---------- Forwarded message ----------
From: firliana putri <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 20 Feb 2008 09:39
Subject: [CR] Takkan Teraih Surga

Takkan Teraih Surga

Dua hari lalu ada salah satu teman yang membaca buletin bulanan yang
diterbitkan salah satu yayasan di Surabaya dimana dia menyalurkan
salah satu infaq bulanannya. Pada salah satu rubrik dalam buletin itu
dinukilkan sebuah hadits :
Dari Aisyiyah ra, Rasulullah saw bersabda, "Tingkatkanlah amalmu
dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan dan bergembiralah,
karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga". Tanya para
sahabat, "Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah ?", jawab Rasulullah,
"Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan
ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang
dikerjakan secara terus ­menerus walaupun sedikit". (HR. Bukhari,
Muslim dan Nasa'i).
Temanku itu mempertanyakan tentang : amal seseorang tiada dapat
memasukkannya ke surga, dianggapnya hal tersebut salah ketik. Mungkin
dalam benaknya muncul pertanyaan kenapa harus beramal kalau amal
tersebut tidak dapat memasukkan kita ke dalam surga ?
Alhamdulillah dari pengajian-pengajian yang kuikuti terutama bimbingan
dari Syekh Luqman aku memahami hadits tersebut yang tentu saja
pemahamanku masih sangat-sangat terbatas, kira-kira demikian :

1. Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada
kebaikan dan bergembiralah
Derajad tertinggi dalam kehidupan ini adalah menjadi hambanya Allah
bukan hambanya dari selain Allah. Sebagai hamba, wajibnya kita
melaksanakan seluruh kehendakNya. PerintahNya dalam hadits tersebut di
atas adalah meningkatkan amal, mendekat kepada kebaikan dan
bergembira. Meningkatkan amal dengan baik, menurut pemahamanku
pokoknya hidup yang kita jalani ini harus kita niatkan sebagai amal
sholih dan kita tingkatkan terus kualitas keikhlasannya. Allah
memerintahkan kita beramal sholih, ya sudah, jalankan saja lillahi
ta'ala. Masalah ganjaran-fadillah-manfaat-pahala yang dijanjikan
Allah, engga usah direken, tidak usah dihiraukan. Bukankah sudah
dijanjikan ? Sedangkan Allah Maha Menepati Janji, ya sudah, tidak usah
dihitung-hitung pasti diberi. Pokoknya jalankan saja perintahNya
titik. "Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah dan
kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti
rabunnya mata batinmu". (al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî).
[Syekh Luqman pernah memberikan contoh di antaranya : shalat sunnah
dua rakaat lebih afdhol dari surga, karena yang dituntut oleh Allah
adalah shalatnya, sedangkan surga adalah yang dijamin oleh Allah;
ikhtiar itu lebih afdhol dari hasil ikhtiar; berdoa lebih afdhol dari
ijabah doa itu sendiri] Lebih dekat kepada kebaikan, awal kebaikan itu
adalah mengingat Allah, merasakan kehadiranNya atau merasakan Allah
selalu hadir dalam kehidupan kita yang akan membawa kita selalu
menjaga adab atau sopan santun kita dihadapanNya sehingga yang keluar
dari diri kita ini yang baik-baik saja, sehingga misalnya kalau mau
berbuat tidak baik pasti tidak jadi karena malu sama Allah, kan Allah
selalu hadir dalam setiap gerak-gerik hati kita. Jadi, lebih dekat
kepada kebaikan mungkin maksudnya adalah bahwa kita harus
mengupayakan, mengkondisikan agar kita selalu ingat Allah. Harus kita
jaga apa yang menjadi konsumsi indera kita dan harus kita jaga
lingkungan pergaulan kita agar semuanya kondusif dalam mendukung
pertumbuhan spiritual kita, lebih yaqin, semakin yaqin, wis poko-e
yuakin puollll, haqqul yaqin. Kita pasti tahu takaran iman kita
masing-masing, karena itu jangan menantang, kalau iman kita cuman
biasa-biasa saja seperti daku, ya jangan coba-coba masuk di lingkungan
yang dekat dengan kemaksiatan, biasanya pasti kejebur. "Jangan
berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu
dan pembicaraannya tidak membimbingmu ke jalan Allah. Boleh jadi
engkau berbuat buruk tetapi tampak olehmu sebagai kebaikan, lantaran
engkau berkawan dengan orang yang tingkah lakunya lebih buruk darimu".
(al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî). Bergembiralah, kenapa kok
harus bergembira ? Ya karena siapa saja yang sudah bisa melaksanakan
dua perintah sebelumnya, yaitu meningkatkan amal sholih dengan baik
dan lebih mendekat kepada kebaikan, berarti itu merupakan tanda-tanda
bahwa Allah ridho kepadanya. "Janganlah ketaatanmu membuatmu gembira
lantaran engkau mampu melaksanakannya, tetapi bergembiralah lantaran
ketaatan itu merupakan karunia Allah kepadamu". (al-Hikam, Ibnu
'Athâillâh As-Sakandarî). Q.S. Yunus [10]:58 : "Katakanlah, dengan
kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.
Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan." Karena itu dalam hadits tersebut diatas, selanjutnya
dikatakan oleh Rasulullah saw :

2. Amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga
Dalam proses apa pun pasti ada yang tersisa menjadi sampah, menjadi
polutan. Inilah sunatullah bahwa dalam suatu proses, takdirnya ada
yang menjadi inti dan ada yang menjadi sampah. Contoh sederhana adalah
yang terjadi dalam tubuh kita sendiri dimana dalam proses pencernaan
juga menyisakan sampah yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh baik
yang berbentuk padat maupun cair. Nah, dalam proses kehidupan ini pun
seperti itu, kita yang ditakdirkan hidup sebagai manusia belum tentu
menjadi hambaNya (inti), hamba inilah yang mendapat keridhoanNya
sedangkan sisanya menjadi sampah. Kalau bicara dalam konteks surga dan
neraka, maka hamba Allah inilah yang dengan kehendakNya akan
ditempatkan di surga dan sampahnya dengan kehendakNya akan ditempatkan
di neraka. Berarti siapa yang menjadi hamba dan siapa yang menjadi
sampahnya hamba sudah ditakdirkan ? Ya. Lalu untuk apa beramal ?
Amaliyah kita adalah tanda-tanda bahwa Allah ridho kepada kita dan
akan menempatkan kita dalam surgaNya. Apakah Anda akan mengklaim bahwa
ibadah Anda adalah hasil upaya Anda sendiri ? Kalau tanpa hidayah dari
Allah maka pasti Anda tidak akan tergerak untuk beribadah kepada
Allah. "Laa haula walaa quwwata illaa illaahil 'aliyyil 'adzhim"
(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang
Maha Tinggi lagi Maha Agung). Secara akal, ibadah kita menyebabkan
turunnya ridhonya Allah. Kalau seperti itu berarti Allah tergantung
kepada manusia ? Bukankah kekuasaan Allah menentukan segala sesuatu ?
Secara akal memang seperti itu, tetapi secara hakiki kalau Allah ridho
kepada hambaNya maka Allah juga akan menggerakkan hati si hamba untuk
taat dan beribadah kepadaNya. Karenanya kalau kita bisa beribadah
kepada Allah, hati harus memandangnya sebagai limpahan hidayah, rahmat
dan pertolonganNya kepada kita. Jangan mengklaim itu sebagai usaha
kita sendiri. Bisakah kita menjamin diri kita bahwa besok masih
beriman ? Bisakah kita menjamin di akhir kehidupan nanti dalam keadaan
yang khusnul khotimah ? Kembali lagi ke masalah surga dan neraka,
bukankah surga dan neraka juga makhluknya Allah ? Lalu seandainya
Allah tidak menciptakan surga dan neraka, apakah kita tidak mau
beribadah ? Nah ?!
Sebagai bahan renungan dan muhasabah diri, Syekh Zaruq dalam Syarah
Al-Hikam karya Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî :
Jika Anda mulai berorientasi serba duniawi, memburu duniawi, itu
tandanya Allah sedang menghina Anda.
Jika Anda sedang berorientasi dalam ubudiah, itu tandanya Allah sedang
menolong Anda.
Jika Anda sedang sibuk dengan urusan sesama manusia sampai lupa kepada
Allah, itu tandanya Allah sedang berpaling dari diri Anda.
Jika Anda dijauhkan dari rintangan-rintangan menuju kepada Allah,
sesungguhnya Allah sedang mendidik budi pekerti kehambaan Anda.
Jika Anda bergairah dalam munajat kepada-Nya, itu tandanya Allah
sedang mendekati Anda.
Jika Anda ridla atas ketentuan-Nya, dan Ridla bersama-Nya, itu
tandanya Allah Ridla kepada diri Anda.

3. Amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara
terus ­menerus walaupun sedikit
Itulah yang dinamakan istiqomah dan sungguh istiqomah itu adalah hal
yang sangat sulit dilakukan. Coba saja, dan ternyata aku juga
merasakan sulitnya beristiqomah, kalau tidak dengan pertolongan Allah,
niscaya kita akan sulit melakukannnya. Para ulama mengatakan bahwa al
istiqomah khoiru min alfi karomah – istiqomah itu lebih baik dari
seribu kemuliaan. Karena itu yang saya dengar dari Syekh Luqman, bahwa
istiqomah merupakan maqom – kedudukan spiritual di hadapan Allah.
Siapa yang diberikan kekuatan oleh Allah untuk bisa istiqomah dalam
amaliyahnya, berarti orang tersebut mendapatkan karomah dari Allah.
Karomahnya itu ya istiqomah itu sendiri, jadi bukan karomah yang
diasosiasikan sebagai hal-hal yang di luar kewajaran. Karena itu meski
kita belum bisa beristiqomah, niatkan saja untuk istiqomah, berharap
Allah menolong kita, sambil terus berusaha melakukannya.
"Pengharapanmu harus disertai dengan amalan. Kalau tidak, maka itu
hanyalah lamunan". (al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî).

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW. bersabda: Tanda orang munafik itu
ada tiga, yaitu, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia
mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat. (HR. Syaikhan)


Kirim email ke