Yusuf Mansur 
Berdakwah Lewat Kisah Sedekah 



Muda, terkenal, sukses dan ulama pula. Pahir perjalanan hidup mengantar dia 
menjadi seperti sekarang. Ustadz Yusuf Mansur, tak ingin shaleh sendirian. 
Lewat Wisata Hati, dia mengajak semua umat untuk berbagi (sedekah) dengan 
mereka yang kesulitan dengan berbagai media dakwah verbal, buku, sinetron, dan 
film . Ajakannya seolah menjadi sebuah gerakan mulia mencontoh Rasulullah SAW. 
Atas itu, Yusuf Mansur menjadi salah satu Tokoh Perubahan Republika 2007.

Dia menganggap pengalaman hidup yang pahit ada dua makna, ujian atau azab. Jika 
itu azab, maka andai sulit diatasi selama bertahun-tahun, jawabannya adalah 
taubat yang suci dan ikhlas. Tapi jika itu ujian, maka bisa jadi itu 'jamu' 
yang menjadi obat untuk hidup lebih baik. Di sela kesibukannya berdakwah dan 
mengasuh pondok pesantren Tahfidz Qur'an, Darul Qur'an, di Kampung Ketapang, 
Cipondoh, Tangerang, dai muda ini bertutur tentang pengalaman hidupnya kepada 
wartawan Republika Asan Aji. Berikut petikannya.

Apa yang melatari Anda menjadi dai?
Awalnya saya menulis buku (Mencari Tuhan yang Hilang-red). Setelah itu, sering 
diminta melakukan bedah buku yang isinya tentang kehidupan terutama tentang 
pribadi saya. Pengalaman bedah buku di seminar dan forum itu, kemudian menjadi 
metode bertutur lewat kisah. Alhamdulillah, saya sadar betul bila Allah sudah 
memberikan jalan pilihan bagi saya untuk berdakwah. Target dakwah saya memang 
soal sedekah.

Jadi, memang sengaja memilih tema sedekah? 
Ya, saya sadar betul memilih tema sedekah itu. Tujuannya, agar jamaah ikut 
bersedekah. Sebab, dengan jamaah bersedekah, artinya kita juga ikut sedekah. 
Ketika jamaah bersedekah, artinya itu merupakan sedekah kita juga. 
Saya fokus di tema sedekah karena saya ingin bangsa ini berubah. Dulu saya 
menangis, karena kesusahan. Setelah ditemukan jawabannya ternyata sedekah. Ini 
kan benar-benar aneh dan ngawur. Orang susah kok disuruh sedekah. Tapi memang 
itu jawabannya. Saya ingin jamaah merasakan apa yang dirasakan pelaku sedekah.

Anda masih muda. Boleh tahu tantangan berat menjadi ustadz di usia muda?
Ya. ha.. ha..ha..,tantangannya itu saya kira off the record

Ada cara mengatasinya?
Ya, jangan terlalu dipikirin

Tantangan lainnya apa?
Kata orang tantangan bagi dai itu datang dari kalangan ustadz sendiri. 
Alhamdulillah, saya justeru dapat dukungan dari mereka.

Mengapa begitu, bagaimana resepnya?
Saya disupport, karena tema yang saya angkat menarik. Saya bicara soal sedekah 
yang dulunya orang jarang berani mengupas. Takut diangap tidak ikhlas atau 
riya. Ya, hadiah Allah yang melalui mulut saya, yang membuat sesuatu yang 
berbeda tentang sedekah ini.

Dengan jadwal yang padat, apa tak ada masalah dengan keluarga?
Itu tantangan berikut yang harus dihadapi para dai. Tantangan internal memang 
dari keluarga sendiri. Dalam hal waktu, saya pernah selama setahun tidak 
bertemu orang tua, istri dan anak serta saudara. Tapi, Alhamdulillah 
beliau-beliau serta mereka itu bisa memahami kondisi dan posisi saya sebagai 
ustadz. Mereka menyadari dan paham bila lebih banyak orang lain yang berjuang 
tanpa bisa melihat keluarganya. Merekalah para mujahid fi sabilillah. Kami 
masih mendingan, karena masih bisa pulang.

