----- Original Message -----
From: "agus rasidi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, July 02, 2007 3:53 PM
Subject: [Milis_Iqra] Liburan, Tak sekedar Hura-hura. Bagaimana mengelola
Liburan ?
Liburan, tak Sekadar Hura-hura
NYANYIAN yang dikumandangkan penyanyi cilik Tasya ini agaknya sangat tepat
pada bulan Juni-Juli ini, saat anak sekolah mulai libur. Nyanyian ini juga
sangat mewakili perasaan anak-anak ketika menyambut liburan. Hati mereka
sangat senang dan yang terbayang adalah jalan-jalan. Sementara bagi orang
tua tidak saja rasa senang, tetapi juga rasa pusing karena liburan berarti
ada biaya ekstra yang harus keluar. Buat anak-anak liburan berarti
jalan-jalan, bisa ke luar kota, luar negeri atau ke mal.
Padahal liburan tidak harus ke luar rumah, bisa juga dilakukan di dalam
rumah sendiri. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di rumah, namun tentunya
diperlukan kreativitas dari orang tua. Aktivitas itu harus memiliki
nilai-nilai pendidikan, tetapi tetap menyenangkan bagi anak.
Hanya saja menurut psikolog Eko Rini Kuntowati, yang harus ditekankan,
liburan yang baik adalah liburan yang bermakna. Sebaiknya ada sesuatu hikmah
yang dapat diambil, bukan sekadar liburan, tapi juga melatih kemandirian.
"Kita kompakan dengan orang tua lain untuk menjadi orang tua asuh anak kita.
mengajarkan anak beradaptasi dengan orang dewasa lain. Hal ini akan membuat
makna yang mendalam, bila ada sesuatu yang kurang menyenangkan anak akan
lebih menyayangi keluarganya sendiri," imbuh Rini.
Lantas, tidakkah kita merasa khawatir terjadi perubahan sikap dan mental
bagi si anak, karena boleh jadi dengan pengalaman tadi membuat dia tertarik
untuk memiliki sikap seperti yang dijadikan pedoman oleh orang tua asuhnya.
"Nah, tentunya tak sembarang keluarga bisa dijadikan tempat liburan bagi
anak-anak kita. Minimal keluarga yang kita titipi sudah dikenal baik
bagaimana sistem nilai-nilai yang dianut asuh ," imbuhnya.
Kenapa tidak bila anak bisa memulai sesuatu yang baik dan bisa ia kerjakan
sekembalinya ke rumah. Nilai-nilai baru yang positif dan bisa lebih
membangun kepribadian anak boleh-boleh saja kita diterima. Bukankah hal itu
juga yang akan membantu membangun masa depan anak?
**
IDEALNYA liburan memang bersama seluruh anggota keluarga. Namun tak ada
salahnya bila kita juga mengikuti program-program liburan yang diadakan
berbagai lembaga atau mungkin kita rancang sendiri dengan konsep orang tua
asuh tadi.
Menurut Ira, "Pendidikan pengenalan budaya bisa dilakukan juga sembari
liburan. Misalnya, pengenalan desa pegunungan, dengan membawa anak pada
daerah atau desa didekat pegunungan. Ia bisa mempelajari berbagai macam
bentuk kegiatan, dengan mengikuti kegiatan sehari-hari mereka. Jadi dia
dititipkan disatu keluarga selama beberapa hari. Karena ini paket liburan,
maka ada pendamping yang mengawasi dan memberikan pengertian ketika anak
mengalami masalah atau ada pertanyaan yang tak bisa diungkapkan pada orang
tua asuhnya."
Masih menurutnya, kita juga bisa memanfaatkan liburan untuk pendidikan
lingkungan dengan metode learning by doing. Sebut saja yang biasa dilakukan
Eco Ethno dengan pengenalan ekosistem lahan basah, ekosistem darat,
pengamatan burung, pengamatan hewan hutan, pengamatan biota laut/ pantai,
pengenalan potensi desa.
Semua kegiatan yang dilakukan semasa liburan ini semuanya bertujuan untuk
kembali mengenalkan pada anak-anak, terutama mereka yang sudah terbiasa
dengan kehidupan kota. Boleh jadi orang tuanya sangat mengenal alam dan
lingkungan pedesaan karena ia tumbuh dan berkembang dari daerah yang masih
belum berkembang pesat seperti sekarang ini, namun bagi anak-anak mungkin
sangat jarang sekali bisa menikmati langsung. Dia hanya menonton suasana
desa atau alam itu dari tontonan atau sekadar cerita orang tuanya.
