Assalamu'alaikum wr wb
Email ini dikirim oleh teman anda  almasdi rahman dari situs Swaramuslim.net
 
Untuk melihat isi silahkan click berikut ini :

http://swaramuslim.net/comments.php?id=5850_0_1_0_C

Wahid Institute adakan Training Pluralisme untuk Kalangan Kristen

Kaum muda Kristen diajari pluralisme agama. Mereka diajarkan Islam dan diajak 
“magang” ke pondok pesantren. Dianggapnya meningkatkan “dialog antar agama’

The Wahid Institute, sebuah LSM  yang kerap mengkampanyekan prinsip liberal 
Islam mengadakan kelas tentang Islam dan pluralisme untuk kaum muda Kristen. 
LSM yang diprakarsai oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid ini bekerjasama 
dengan Crisis Center Gereja Kristen Indonesia (GKI) mengadakan kelas itu dalam 
empat pertemuan.

Sebanyak 30 orang muda Kristen, termasuk mahasiswa, penulis, wartawan, penyiar 
radio, dan aktivis sosial, ikut menghadiri pertemuan pertama selama tiga jam 
tentang Islam dan Umat Agama lain, yang diadakan di aula dari institut yang 
terletak di Jakarta Pusat itu tanggal 18 Januari lalu.

Pertemuan akan diadakan setiap Jumat malam dan berlangsung hingga 8 Februari 
2008. Para peserta akan diajak langsung dalam program live-in selama tiga hari 
di sebuah pesantren di Yogyakarta.

Pertemuan berikutnya, kaum muda Kristen ini akan diajarkan membicarakan “Peta 
dan Gerakan Islam Kontemporer.” Diantaranya, mereka akan diajarkan tentang; 
“Islam, Politik, dan Formalisasi Syariat-Syariat Islam; serta Islam dan Problem 
Keumatan.”

Koordinator kelas itu, Moqsith Gazali yang juga salah satu pegiat Jaringan 
Islam Liberal (JIL) mengatakan kepada UCA News, kurikulum kelas itu dibentuk 
lewat konsultasi dengan beberapa staf Sekolah Teologi Protestan, Sekolah Tinggi 
Filsafat Driyarkara yang dikelola Yesuit, serta beberapa pendeta.

Maksud di belakang program yang merupakan salah satu media untuk meningkatkan 
dialog antaragama itu, kata Doktor Bidang Tafsir dari Universitas Islam Negeri 
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, adalah untuk membantu orang non-Muslim 
yang mau belajar Islam dan pandangan Islam tentang pluralisme secara langsung 
dari tangan pertama, kutip sebuah situs Kristen.

Bahan-bahan yang dipublikasikan oleh institut, yang memiliki moto Seeding 
Plural and Peaceful Islam (Menyemai Islam yang Damai dan Plural), itu 
mengatakan bahwa institut itu bertujuan untuk mewujudkan prinsip-prinsip dan 
cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid untuk membangun pemikiran Islam moderat 
yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme 
dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia.

Abdurahman Wahid dan Maftuh Kholil adalah pembicara pada pertemuan pertama 18 
Januari.  

Kholil, seorang aktivis dialog antaragama, adalah ketua NU Kota Bandung, 
ibukota Propinsi Jawa Barat, tempat ia juga mengelola sebuah pesantren.

Izin Membangun Gereja
Sebagaimana dikutip UCA News, Abdurahman Wahid kepada kaum muda Kristen itu 
mengaku, ada pandangan pluralitas dalam Islam. Ia mengutip dari Al-Quran: “Bagi 
Kalian agama kalian, bagiku agamaku.” Ini, katanya, “adalah esensi pluralisme 
–orang boleh menganut agama yang berbeda-beda.”

Situs itu juga mengutip, Abdurahman Wahid mengakui ia sendiri jika ia mengalami 
kesulitan memahami Al-Quran. “Maka kalian juga harus memeriksa Kitab Suci 
kalian dengan teliti. Tak bisa begitu saja,” katanya.

Kepada mantan presiden itu peserta juga menceritakan tentang serangan terhadap 
gereja-gereja oleh kelompok Islam tertentu dan meminta bantuannya.

Seorang peserta, Renata, meminta agar Gus Dur dan NU melindungi kegiatan agama 
Kristen dan membantu umat Kristiani mendapat ijin untuk membangun gereja. 