Ada pengalaman getir selama setahun tidak bertemu keluarga?
Memang ya. Saya sedih, sedang berada di tempat lain ketika ayah tiri saya 
meninggal sehingga tidak sempat melihat. Karena itu, pada tahun 2008 strategi 
dakwah akan saya ubah.

Strategi seperti apa?
Sebelumnya saya berdakwah personal. Nantinya bersifat kelembagaan atau 
institusional. Jadi, ada semacam sentra kuliah dengan merilis modul-modul 
kuliah atau modu-modul kajian. Kemudian men-ToT (Training on Trainer)-kan pada 
dai-dai muda lainnya. Di setiap sentra ada asatidz (ustadz-ustadz) yang sudah 
dibina untuk menyebarkan materi yang disiapkan.

Apakah model itu efektif?
Justru ini sangat efektif. Sebab, mereka bisa secara bebas waktu dan tempat 
menjalankan dan melaksanakan materi kita. Juga tak ada konsentrasi massa yang 
sangat banyak di satu tempat. Sebaliknya massa yang bisa disentuh dakwah lebih 
banyak. Hasilnya, menurut saya lebih efektif. 
Kebetulan, kita akan menggelar road show 'Kun fa Yakuun' di seratus kota di 
Indonesia. Insya Allah kami akan jumpa dengan sekitar 19,2 juta orang dari 19 
ribu majelis. Jika setiap majelis beranggotakann seratus orang berarti ada 19,2 
juta orang. Itu hitungan sederhana yang tak akan tercapai jika saya keliling. 
Bayangkan kita keliling 19 ribu masjid, aduh..!

Jadi, tidak lagi menggunakan media massa?
Tidak begitu. Kita tetap memanfaatkan media massa sebagaimana sebelumnya. Hanya 
saja, intensitasnya dikurangi. Dulu saya memang memilih menggunakan televisi, 
radio dan internet. Ternyata semua itu mempunyai keterbatasan. Di antaranya, 
televisi dan radio itu bukan milik kita. Misalnya, ada orang yang hendak 
mengaji, jam 10.00 malam. Itu kan tidak bisa kita stel sesuai dengan keinginan 
kita sendiri. Nah, dengan modul-modul, asatidz di daerah tinggal menerangkan 
secara global. Detailnya bisa diperoleh lewat modul atau DVD yang bisa dilihat 
di tiap sentra.

Berapa target pendirian sentra pada 2008 ini?
Tahun ini kami targetkan 300 sentra dakwah. Awal tahun ini sudah ada 40 sentra 
di kawasan Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banjarmasin, Kalimantan 
serta di Medan (Sumatra Utara). Februari ini akan dibentuk di Padang, Sumatra 
Barat.
Sentra dakwah juga bisa jadi roda penggerak ekonomi masyarakat sekitar. 
Bayangkan, bila saya pengajian di sana, banyak orang datang sehingga jamaah 
bisa buka usaha dengan menjual produk. Sentra juga bisa jadi pusat gerai hingga 
bisa jadi nilai tambah. Inilah, jika kita mengurusi jalan Allah, maka akan 
diberi jalan pula oleh Allah.

