Republika, Senin, 11 Februari 2008

Etika Berbicara 

Oleh : Bahron Anshori 


Setiap orang pasti ingin selalu berbicara. Namun, tidak setiap orang yang 
berbicara itu mempunyai memperhatikan etika dalam menyampaikan pesannya. 
Sebagai Muslim, hendaknya dalam berbicara, kita memperhatikan beberapa etika 
yang bisa mendatangkan kebaikan dan keberkahan.

Di antara etika berbicara yang dianjurkan oleh Islam adalah; pertama, hendaknya 
pembicaraan selalu di dalam kebaikan. Allah SWT berfirman, ''Tidak ada kebaikan 
pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang 
menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan 
perdamaian di antara manusia.'' (QS Annisa [4]: 114).

Kedua, sebaiknya orang berbicara dengan suara yang jelas agar dapat didengar, 
tidak terlalu keras, tidak pula terlalu pelan. Selain itu, jangan membicarakan 
sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW bersabda, ''Termasuk kebaikan 
Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.'' (HR Ahmad 
dan Ibnu Majah).

Ketiga, hendaknya orang yang berbicara jangan membicarakan semua apa yang 
didengar, sebab bisa jadi semua yang didengar itu menjadi dosa. Nabi SAW 
bersabda, ''Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia 
membicarakan semua apa yang telah ia dengar.'' (HR Muslim) Keempat, menghindari 
perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan 
menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Nabi SAW bersabda, ''Aku adalah 
penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari 
pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di 
tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun 
bercanda.'' (HR Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Kelima, berbicara dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aisyah RA menuturkan, 
''Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu 
pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat 
menghitungnya.'' (Mutta-faq'alaih).

Keenam, hindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. 
Nabi SAW bersabda, ''Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang 
paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang 
yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun.'' Para shahabat 
bertanya, ''Wahai Rasulullah, apa arti mutafaihiqun?'' Nabi menjawab, 
''Orang-orang yang sombong.'' (HR At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

Terakhir, dalam berbicara sebaiknya kita menghindari perbuatan menggunjing 
(ghibah) dan mengadu domba. Allah SWT berfirman, ''Dan janganlah sebagian kamu 
menggunjing sebagian yang lain.'' (QS Alhujurat [49]: 12).

Semoga setiap pembicaraan yang kita lakukan menjadi bermanfaat dengan 
memperhatikan etika berbicara. Wallahu a'lam. 


Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.

Kirim email ke