CINTA DAN PERNIKAHAN 
Oleh: Sukeri Abdillah

Menikah Untuk Solusi Terbaik


Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah diciptakannya pasangan-pasanganmu 
dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung padanya. Dan Allah menjadikan di 
antara kalian perasaan tenteram dan kasih sayang. Pada yang demikian ada 
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
Ketika tiba masa usia aqil baligh, maka perasaan ingin memperhatikan dan 
diperhatikan lawan jenis begitu bergejolak. Banyak perasaan aneh dan 
bayang-bayang suatu sosok berseliweran tak karuan. Kadang bayang-bayang itu 
menjauh tapi kadang terasa amat dekat. Kadang seorang pemuda bisa bersikap acuh 
pada bayang-bayang itu tapi kadang terjebak dan menjadi lumpuh. Perasaan sepi 
tiba-tiba menyergap ke seluruh ruang hati. Hati terasa sedih dan hidup terasa 
hampa. Seakan apa yang dilakukannya jadi sia-sia. Hidup tidak bergairah. Ada 
setitik harapan tapi berjuta titik kekhawatiran justru mendominasi.


Perasaan semakin tak menentu ketika harapan itu mulai mengarah kepada lawan 
jenis. Semua yang dilakukannya jadi serba salah. Sampai kapan hal ini 
berlangsung? Jawabnya ada pada pemuda itu sendiri. Kapan ia akan menghentikan 
semua ini. Sekarang, hari ini, esok, atau tahun-tahun besok. Semakin panjang 
upaya penyelesaian dilakukan yang jelas perasaan sakit dan tertekan semakin tak 
terperikan. Sebaliknya semakin cepat / pendek waktu penyelesaian diupayakan, 
kebahagiaan & kegairahan hidup segera dirasakan. Hidup menjadi lebih berarti & 
segala usahanya terasa lebih bermakna.
Penyelesaian apa yang dimaksud? Menikah! Ya menikah adalah alat solusi untuk 
menghentikan berbagai kehampaan yang terus mendera. Lantas kapan? Bilakah ia 
bisa dilaksanakan? Segera! Segera di sini jelas berbeda dengan tergesa-gesa. 
Untuk membedakan antara segera dengan tergesa- gesa, bisa dilihat dari dua cara:


Pertama, tanda-tanda hati
Orang yang mempunyai niat tulus, kata Imam Ja'far, adalah dia yang hatinya 
tenang, sebab hati yang tenang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang 
dilarang, berasal dari upaya membuat niat murni untuk Allah dalam segala 
perkara. Kalau menyegerakan menikah karena niat yang jernih, Insya Allah hati 
akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah 
yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan & kekhawatiran 
meliputi dada. Lain lagi dengan tergesa-gesa. Ketergesaan ditandai oleh 
perasaan tidak aman & hati yang diliputi kecemasan yang memburu.


Kedua, tanda-tanda perumpamaan
Ibarat orang bikin bubur kacang hijau, ada beberapa bahan yang diperlukan. 
Bahan paling pokok adalah gula & kacang hijau. Jika gula & kacang hijau 
dimasukkan air kemudian direbus, maka akan didapati kacang hijau tidak 
mengembang. Ini namanya tergesa-gesa. Kalau gula baru dimasukkan setelah kacang 
hijaunya mekar ini namanya menyegerakan. Tapi kalau lupa, tidak segera 
memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup lama orang akan kehilangan 
banyak zat gizi yang penting.