Metode liburan pengenalan budaya dan lingkungan dilakukan dalam bentuk
homestay. Jadi anak tinggal beberapa hari dengan orang tua asuh baru atau
hanya dengan pembimbing.
Sistem pendidikan homestay yang banyak dijadikan paket liburan atau yang
kita rancang sendiri, menurut Rini sangat mendidik dan kreatif ketika saat
itu anak akan tinggal di suatu lingkungan budaya yang masih kental, sebut
saja desa nelayan, desa situs budaya, desa petani, desa peternak. Saat itu
juga anak hisa menikmati kegiatan besar, misalnya pesta panen, wisata
kerajinan atau wisata budaya.
Saat itu anak akan diajak untuk memiliki wawasan dan kesadaran yang berbeda
dalam memperlakukan alam dan manusia. Memahami budaya sosial di luar
lingkungan keluarga yang telah dikenalnya sebagai referensi.
**
DALAM sebuah liburan, ada baiknya ditentukan topiknya. Misalnya untuk
pengetahuan agama, orang tua mengadakan lomba mendongeng kisah-kisah para
nabi. Untuk masalah sosial, anak bisa diajak untuk melakukan "cuci lemari
pakaian", memilih baju-baju yang sudah tidak digunakan lagi. Setelah
selesai, anak bisa diajak bersilaturahmi ke panti asuhan dan memberikan
baju-baju bekas layak pakai yang telah dipilih.
Untuk topik emosional bisa dilakukan dengan cara lomba melukis dan menempel
gambar wajah. Anak diminta menggambarkan wajah dengan emosi baik dan emosi
tidak baik. Anak juga bisa diminta untuk membuat daftar perbuatan baik atau
buruk yang diketahuinya. Yang lebih menarik, anak juga bisa diajak untuk
bermain peran. Misalnya anak dibawa dalam sebuah situasi tertentu lalu anak
diminta untuk mengekspresikan perasaannya terhadap situasi tersebut.
Liburan sekolah juga bisa dipakai untuk mengajarkan anak mencintai binatang
dan melakukan kegiatan sosial.
Sementara itu, liburan juga bisa dilakukan dengan aktivitas fisik sebut
saja. Walaupun kegiatan outdoor ini dilakukan dialam terbuka, namun berbeda
dengan penjelajahan di alam terbuka lainnya. Kalau penjelajahan di alam
terbuka seperti naik gunung, panjat tebing, atau arung jeram sangat
mengutamakan keterampilan fisik yang akhirnya akan menimbulkan kemampuan
motorik. Sementara outbound lebih mengutamakan wawasan kesadaran bahwa
segala sesuatu tidak harus berhasil. Kesadaran ini diharapkan akan membentuk
perilaku. Banyak keuntungan yang bisa dipetik dari outbound. Yakni hemat
biaya, tenaga, dan waktu. Selain itu, juga lebih praktis, meningkatkan
kreativitas, dan tidak tergantung cuaca. Outbound juga sangat bermanfaat
karena orang tua yang akan menjadi fasilitator. Fasilitator tidak perlu
memberitahukan nilai apa yang terkandung dalam setiap permainan, tetapi ia
hanya membuat pertanyaan kreatif dan mengarahkan jawaban kepada nilai-nilai
yang akan dicapai. Dengan cara seperti itu, akan lebih mudah bagi anak untuk
mengingatnya.
**
LALU bagaimana outbound juga bisa dilakukan di rumah? Semua benda yang ada
di rumah bisa dimanfaatkan sebagai sarana outbound. Misalnya panci, sendok,
kardus bekas, tali jemuran, kursi makan, seprai, papan, dan sebagainya. Yang
penting alat-alat itu harus aman, tidak mudah pecah sehingga tidak berbahaya
bagi anak.
Caranya, sebelum memulai bentuklah panitia kecil keluarga lalu rancanglah
permainan secara bersama-sama, dari cara bermain hingga peraturan. Buatlah
juga yel-yel untuk menyemangati setiap peserta.
Salah satu contoh outbound di rumah adalah membuat permainan lahan ranjau
dan bom. Caranya, bentuk sebuah persegi panjang di lantai dari tali rafia.