Tidakkah Anda jadi lebih sibuk?
Sebaliknya, waktu untuk keluarga akan makin banyak. Jika dulu, saya harus 
keliling kota di Indonesia, karena kita ditentukan oleh permintaan orang. Kini, 
tidak begitu. Dengan menggunakan modul-modul dan DVD itu kita bisa menentukan 
waktunya. Kita bisa menawar mengenai ketentuan waktu itu. Bahkan, saya sudah 
mulai mengurangi roadshow ke daerah. Jika dulu sepuluh kali roadshow sekarang 
lima atau mungkin tiga kali saja. Bahkan, bisa sekali sehari. Buktinya, tadi 
pagi (Sabtu/12/1) tadi saya bisa mengantarkan anak berlibur ke Ancol.
Waktu untuk bertemu keluarga, orang tua, mertua dan tetangga sudah cukup 
banyak. Dulu saya sempat dianggap sombong oleh tetangga. Karena, saat saya 
kembali ke rumah banyak tetangga yang ingin bertemu tapi waktu saya amat minim 
karena harus berangkat lagi. 
Saya bilang ke mereka, kalau saya mau menemui istri dan memeluk serta mencium 
anak dulu. Eh, tetangga bilang saya berubah. Saya dicap sombong, belagu 
mentang-mentang sudah jadi ustadz. Padahal, saya tidak bermaksud begitu. Karena 
itu, akhirnya saya pikirkan bagaimana ada perpanjangan tangan untuk distribusi 
ilmu yang tidak ada masalah dengan persoalan waktu.

Sejak kapan hal ini direncanakan?
Kami mulai mengerem kegiatan awal 2007. Kami kurangi jadwal dari 10 kali sehari 
menjadi tiga kali dan sekali saja. Materi akan disesuaikan dengan pengalaman 
riil di tengah masyarakat. Saya punya materi-materi yang dimodulkan itu seperti 
''Bagaimana Agar Gampang Bayar Hutang, Gampang Dapat Jodoh, Mudah Mendapat 
Pekerjaan, Bisa Mendapatkan Modal Tanpa Bayar.''
Dulu untuk berceramah, masyarakat mengundang saya datang ke tempat mereka. 
Sekarang tidak begitu. Mereka cukup datang ke sentra saja dan sudah ada 
perangkat multimedia dan media off print yang bisa diakses jamaah.

Masih sempat memproduksi sinetron?
Masih. Sekarang malah tambah bersemangat. Sebab, saya memproduksi sendiri 
sinetron-sinetron dakwah itu.

Anda berencana menulis buku lagi? 
Setelah kami lahirkan tema-tema sedekah, saya juga akan menerbitkan The Miracle 
(Keajaiban) yang berisi kesaksian lengkap dengan hitung-hitunganya. Buku itu 
tentang sedekah dari tinjauan filosofis dan akademis.

Siapa yang mengilhami dan terlibat dalam pembuatan buku tersebut? 
Sudah menjadi kewajiban saya, menyampaikan lewat lisan dan tulisan. Itu akan 
menjadi matakuliah yang pengikutnya jutaan. Sebab, akan kita upload langsung di 
web. 
Tutorialnya lewat web yang on line 24 jam. Saya yakin belajar dari The Miracle 
itu akan mengetahui bagaimana kekuatan mahadahsyat sedekah yang datang dari 
Allah yang bekerja dengan efektif dalam kehidupan manusia.

Bagaimana perkembangan pesantren darul Qur'an, Wisata hati?
Alhamdulillah. Kalau melihat perkembangannya saya ingin menangis. Dulu saya 
hanya ingin keluar dari penjara dengan mengamalkan Alquran. Untuk itu, saya 
merintis pesantren. Pada 2003 saya pamit sama ustadz Basoni dan H Ahmad minta 
santri. Ketika 2004 ada delapan santri. Setelah itu itu berkembang sampai 
sekarang. Buat saya, pesantren itu adalah laboratorium. Bagi jamaah, saya 
bilang kalau mau dekat dengan Allah, ikut menanggung membantu santri di 
pesantren. Alhamdulillah dukungannya gila-gilaan. Sekarang ada donatur dari 
Semarang, Surabaya, Sulawesi, Sumatera dan lain sebagainya. Kami mau membangun 
pesantren dengan dana hampir Rp 200 miliar.

