa mau memakmurkannya
(seperti postingan Pak Agus "Mencintai Masjid")

Kok tulisan saya ngaco & gak beraturan begini sih ? Dari "kripik" di
sekolah, nge-juri di kantor, sampai "mencintai" masjid.
He he he soalnya saya juga "benci" kalo ada orang "dzalim" terhadap masjid,
tetapi "males" kalo suruh datang sholat berjamaah apalagi menghadiri
pengajian mingguan di masjid
padahal bacaan Qur'an-nya masih terbata-bata, sering salah lafadz, apalagi
suruh menghafalkan & meng-arti-kan.

Tapi mudah2an pengurus dan jamaah Ar Royyan tidak demikian adanya,
dan saya yakin dengan ber-variasi-nya ke-cerdas-an dan ke-kritis-an para
jamaah serta pengurus
dapat membuat Ar Royyan semakin "kokoh dan megah" bukan hanya dari bangunan
fisik nya saja
tetapi juga dari semangat ke-ukhuwah-an yang selama ini sudah terbangun.
Amien.


Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Jojo Wahyudi
memohon maaf bila ada tulisan yang tidak berkenan dan menyinggung perasaan
mohon maaf juga kalo tidak enak membacanya karena tidak mempunyai referensi
apa-apa dalam menulis
kecuali hanya mbaca postingan teman-teman dari milis Ar Royyan dan Info Rw
14



------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan Salman bin Ammar Adh Dhabbi, katanya: Rasulullah bersabda:
Setiap anak membawa aqiqah, maka sembelihlah untuknya dan jauhkanlah 
gangguan darinya (HR. Al Bukhari)

Kirim email ke