Ukurannya bisa 2x3 meter. Di dalam persegi panjang itu sebarkan beberapa
panci, kardus, atau benda lain. Sementara itu siapkan juga tali yang
digantung zigzag, dari sisi satu ke sisi lain. Di tali itu digantung pula
beberapa sendok dengan tali yang berbeda panjang pendeknya. Semua
benda-benda yang disebar dianggap sebagai ranjau, sedangkan sendok yang
digantung itu dianggap sebagai bom. Baik sendok maupun benda-benda lain
tidak boleh tersenggol. Peserta yang melewatinya harus ditutup matanya. Dia
hanya berjalan berdasarkan instruksi dari seorang kawan yang berada di luar
lahan. Permainan ini sangat menarik karena memerlukan kerja sama yang baik,
kepercayaan, kejujuran, ketepatan dalam mengukur, dan nilai-nilai lain.
Permainan lain yang bisa dibuat adalah memasuki lorong yang penuh tanah
becek. Caranya, susunlah enam atau delapan buah kursi makan saling
memunggungi. Tutup kursi itu dengan seprai sehingga membentuk lorong.
Sediakan juga cobek dan sebilah papan untuk digunakan peserta melewati
lorong. Setiap peserta harus bisa melewati lorong itu, tanpa menyentuh kaki
kursi, lantai dan seprai.
Semua contoh permainan ini bukan permainan standar, jadi bisa dilakukan
modifikasi. Misalnya, dilakukan penghitungan waktu, aturan yang lebih ringan
atau berat, dan sebagainya. Pokoknya semua dibuat semenarik mungkin agar
liburan di rumah menjadi kenangan tidak terlupakan bagi anak.
**
"SECARA formal dijam-jam sekolah dapat disiapkan berbagai materi untuk
mengembangkan kreativitas dan kemandirian anak. Dan secara informal di luar
jam sekolah diperlukan adanya kegiatan liburan yang bermakna. Liburan tak
hanya mengunjungi daerah wisata tertentu saja, tapi juga didasarkan pada
perlunya kegiatan yang dapat mengembangkan aspek kepribadian anak, salah
satunya dalah mengembangkan aspek leadership (kepemimpinan)," tutur Muhammad
Ihsan, S.Sn., M.Sn., pimpinan Echo Ethno Training Centre, suatu lembaga
profesional yang tumbuh dari LSM dengan mengembangkan konsep menggali
nilai-nilai budaya dan pendekatan alam.
Masih menurutnya, "Atas dasar pertimbangan tadi, maka saat banyak
dikembangkan paket kegiatan-kegiatan liburan yang tak hanya kreatif, namun
juga mendidik. Karena berbagai bentuk permainan yang dijadikan materi
liburan tersebut benar-benar disesuaikan dengan nilai manfaat bagi anak
dalam mengembangkan kepribadian, kemandirian, jiwa kerja sama dan
kepemimpinan."
"Jadi, liburan sendiri penuh makna, bukan sekadar jalan bersama keluarga,
menikmati keindahan alam atau sekadar jalan-jalan di lokasi wisata," imbuh
Ihsan pula.
Senada dengan Ira Shintia, S.Sos., konsultan pendidikan dan pengasuh
playgroup cendikia ini juga menuturkan, "Keluarga masa kini merupakan
keluarga yang hidup dalam masyarakat dengan banyak perubahan sosial, serta
competitive factor yang mendorong setiap anak harus mampu melakukan setiap
kegiatan memiliki nilai manfaat. Sekalipun itu hanya kegiatan liburan." Kata
psikolog Eko Rini bahwa nilai-nilai manfaat yang harus menjadi tujuan orang
tua dalam merancang liburan bagi anak, bila orang tua yang menyiapkannya.
Namun, bila itu diajukan oleh anak sendiri, orang tua harus bisa memberikan
pengertian.
Hal lain yang harus dikaji dari manfaat liburan, anak harus didorong untuk
memanfaatkannya bagi kegiatan penunjang sekolah. Dengan liburan diharapkan
bisa menambah pengalaman, pengetahuan, serta banyak informasi lain yang
tidak didapat dari bangku pendidikan secara formal.
"Selama ini disekolah anak hanya disodorkan pengetahuan yang konseptual.
Syukur-syukur dia bisa membayangkan apa yang diajarkan gurunya, bila tidak.
Nah, sebaiknya liburan dijadikan sarana untuk mengenalkan alam dan
lingkungan sosial pada anak," tuturnya.
**
BAGAIMANAKAH Islam memandang kegiatan liburan yang berlangsung di kalangan
siswa sekolah? Bagaimanakah pemanfaatan waktu dalam perspektif agama Islam?
Mubalig, Ir. H.D. Sodik Mudjahid, M.Sc., mengatakan bahwa Islam memberi
tuntunan kepada umatnya untuk selalu memanfaatkan waktu, baik itu saat
liburan, bekerja maupun belajar. Islam mengajarkan kepada para pemeluknya
untuk menghargai waktu masa silam, masa kini, dan masa mendatang.