Kupinang Engkau dengan Hamdalah


Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: "Tiga orang yang selalu diberi 
pertolongan Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama 
Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar & seorang yang menikah untuk 
menjaga kehormatannya" (HR Thabrani)
Banyak jalan yang dapat menghantarkan orang kepada peminangan & pernikahan. 
Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang saling jauh menjadi suami istri 
yang penuh barakah & diridhai Allah.
Ketika niat sudah mantap & tekad sudah bulat, persiapkan hati untuk melangkah 
ke peminangan. Dianjurkan, memulai lamaran dengan hamdalah & pujian lainnya 
kepada Allah SWT. Serta Shalawat kepada Rasul-Nya. Abu Hurairah r.a. 
menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu 
sedikit barakahnya (terputus keberkahannya)" HR Abu Daud, Ibnu Majah & Imam 
Ahmad.
Setelah peminangan disampaikan, biarlah pihak wanita & wanita yang bersangkutan 
untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban segera, sebelum kaki 
bergeser dari tempat berpijaknya, sebab menikah mendekatkan kepada keselamatan 
akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui akhlaqnya, sebagian 
memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian apakah pinangan 
diterima atau ditolak, karena pernikahan bukan untuk sehari dua hari.
Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang lebih 
tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Anda harus husnudzan pada mereka. 
Bukankah ketika meminang wanita berarti anda mempercayai wanita yang diharapkan 
oleh anda beserta keluarganya.
Keputusan apapun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah yang 
lurus, akan baik dan Insya Allah memberi akibat yang baik bagi anda. Tidak 
kecewa orang yang istikharah & tidak merugi orang yang musyawarah. Maka apapun 
hasil musyawarah, sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan kebaikan. 
Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang didasarkan 
kepada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi kesempatan 
kepada anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat anda memang untuk 
silaturrahim, bukankah masih tersedia banyak peluang untuk menyambung?
Anda telah meminangnya dengan hamdalah, anda telah dimampukan datang oleh Allah 
Yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semuanya kecil. 
Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabbah tentang meminang. 
Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan : 
"Jika pinangan kami anda terima, kami ucapkan Alhamdulillah. Dan kalau anda 
menolak, maka kami ucapkan Allahu Akbar."
Maka, kalau pinangan yang anda sampaikan ditolak, agungkan Allah, semoga anda 
tetap berbaik sangka kepada Allah & juga kepada keluarganya. Sebab bisa jadi, 
penolakan merupakan jalan pensucian jiwa dari kedzaliman diri sendiri, bisa 
jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan & 
kejernihan niat. Sementara ada banyak hal yang dapat mengotori niat. Bisa jadi 
Allah hendak mengangkat derajat anda, kecuali anda justru malah merendahkan 
diri sendiri. Tapi hati perlu diperiksa, jangan-jangan perasaan itu muncul 
karena ujub.
Kekecewaan, mungkin saja timbul. Barangkali ada perasaan yang perih, barangkali 
juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri saat itu. Ini merupakan 
reaksi psikis yang wajar, kecewa adalah perasaan yang manusiawi, tetapi ia 
harus diperlakukan dengan
cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan ke jurang kenistaan yang sangat 
gelap. Kecewa memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa, 
mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Sekilas nampak tidak ada 
masalah, tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah 
bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian tidak 
dikehendaki Islam.
Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang perlahan-lahan secara wajar. 
Sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan dengan tidak 
kehilangan obyektivitas & kejernihan hati, kita menjadi lebih tegar, meskipun 
proses yang dibutuhkan untuk menghapus kekecewaan lebih lama.
Kalau anda merasa kecewa, periksalah niat anda. Dibalik yang dianggap baik, 
mungkin ada niat yang tidak lurus. Periksalah motif-motif yang melintas dalam 
batin. Selama peminangan hingga saat menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati 
memproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangan secara mantap.
Tetapi kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai harapan, 
berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya Allah kesendirian yang dialami 
dengan menanggung rasa sepi sebentar lagi akan menghapus kepenatan selama di 
luar rumah. Insya Allah sebentar lagi.
Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk melakukan 
apa saja yang menjadi hak anda bersamanya. Akan tiba masanya anda merasakan 
kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah mempercayakan 
kesetiaannya kepada anda. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk menemukan 
pangkuannya ketika anda risau.
Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan, Allah 
memberikan banyak keindahan & kemuliaan.
Wanita boleh menawarkan
Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat & ikhtiar untuk menikah. 
Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran 
kebutuhan biologis dengan lawan jenis.
Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang 
berbudi luhur, yang ia yakini kehormatan agamanya, dan kejujuran amanahnya 
menjadi suaminya. Dan Khadijah r.a atas teladan bagi wanita yang bermaksud 
untuk menawarkan diri.
Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlaq & kesungguhan untuk 
mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah & untuk mendapatkan 
pahala-Nya, Allah pasti mencatatnya sebagai kemuliaan & mujahadah yang suci. 
Tidak peduli tawarannya diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak 
mempunyai wali.
Insya Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan 
santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki 
yang memiliki pengetahuan yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan 
seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah & tidak memiliki kehormatan, kecuali 
sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan.
Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a. ada seorang wanita yang datang 
menawarkan diri kepada Rasulullah SAW dan berkata: "Ya Rasulullah! Apakah 
baginda membutuhkan daku?" Putri Anas yang hadir & mendengarkan perkataan 
wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri & rasa malu, 
"Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan." Anas 
berkata kepada putrinya: "Dia lebih baik darimu, Dia senang kepada Rasulullah 
SAW lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!" (HR Bukhari)


Ref: Kupinang Engkau dengan Hamdalah, M. Faudzil `Adhim

Kirim email ke