Satu Kampung Banyak Masjidnya
16 Jan 08 01:10 WIB

Oleh Sabrul Jamil

"Masjid ini dibangun oleh seorang dermawan asal Aceh. Warga sini tak satu butir 
pasir pun menyumbang, " ujar bapak tua ini kepadaku, seolah menyampaikan suatu 
rahasia besar, yang hanya segelintir orang yang tahu.

Dan, yah, aku memang baru tahu. Kami usai sholat zhuhur berjamaah, dan asyik 
memandangi interior Masjid yang dindingnya belum lagi dilapisi semen ini. Tak 
hanya dindingnya, tempat wudhunya pun masih darurat, seperti tempat MCK para 
pengungsi. Jika berwudhu, kita harus mengenakan sandal jepit, dan berjalan 
hati-hati agar tidak terpelanting karena lantai yang licin.

Kenapa warga tidak ingin membantu pembangunan Masjid (atau sebagian orang 
menyebutnya Mushollah, mengingat ukurannya yang tidak besar) ini? Aku tak 
hendak bertanya, khawatir mencongkel lebih jauh informasi yang kurang nyaman di 
telinga, dan tidak sehat untuk hati. Bukan apa-apa, aroma konflik memang terasa 
mengambang di sekitar tempat ini. Singkat kata, Musholla ini berdiri bukan atas 
kehendak warga.

Aku tak hendak berpihak ke mana-mana. Namun memang tak jauh dari Musholla ini 
sudah berdiri Musholla lain yang lebih apik, berdinding keramik, lengkap dengan 
pagar besi yang mengelilinginya. Bahkan tak cuma satu, melainkan dua musholla 
telah berdiri di jalan yang sama. Jika masing-masing jamaah berdiri di depan 
Musholla mereka, maka mereka bisa saling melihat dan melambaikan tangan. 
Sungguh dekat bukan?

Jadi, barang kali wajar juga kalau warga setempat tidak punya niatan untuk 
membangun Musholla lagi. "Yang ada sekarang saja belum penuh, kok sudah bangun 
yang baru?" Mungkin begitulah pikir warga. Belum lagi persoalan lama turun 
temurun seputar perbedaan mazhab. Jika donatur Musholla yang baru ini memiliki 
mazhab yang berbeda dengan warga, bisa jadi pembangunan Musholla baru ini malah 
disikapi dengan was-was.

Begitulah. Hanya sejenak aku singgah, sudah begitu padat problematika umat yang 
kurekam. Tapi, karena aku cuma mampir untuk sholat Dzhuhur, jadi aku segera 
beranjak pergi, dan tidak melanjutkan obrolan dengan bapak tua yang 
menyenangkan itu. Dia cuma ingin berbagi cerita, sebagaimana kebanyakan orang 
tua lain. Aku pamit pulang, dan dalam jarak kurang dari 2 kilometer, sepanjang 
jalan menuju pulang, kutemui beberapa Musholla lagi.

Di dekat rumahku sendiri ada empat Musholla dalam rentang radius seratus meter. 
Masing-masing memasang pengeras suara pada posisi yang tinggi, memastikan bahwa 
suara apa pun yang keluar dari Musholla itu dapat didengar oleh warga yang 
pendengarannya terganggu sekalipun.

Saat-saat menjelang shubuh, gema sholawat menerobos masuk ke kamar-kamar warga. 
Membantu kerja para malaikat yang menyapa umat Muhammad untuk segera bangkit 
menyambut hari baru dengan beribadah. Setiap Musholla mengumandang sholawat 
yang sama, dengan langgam yang sama pula. Ke mana pun kakiku melangkah, sama 
dekatnya. Namun meski dengan suara begitu lantang berdentang dan meyakinkan, 
ternyata tak sampai satu shaff jamaah shubuh yang berhasil direkrut. Hangatnya 
selimut dan empuknya tempat tidur masih menjadi pemenang sementara.

Namun para pengurus Musholla tak pernah berkecil hati.

"Yang penting kami sudah memanggil, dan menjalankan tugas kami. Soal mereka mau 
datang ke Musholla atau tidak, tentu tanggung jawab masing-masing, " demikian 
kira-kira jawaban mereka, orang-orang yang sudah separuh baya itu. Aku, tak 
bisa lain, kecuali terkesan dan menghargai prinsip mereka itu. Tapi terpikir 
juga olehku, jika orang-orang ini berlalu dipanggil oleh Allah, adakah yang 
tersisa di Musholla ini?