"Sungguh, amat merugilah orang yang menyia-nyiakan waktunya. Itu prinsip
utamanya yang harus dipahami berkaitan dengan waktu. Adapun soal bagaimana
mengisi waktu di masa liburan, tentunya diserahkan kepada setiap Muslim,"
ujar Sodik Mudjahid.
Pengamat pendidikan, H. Nanang Iskandar Ma'soem, S.E., M.S. berpendapat,
masa liburan bagi para siswa hendaknya benar-benar dipergunakan untuk
liburan yang bermanfaat. Sebaliknya, masa belajar harus dipergunakan buat
belajar. Artinya, setiap penyelenggara kegiatan belajar-mengajar harus
memahami prinsip tersebut dan jangan membaliknya. Misalnya, waktu belajar
disia-siakan, sedangkan saat liburan dipakai untuk kegiatan belajar.
"Di sekolah Al Ma'soem, misalnya, dirancang program kegiatan
belajar-mengajar secara kualitatif. Pembagian waktunya diperhitungkan secara
baik, dengan harapan agar tidak ada waktu yang tersia-siakan. Prinsipnya,
siswa diberi waktu belajar seoptimal mungkin. Jika masa liburan tiba, ya,
siswa diberikan kesempatan berlibur. Sementara pada masa Ramadan, siswa
diberi stimulus untuk mengisi waktunya dengan mengikuti program pesantren
kilat yang diadakan Al Ma'soem," tutur Nanang Iskandar.
Apa bentuk liburan yang bermanfaat?
Sejumlah narasumber suplemen Hikmah menyebutkan hal senada, liburan yang
bermanfaat itu pada hakikatnya sangat beragam. Ada yang berupa berlibur ke
suatu objek wisata, mengikuti pesantren kilat, menjadi peserta out bound,
berkemah dan panjat tebing suatu gunung, atau di rumah saja, tetapi dalam
keadaan membuat program "liburan" sendiri seperti berbenah rumah, berkebun,
dllnya.
Dalam kaitan ini, beberapa sumber di kalangan alim ulama mengutipkan hadis
yang diriwayatkan Ahmad dari Abi Hurairah r.a., yang bunyinya, "Bepergianlah
kalian, niscaya sehat. Berjuanglah kalian, niscaya berkecukupan."
Berlibur, apalagi ke alam terbuka, itu cenderung akan menjadikan tubuh
sehat. Ada kesegaran baru dalam otak atau pemikiran seseorang, bilamana
kegiatan berlibur itu diamalkan secara proposional.
Sementara menurut sejarahwan Muslim Ahmad Mansur Suryanegara, Allah SWT
menyuruh hamba-Nya untuk bepergian di muka bumi. Selanjutnya, diperintahkan
kepada umat manusia untuk memerhatikan bagaimana Allah menciptakan makhluk
dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Berlibur atau berwisata, menurut mubalig, Drs. Saefuddin A.S.M. kegiatan
berwisata itu bermanfaat untuk mempertebal iman, meningkatkan tafakur (QS
Ali Imran ayat 190-191 tentang merenung i ciptaan alam semesta), memperluas
ta'aruf (QS Al Hujurat ayat 13), menjadikan objek wisaya sebagai ibrah
(pelajaran).
Lalu, objek liburan atau wisata mana saja yang layak dan baik untuk
dikunjungi?
Itulah persoalannya, ungkap beberapa narasumber Hikmah. Alasannnya, banyak
objek wisata atau tempat berlibur yang layak dikunjungi, namun secara
pendidikan cenderung kurang tepat. Oleh karena itu, sungguh menarik hadis
yang diriwayatkan lima ahli hadis dari Abi Hurairah r.a., yang bunyinya,
"Jangan terlalu dipaksakan untuk bepergian, selain ke tiga masjid yakni
masjidku (Masjid Nabawi) ini, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha." Dan
tampaknya atas dasar hadis tersebut, beberapa lembaga dakwah ada yang
menyelenggarakan liburan umrah ke Tanah Suci. Nama paket liburannya
bermacam-macam, seperti berupa "Pesantren Kilat Liburan di Tanah Suci",
"Liburan Plus di Tanah Suci", "Paket Mengolah Hati di Masa Liburan", atau
berlibur di Tanah Suci bersama ulama terkenal.
Terlepas dari apa jenis kegiatannya dan tempat pelaksanaannya, yang jelas
masa liburan harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Bila tidak,
tentu kita akan termasuk orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu.