“Umat Kristen perlu dukungan umat Muslim,” kata wanita itu kepada Wahid, seraya 
berharap agar Gus Dur “membantu kami mengatasi berbagai masalah dalam 
menghadapi umat Muslim lain.”

Dalam ceramahnya, Kholil menjelaskan enam prinsip bermasyarakat Nabi Muhammad 
sebagai konsekuensi logis menghadapi masyarakat Madinah yang heterogen 
pluralistik: al-Musawa (kesetaraan) dan al-Ikha (persaudaraan), al-Hurriyyah 
(kebebasan), al-Tadafu (saling melindungi), al-Taawun (saling membantu), 
al-Ishlah (perdamaian), dan al-Tasamuh (toleransi).

Ia mengatakan aksi pertama yang dilakukan nabi itu di Madinah adalah 
mendeklarasikan Shahifah Madinah (Piagam Madinah), “yang intinya komitmen 
bersama bahwa seluruh warga adalah berupa satu kesatuan masyarakat yang 
senantiasa bekerja-sama membangun dan mengatasi masalah-masalah sosial yang 
timbul di Madinah.”

Kholil bercerita bahwa tanggal 10 November, NU yang dipimpinnya di Bandung 
mengundang pemimpin agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Konghucu, dan 
Protestan untuk bertemu di kantor NU di Jalan Sancang.

“Setelah berbicara, berbagi pengalaman, dan berdiskusi tentang situasi 
keagamaan di kota itu, kami, 17 pemimpin agama sepakat, menandatangani, dan 
mendeklarasikan komitmen bersama yang berisi lima poin.”

Deklarasi Sancang itu berbunyi: “Kami, umat beragama Kota Bandung, adalah 
bagian dari bangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi kesatuan dan 
persatuan; menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; selalu berjuang untuk 
tegaknya hukum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kerukunan hidup 
demi mencapai kebahagiaan bersama; selalu mengembangkan sikap toleransi, 
tenggang rasa dan saling menghormati; selalu bekerja sama untuk berperan dalam 
mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan.”

Kholid juga mengatakan ia dan para anggota NU juga mengunjungi gereja Protestan 
dan katedral Bandung untuk membagikan bunga bagi umat Kristiani di Hari Raya 
Natal 2006. Ia juga mengatakan ia mengalungkan bunga kepada para pemimpin agama 
Katolik dan Protestan pada kesempatan itu.

Menurut Kholil, ketua Pengurus Besar NU, KH Said Agiel Siradj, mengatakan dalam 
akhir sambutannya pada pertemuan 10 November itu: "Bagi NU yang mayoritas harus 
melindungi yang minoritas. Itu prinsip NU. NU siap menjadi tumbal keselamatan 
keutuhan Republik Indonesia."

Kursus yang sedang berjalan saat ini adalah Kelas Islam dan Pluralisme keempat. 
Program sebelumnya diberikan untuk para pendeta dan teolog Protestan. 

Dalam sebuah makalahnya yang disampaikan pada kaum muda Kristen,  Marzuki 
Wahid, salah satu pemateri, membagi Islam dalam beberapa kategorisasi. Ia 
membagi “Islam ekslusif” (tertutup) dan “Islam inklusif” (terbuka). 

Marzuki yang juga aktivis Islam Liberal dari Fahmina Institute Cirebon ini 
memasukkan NU organisasi senafas sebagai “Islam inklusif”. Namun memasukkan 
ormas-ormas Islam seperti;  DDII, FPI, MMI, HTI,  dan Persis sebagai “Islam 
ekslusif”. 

“Dalam bacaan saya, masuk dalam kategori ini secara umum adalah organisasi 
DDII, LDII, FPI, MMI, HTI, HT, Persis, dan sebagian orang Muhammadiyyah. Kedua, 
Islam yang berorientasi pada kerahmatan semesta (ra hmatan lil ‘âlamîn), yakni 
”Islam inklusif”. Masuk dalam kategori inklusif secara umum adalah organisasi 
NU, orang-orang (bukan keorganisasiannya) Muhammadiyyah, al-Washliyyah, Perti, 
al-Kahirat, dan Nahdlatul Wathan,” katanya dimuat di situs 
www.wahidinstitute.org [ucn/twi/www.hidayatullah.com]

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -


Kirim email ke