Matematika Kun Fa Yakuun

5+3=-2. Tidak selamanya hitung-hitungan matematika lima ditambah tiga sama 
dengan delapan. Boleh jadi hasil akhirnya minus dua jika manusia banyak 
melakuan tindakan yang haram.

''Memang ada matematika yang aneh. Yaitu bukan matematika manusia. Disebut aneh 
karena kita tidak belajar. Yaitu sepuluh dikurang satu, hasilnya bukan 
sembilan, tapi sembilan belas. Karena satu yang disedekahkan ke Allah, 
dikembalikan lagi oleh Allah sepuluh. Jadi praktis hasil akhirnya sembilan 
belas,'' tandas Ustad Yusuf Mansur usai memberikan taushiah di Masjid Kompelks 
Pondok Pesantren Wisata Hati, Cipondoh Tangerang.

Matematika tidak linier itu menurut Yusuf Mansur harus dikampanyekan agar 
kehidupan bangsa lebih baik lagi ke depan. ''Kita sudah berhasil 
menyosialisasikan sedekah dan sekarang saatnya bicara soal dosa besar,'' kata 
dai muda berusia 31 tahun itu.

Matematika aneh, kata dia, bisa menyelesaikan krisis bangsa. Dia bercerita soal 
kesaksian seorang siswi SMU di Makassar yang akan ujian dan ibundanya sedang 
sakit keras. Siswi itu berdoa dan berniat menyedekahkan seluruh uang di dalam 
celengannya. ''Doanya hanya satu, ia rela tidak lulus ujian asal ibunya 
sembuh.'' Ibu siswi itu disembuhkan dari sakit dan ia juga lulus ujian.

Istimewa karena anak itu hanya punya satu kali permohonan. ''Kalau kita 
sedekahnya sekali, permohonannya borongan banyak banget.'' Idealnya sedekah 
minimal 2,5 persen, Yang lebih afdol adalah 10 persen dari harta. ''Orang kita 
sering tidak adil. Minta disembuhkan penyakit jantung, yang jika operasi 
membutuhkan dana puluhan juta rupiah--hanya dengan sedekah Rp 100 ribu.''

Berbagi atau sedekah adalah tema sentral dakwah Yusuf Mansur. Meski banyak 
menerima kesaksian lewat SMS, tema dan pola dakwahnya digarap profesional 
dengan melibatkan tim. Sektiar 20 orang berada di ring satu, istilah Yusuf 
Mansur. ''Mereka bukan ajudah atau sekretaris karena saya tidak punya.'' Yang 
paling dekat dengan dirinya adalah Ustadz Jamil dan Hendy Rochim.

Tak cukup dengan dakwah verbal dan personal, Ustad Yusuf pun menyampaikan 
misinya lewat blog, sinetron, lagu dan bahkan film. Sinetron Mahakasih yang 
diproduksi Sinemart menjadi tontonan yang ditunggu banyak pemirsa televisi 
karena cerita yang lugas, dan tidak menggurui dan tidak mengumbar kemewahan.

Belakangan ia merintis juga sebuah sekolah komersial Darul Quran International 
School yang menyasar kalangan menengah atas. Sinetron dan film produksinya 
seperti Kun Fa Yakuun, Mahakasih dan belakangan sebuah film dengan biaya 
produksi hingga Rp 6 miliar dengan bintang Agus Kuncoro, Zaskia Mecca dan Desy 
Ratnasari adalah juga menceritakan matematika tidak linier itu.

Biodata
Nama: Yusuf Mansur
Lahir: 19 Desember 1976 (31 tahun) Pekerjaan: Pendiri Wisatahati 
Corporation/dakwah
Pendidikan: IAIN Jakarta
Karya:
Mencari Tuhan Yang Hilang (Buku)
Mahakasih (Sinetron)
Kun Fa Yakuun (Film dan Sinetron)

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=319984&kat_id=505

Kirim email ke