EYP/Aji "PR"-Jalu
sumber : Pikiran Rakyat Online
artikel kedua :
--------- Forwarded message ----------
From: herlin adnan asy syaraya <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 2, 2006 2:23 PM
Subject: [myQers] [oot] Mengelola Liburan Anak
To: [EMAIL PROTECTED]
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Dari Milist Tetangga, Semoga Bermanfaat
Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Herlin Adnan Asy Syaraya
=============================================================
Setiap musim liburan tiba, kita sering melihat respon yang berbeda antara
anak dengan orang tua. Anak-anak dengan gembira dan semangatnya menyambut
liburan mereka, sedangkan orang tua malah pusing dan bingung karena mereka
harus memikirkan aktivitas apa saja yang dapat mengisi liburan, sehingga
kegiatan anak tetap terarah dan berkualitas. Kepusingan orang tua sering
dialami oleh para orang tua yang bekerja, karena mereka tidak bisa
sewaktu-waktu mengambil cuti dari kantor. Tuntutan pekerjaan membuat mereka
tidak mudah meninggalkan tanggung jawab setengah jalan untuk urusan
"liburan". Idealnya, antara orang tua dan anak, ada perencanaan yang baik
dalam menentukan waktu "liburan bersama keluarga" sehingga tidak perlu ada
yang mengorbankan kepentingan atau tanggung jawab. Namun, sudah tentu waktu
libur anak yang relatif panjang sekali jika dibandingkan dengan libur orang
kerja, tidak akan pernah "match" dengan orang tuanya. Bagaimana mengelola
kegiatan terutama pada waktu orang tua tidak bisa extending waktu libur
mereka bersama anak?
Liburan Murah Meriah
Bisa dimengerti, bahwa dalam kesibukan para orang tua, dari pagi hingga
malam, bekerja penuh waktu, segenap energi, pikiran dan ide-ide kita sering
buntu - tidak lagi bisa memikirkan hal-hal lain selain dari pekerjaan hari
ini dan pekerjaan esok hari yang sudah in-advance dipikirkan malam
sebelumnya. Dalam keadaan seperti itu, kita para orang tua sering lupa,
bahwa kita pun dulu pernah kecil, pernah melewati masa kanak-kanak yang amat
sangat jauh berbeda dengan masa kanak-kanak anak-anak kita sekarang ini.
Dulu, kita tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang amat sangat jauh
lebih sederhana, tanpa kekurangan "media" bermain dan fasilitas permainan.
Ada saja ruang dan bahan-bahan yang bisa kita jadikan permainan tanpa harus
membayar mahal-mahal dan tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi yang
mahal. Halaman belakang rumah, halaman tetangga, kebun nenek kakek atau pun,
parit kecil di depan rumah - sering dipakai bermain, terutama di kala hujan.
Tidak bisa dipungkiri, jaman sudah berubah, tuntutan kian mengejar dan usia
semakin menua, membuat kita para orang tua lupa bagaimana kita dulu
mengelola liburan kita, tanpa harus selalu mengikutsertakan orang tua.
Artikel kali ini, bertujuan untuk sekedar mengingatkan dan memberi
alternatif - bagaimana cara mengisi liburan anak, tanpa harus bepergian
jauh, apalagi dengan mengeluarkan biaya yang besar. Sebab, tidak semua
keluarga mampu memiliki biaya atau budget yang memungkinkan untuk
"liburan"...Kita bisa membuat liburan tetap menjadi moment istimewa,
meskipun dengan biaya ringan atau pun bahkan tanpa biaya. Bagaimana
menyiasatinya?
1. Liburan ilmiah
Liburan ilmiah yang dimaksud di sini, adalah liburan sambil menimba ilmu.
Bagaimana caranya supaya tidak bosan dan "menyebalkan"? Kita bisa membawa
anak-anak berjalan-jalan ke musium yang ada di dekat tempat tinggal kita,
entah musium zoologi yang ada di kota Bogor, Kebun Raya Bogor, musium
geologi di Bandung, BOSCHA (tempat teropong bintang) di Lembang atau pun
yang ada di seputar Taman Ismail Marzuki. Di Jakarta ada musium ABRI (Satria
Mandala), di Yogyakarta ada musium sekaligus monumen perjuangan Yogya
Kembali. Dan, masih banyak musium yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan
membawa mereka ke musium, mereka belajar banyak tentang sejarah masa lalu,
entah sejarah kehidupan manusia, kehidupan tumbuhan dan hewan, serta alam
semesta. Biaya masuk ke musium relatif sangat murah ketimbang "shopping" di
Mall.