Saat Maghrib dan Isya situasi tak banyak berbeda. Adzan bertalu-talu dari 
setiap Musholla, menyadarkan kaum muslimin untuk meninggalkan televisi, 
menghentikan ngerumpi, meninggalkan cangkir teh dan kopi sore hari, dan 
membubarkan permainan tanpa arti. Namun tak ada korelasi apapun antara gema 
adzan dengan jumlah jamaah yang terpanggil. Meski tak selengang shubuh, jamaah 
Maghrib dan Isya tetap menyisakan ruang kosong yang lebar.

Kekosongan di masjid-masjid baru bisa terobati ketika sholat jumat. Jamaah 
melimpah-limpah seperti air keluar dari bak yang krannya lupa ditutup. 
Konsentrasi antrian di tempat wudhu memuncak mendekati pukul 12 siang. Setengah 
jam sebelumnya, kita masih bisa wudhu dengan tenang, tanpa orang menunggu di 
belakang kita dengan raut wajah yang seolah mengatakan, "Ayo cepetan!" Tapi 
selang kurang dari setengah jam kemudian, antrian massa membludak.

Namun penuhnya jamaah sesungguhnya ibarat tipuan fatamorgana di jalan Tol 
Jagorawi tengah hari. Dari jauh terlihat seperti air, namun sesungguhnya aspal 
yang tak sempurna memantulkan sinar matahari. Kebanyakan jamaah yang memenuhi 
Masjid pada saat itu sesungguhnya hanya mengantarkan jasadnya saja. Ruhnya 
terbang melanglang buana, singgah di antah berantah, di tempat-tempat lain yang 
dengan cepat terlupakan ketika khatib selesai khutbah dan muadzin melantunkan 
iqomat. Tak jarang ada yang harus dicolek-colek dengan keras agar segera sadar. 
Masih untung jika tidak sampai meneteskan air liur saking dalamnya kontemplasi 
yang dilakukan. Sungguh menyedihkan.

Namun, di tengah umat yang acuh-acuh butuh terhadap Masjid ini, masih saja kita 
temukan orang-orang yang bersemangat membangun Masjid. Entah yang membangun 
baru, atau sekedar memperluas bangunan, mempertinggi menara, atau mengganti 
tembok semen dengan porselen.

Bangun dulu, rawat belakangan. Sepertinya itulah prinsip yang mereka pegang. 
Betapapun sederhananya cara berpikir mereka, Aku memilih tetap menghargainya. 
Jauh lebih menghargai ketimbang mendengarkan kritikan tanpa serius membantu 
apa-apa. Mirip penonton PSSI, asyik menonton sambil makan kacang, memuji si A 
dan membodoh-bodohkan si B, tapi naik tangga satu lantai saja sudah kehabisan 
nafas.

Tapi tak semua Masjid semurung yang saya ceritakan. Ada pula Masjid yang 
pengurusnya bukan para pensiunan, melainkan orang-orang yang masih aktif di 
perusahaan masing-masing. Mereka kuat secara finansial, punya relasi sana sini, 
penuh dengan ide-ide segar. Karena segar dan punya sumber daya, mereka sibuk 
menggagas berbagai kegiatan yang dapat menjadi solusi bagi kebutuhan umat. 
Pelajaran alQuran tersedia mulai dari anak-anak yang baru bisa berlari, hingga 
kakek-nenek. Ada kajian tafsir, ada pula kajian fiqh. Setiap hari-hari 
bersejarah bagi umat Islam diselenggarakan kegiatan yang bervariasi, mulai dari 
donor darah, pengobatan gratis, bazaar barang-barang murah berkualitas, kajian 
pengobatan alternatif, pembagian sembako rutin, talk show remaja bertema 
seputar remaja dan cinta, di samping acara rutin tabligh akbar mengundang 
penceramah kondang. Ada pula Masjid yang sanggup membuka BMT, berhadapan head 
to head melawan rentenir.

Masjid seperti ini, sejauh yang saya tahu, dicintai jamaahnya. Shubuh dan Isya 
sama ramainya. 
bestmuslim. Wordpress. Com

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8115184127-satu-kampung-banyak-masjidnya.htm

Kirim email ke