Mengisi liburan ilmiah, tidak hanya dengan pergi ke musium; pergi ke pasar
pun bisa menjadi ajang liburan ilmiah. Kalau kita tidak di"ganggu" oleh
kekhawatiran kita yang sering kelewat batas kalau membawa anak ke pasar
(takut becek, takut kotor, takut lelah, takut sakit, dsb) yang sesungguhnya
sering ditunggangi oleh ke-egoisan kita (tidak mau repot bawa anak ke
pasar). Di pasar, banyak sekali komoditas yang dijual dan ditampilkan dalam
"etalase" terbuka. Ada bawang merah, cabe, sayur mayur, bumbu dapur, alat
memasak, dsb. Pasar adalah pusat informasi yang menyimpan "data base" amat
besar. Ribuan variable yang dapat kita temukan di pasar dan masing-masing
"variabel" dapat kita jelaskan pada anak. Misalnya, kita tunjukkan pada
anak, yang manakah bawang merah dan manakah bawang putih, bagaimana mereka
tumbuh, mengapa kita perlu bawang merah, mengapa kita perlu bawang putih,
apa kegunaan dan manfaatnya, dsb. Atau, mana kah yang namanya ikan mujair
dengan ikan tongkol, cumi-cumi dan kepiting (dalam wujud yang utuh, bukan
lagi dalam bentuk transformasi yang sudah tersaji di meja makan). Kalau
informasi itu dikumpulkan, maka tidak cukup 12 ensiklopedi untuk menjelaskan
semuanya. Kita bisa menjelaskan segala sesuatu secara panjang lebar di
rumah, setelah kita menunjukkan pada anak benda-bendanya. Dan, pasti lebih
menyenangkan jika anak melihat secara langsung "tumpukan" komiditas di
pasar. Bagi anak-anak yang perkembangan intelektualnya masih membutuhkan
benda-benda kongkrit untuk menunjang pengertian mereka, "study tour" adalah
moment yang penting.
2. Liburan kreatif & innovatif
Kita bisa mengarahkan dan membangkitkan kreativitas anak dengan menstimulasi
imajinasi mereka. Pada dasarnya, anak-anak itu sangat kreatif dan
heavy-loaded by energy. Kita (atau pengasuh, atau siapapun yang bisa kita
percaya) bisa bawa mereka ke tempat art & craft center atau pun science club
untuk anak-anak, dengan biaya relatif murah. Di sana, mereka akan disajikan
banyak sekali hal-hal yang belum mereka ketahui, percobaan-percobaan ilmiah
atau pun teknik-teknik seni yang akan menghasilkan karya yang membuat mereka
bangga akan diri sendiri. Memang, ktia tidak selamanya bisa membawa mereka
ke tempat-tempat tersebut. Kita pun bisa menciptakan liburan kreatif dan
innovatif di rumah. Kalau kita tidak punya ide sama sekali tentang apa dan
bagaiamana, kita bisa membeli buku yang menjabarkan tentang berbagai
percobaan menarik yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Mulai dari
percobaan unsur (yang sederhana saja, misalnya minyak dengan air), percobaan
warna (memadukan warna) sampai dengan mencoba membuat sesuatu / constructing
things - dari benda-benda yang ada di rumah, misalnya: kardus, karton tebal,
tripleks bekas, koran bekas, akuarium bekas, stoples beling kosong, dsb yang
bisa digunakan menjadi media atau pun alat eksperimentasi atau konstruksi.
Nah, di sinilah peran ayah sangat penting untuk menemani dan men-supervisi
anak laki-laki. Dan, peran ibu untuk mau "menyulap" benda-benda yang ada di
rumah, menjadi bahan baku yang potensial untuk menciptakan sesuatu.
Di masa liburan ini pula, anak-anak bisa kita perkenalkan dengan kegiatan
"baru", misalnya : belajar memasak (membuat kue, dsb), belajar menjahit,
menyulam, menari (kalau yang ini, mungkin harus kursus / jadi anggota
sanggar), menukang, atau bertanam (tidak mesti harus punya halaman luas,
karena bisa dengan menggunakan polybag (kantong khusus untuk menanam bibit)
atau pot kecil. Jangan cemaskan hal-hal yang insignifikan, misalnya
"bagaimana kalau anakku capek, bagaimana kalau rumah kotor, bagaimana kalau
kaki kena tanah, bagaimana kalau bajunya basah, bagaimana kalau halaman jadi
becek" dsb... Kalau kita mau jujur, bukankah semua kekhawatiran itu
disebabkan karena kita tidak mau repot-repot atau capek-capek membereskan
"perabotan" atau pun membersihkan kotoran?
Nah, sebenarnya kita bisa sekalian mengajarkan pada anak kita, bagaimana
mengerjakan segala sesuatu dengan rapi. Kita pun bisa sekalian mengajarkan
pada anak kita "tanggung jawab", artinya, kalau sudah selesai mengerjakan,
kita pun harus membereskannya kembali. Hati-hati, kekuatiran kita para orang
tua, bisa menghalangi anak "mengenyam, mempelajari dan menginternalisasi"
nilai-nilai luhur budi pekerti, seperti : tanggung jawab, kreativitas,
konsekuensi (sebab akibat), kebanggaan yang positif pada diri sendiri (atas
dasar kemampuan diri yang riil - bukan numpang kekuatan dan kejayaan orang
tua), ketekunan, persistensi, konsentrasi, koordinasi (baik koordinasi
tangan, pikiran dan perasaan - dengan koordinasi dengan pihak lain) serta
satu hal yang nilainya tidak kalah tinggi, yakni: membentuk tangga identitas
diri. Setiap aktivitas, merupakan sebuah ekspresi diri sekaligus konfirmasi
akan kemampuan dirinya. Kalau anak merasa "mampu" dan berhasil mengatasi
tantangan yang satu, maka dalam dirinya tertanam rasa percaya diri untuk
melakukan eksplorasi demi eksplorasi ke bidang-bidang lainnya.
3. Liburan empatik & sosial
Ada lagi jenis kegiatan yang relatif murah untuk mengisi liburan anak dengan
nilai yang tinggi. Kita bisa membawa anak-anak, pergi ke panti asuhan untuk
melihat teman-teman mereka yang hidup di panti asuhan. Dengan begitu,
anak-anak akan melihat bahwa di dalam hidup ini, ada banyak hal yang belum
mereka ketahui, bahwa ada banyak anak-anak yang menjalani hidup sangat
berbeda dari anak-anak kita - dan ternyata, banyak juga yang meskipun hidup
susah, tapi tetap bahagia, tahu bersyukur, tidak cerewet, tidak mengeluh dan
bahkan punya semangat belajar dan semangat juang yang tinggi.
Selain ke panti asuhan, kita juga bisa ajak anak-anak ke panti jompo. Di
sana, kita bisa membuka pengertian anak dan menanamkan nilai moral, bahwa
setiap orang akan menjadi tua, dan meskipun tua, mereka tetap membutuhkan
perhatian dan kasih sayang, terutama setelah apa yang mereka berikan pada
anak-anak selama ini. Kesempatan ini, dapat bermanfaat untuk menanamkan
kebijaksanaan pada anak, akan pentingnya "orangtua" untuk anak-anaknya.
Sebenarnya, dengan mengajak anak kita ke dua tempat: panti asuhan dan panti
jompo, kita sekaligus menyampaikan sebuah fakta : bahwa setiap orang di
dalam hidup ini saling membutuhkan dan saling memberikan. Tiadanya perhatian
dan cinta, dapat membuat hidup menjadi sulit dan tidak bahagia; tapi,
perhatian hanya dalam bentuk hadiah, barang, dan bentuk-bentuk materi
lainnya - ternyata tidak dapat membuat orang benar-benar bahagia.
4. Liburan petualangan
Liburan petualangan, biasanya diasosiasikan dengan biaya yang mahal dan
perjalanan yang jauh. Sebenarnya tidak harus demikian, karena di setiap
tempat, disetiap kota, pasti punya sisi terpencil yang amat menarik untuk
dijadikan ajang petualangan. Coba jika Anda ingat ketika masih kecil dahulu,
bukankah mengejar layangan putus sambil menelusuri sungai kecil - sudah
menjadi pengalaman yang luar biasa? Mungkin, saat ini sungai kecil itu sudah
tidak ada lagi - tidaklah masalah. Kita bisa mengajak anak-anak, pergi
berjalan-jalan ke perkebunan teh, ke kebun raya, ke kebun binatang, ke gua,
ke sawah, ke pemancingan (di daerah cibinong, ada sebuah pemancingan besar
untuk umum, sekaligus tempat camping dan planting), ke gunung, ke mata air
panas, ke air terjun atau ke peternakan (di daerah lingkar jakarta selatan,
ada semacam istal kuda yang terbuka untuk umum).
Sebenarnya, semua tempat itu accessible dan possible, selama kita para orang
tua, willing to go out of the box, get out from the bed and comfort zone,
dan doing extra effort to have advanture . Kendalanya, sesungguhnya lebih
terletak pada diri kita sebagai orang tua. Kita memang sering terbentur
waktu, dan kesempatan - tapi, kalau kita ingin jujur, sesungguhnya yang
menghambat seringkali, adalah diri kita yang sepertinya "sudah terlalu lelah
untuk melakukan apapun kecuali tidur atau sekedar jalan-jalan ke mall".
Padahal, kalau kita mau mencoba keluar dari lingkaran kehidupan dan kegiatan
yang membuat energi kita terperangkap di dalam lingkaran itu, maka kita para
orang tua yang sudah pada kelelahan, kita bisa men- charge kembali battery
energy yang sudah low. Asalkan, selama bepergian, kita tidak membawa serta
semua idealisme dan konsep-konsep "berlibur yang ideal, anak yang baik,
orang tua yang sempurna, dsb" yang hanya akan membebani mental kita sendiri.
Biarkan semua orang bisa mengekspresikan minat, emosi dan ide-idenya -
justru karena ada media yang tepat untuk menyalurkannya.
O ya, suasana petualangan, tidak harus artinya kita pergi jauh dari rumah.
Jika kita, atau salah satu famili memiliki rumah dengan halaman yang cukup
luas, maka kita bisa mendirikan tenda di halaman itu, dan membiarkan
anak-anak "camping" di tenda. Tentu moment ini menjadi moment yang
mengasikkan, apalagi jika anak-anak kita bergabung dengan para sepupunya.
5. Liburan super-aktif
Mengingat anak-anak adalah pribadi yang paling aktif, maka kita pun bisa
mengarahkan dan menyalurkan energinya, pada kegiatan yang mengasikan.
Jikalau pergi ke pantai untuk berenang dan main pasir atau mengumpulkan
kerang - terlalu sulit untuk dilakukan, atau terlalu jauh untuk dijalani,
maka kita bisa mengajak anak-anak pergi ke lapangan bola terdekat, untuk
"bertanding sepak bola", atau pergi ke kolam renang terdekat, untuk adu
renang; atau, membantu ayah men-cat tembok rumah, mencuci mobil, menjadi
"asisten" ketika ayah membetulkan mobil atau motor, bersepeda di dalam
kompleks, atau, bermain layangan! Coba kita ingat-ingat, betapa
menyenangkannya "hanya" dengan main layang-layang atau main sepeda.
Problemnya bagi kita para orang tua : maukah kita meluangkan waktu untuk
anak kita? Maukah kita mengatasi dan mengalahkan ke-engganan diri (mungkin
kita lebih senang nonton TV dan sinetron di rumah ketimbang panas-panasan di
bawah terik matahari, atau berkutat pada komputer di ruang kerja karena
pikiran tidak bisa lepas dari pekerjaan) ?
Nah, dari semua alternatif di atas, tampaknya tidak terlalu sulit untuk
direalisasikan. Namun, apapun kegiatan yang akan dihadapi dan dijalani,
kendalanya biasanya ada di kita, para orang tua : maukah kita keluar dari
comfort zone - mengusahakan dan melakukan sesuatu "diluar kebiasaan". Selain
itu, ada pula tantangan untuk kita para orang tua, yang datangnya justru
dari anak-anak kita sendiri. Seringkali, pola hidup dan kebiasaan "keluarga"
selama ini, yang di dominasi oleh kegiatan shopping ke mall, nonton TV, main
computer game, atau chatting on line, membuat anak-anak enggan untuk pergi
ke tempat-tempat di luar shopping mall atau pun untuk melakukan kegiatan
yang sifatnya produktif. Mereka cenderung lebih senang nonton TV, main
computer game, atau kalau mau liburan - ya benar-benar harus pergi ke suatu
tempat yang jauh, misalnya ke Bali atau ke tempat lain yang mewah. Sebab -
tidak selalu finansial keluarga, men-support keinginan anak - bahkan
keinginan kita sendiri untuk menikmati "liburan" yang menyenangkan. Tanpa
harus mengeluarkan dana yang besar, kita selayaknya dapat mencari dan
menemukan kebahagiaan dari kegiatan yang sederhana, namun tidak kalah
nilainya. Bagaimana pun juga, kebahagiaan itu tidak diukur dari besar
kecilnya uang yang kita miliki, bukan ?
Oleh Jacinta F. Rini / e-psikologi.com
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Sesungguhnya pandangan seorang mayit mengikuti ruhnya ketika dicabut
(HR. Muslim 920).