Cukup menyentuh di jaman yang serba-sulit sekarang ini. Ada beberapa
"guidance" yang mungkin bisa kita jadikan pegangan :
1. Qur'an surat ..... (?) yang kira-kira artinya : Kawannya syetan itu orang
yang terlalu irit (bahil) dan terlalu boros.
2. Ajining raga gumantung saka busana [Penghormatan atas kita secara fisik
biasanya karena cara berpakaian kita] --> pepatah Jawa.
3. Jer basuki mawa beya [Kemuliaan itu butuh biaya] --> pepatah Jawa.
4. Orang dianggap kurang sempurna jika : (1) belum beristeri, (2) belum
memiliki rumah, dan (3) belum memiliki kendaraan --> Serat Centhini /
Ronggowarsito.
Namun demikian, tentunya segala sesuatu harus diukur dalam batas-batas
kewajaran. Karena jika kita mengabaikan tentang "urusan" duniawi -- dalam
beberapa kasus -- seseorang (dengan anak-isterinya) akan tersisih dari
keluarga besarnya dan tinggal di daerah yang terpencil [Ini contoh yang
benar-benar ada]
Mungkin yang bisa membuat kita "bahagia tanpa harta" antara lain :
anak-isteri yang shalih/shalihah, tetangga yang baik tutur-bicaranya,
komunitas yang saling mengingatkan tentang kebenaran (al-haq), kesabaran,
dan kesejukan. Moga-moga kita termasuk di dalamnya. Amiiin ....
Wallaahu a'lam.
Wassallam / Jaerony.-
----- Original Message -----
From: "Agus Rasidi" <[EMAIL PROTECTED]>
---------- Forwarded message ----------
From: Erwin Arianto <[EMAIL PROTECTED]>
Tanggal muda bergelimangan Hutang
Minggu-minggu ini adalah "Tanggal muda" bagi beberapa orang, saya
mempunyai
seorang sahabat dan kami berbincang mengenai tunggakan dia terhadap kartu
kridit yang sangat banyak sekali. sekitar Rp 60 jt rupiah pada 10 bank
penerbit kartu kredit. sunggauh angka yang fantastik berarti dia mempunyai
hutang Rp 6 juta per penerbit kartu kredit. dan dengan minimal pembayaran
5
juta/bulan untuk total 10 keseluruhan kartu kredit yang dimiliki.
Ternyata pendapatan dia hanya sekitar Rp 3 juta rupiah perbulan. wow saya
pun tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut dengan sahabat saya, untuk
mengetahui mengapa ia sampai bisa melakukan hal seperti itu, sahabat pun
menjelaskan, bahwa ia sampai melakukan peminjaman melalui kartu kredit
karena keinginan untuk di hargai, atau memiliki status orang yang berpunya
atau "orang kaya", agar lebih dihargai.
Suatu penjelasan yang sangat sering saya dengar, dewasa ini kita melihat
masyarakat kita cenderung konsumtif, hal ini tidak lepas dari kebijakan
pemerintah yang mendorong masyarakat seperti itu, dan hal ini atau tingkat
konsumtif ini dijadikan pemerintah sebagai pendorong atau meningkatnya
pertumbuhan ekonomi bangsa indonesia.
PErnah saya alami sendiri, ketika saya berkunjung ke suatu Mall atau
pertokoan, ketika saya membawa kendaraan mobil dan berpenampilan menarik,
walaupun saya tidak membawa uang yang cukup, saya pun dihargai, mendapat
tempat dan pelayanan yang lebih baik, berbeda saat saya berjalan kaki atau
memakai pakaian santai ketika ke pusat pertokoan saya terkadang diacuhkan
walau saya membawa dana yang cukup.
Begitulah kenyataan hidup saat ini seakan kemewahaan hidup merupakan suatu
tuntutan hidup yang harus dilakukan. hampir semua orang berlomba-lomba
untuk
disebut atau menyandang status "kaya" walaupun sebenarnya mereka belum
mampu
dengan keadaan tersebut, sehingga mendorong kita untuk memiliki hutang
yang
banyak.
Mana yang Anda pilih: Terlihat seperti orang kaya atau menjadi orang kaya?
Kebanyakan orang memilih untuk "terlihat" seperti orang kaya. Mereka
mengendarai mobil mewah, tinggal di rumah mewah, dan terlihat menjejali
tempat-tempat yang sering dikunjungi orang-orang "kaya", walaupun
sebenarnya
mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai gaya hidup mewah
mereka.
Hasilnya: mereka banyak berhutang, dan hidup dari bulan ke bulan dengan
strategi gali lubang tutup lubang. Bagi mereka, gaji atau pendapatan yang
mereka terima tidak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan mereka akan gaya
hidup mewah.
Kecenderuangan hasil diskusi dengan beberapa sahabat, mereka merasa lebih
percaya diri jika menggunakan assesoris yang mahal, jam tangan yang mahal,
HP keluaran mutakhir, baju bermerek buatan desain terkenal, Parfum mewah,
kendaraan model terbaru. Assesoris hidup itu membuat mereka sangat percaya
diri. terkadang saya suka berdiskusi menddalam, dan kesimpulan mereka yang
percaya diri karena assesoris mewah, memiliki rasa percaya diri yang
rendah,
kerena ketika mereka tidak menggunakannya mereka tidak lah percaya diri
lagi, saya lebih menghargai orang yang bisa memberi kesan yang
mendalam/kepribadian yang menarik, dibanding orang yang memiliki atau
memamerkan assoris yang berlebihan.
Maaf, terkadang saya merasa iba dengan sahabat-sahabat saya yang
terjerumus
dalam paham materealisme dan konsumptif, karena mereka sebenarnya rapuh
secara finansial, begitu terpaan badai financial datang, mereka tidak
memiliki daya tahan yang optimal. dan mereka pun hidup dalam ketakutan,
atas
tagihan hutang dari para collector kartu kredit/bank pemberi pinjaman.
Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh pergeseran budaya yang ada, sering
kita lihat, sinetron dimana selalu ditampilkan kemewahan yang luar biasa,
dan karena itu banyak masyarakat yang bermimpi untuk memilikikinya. Atau
gaya selebritas yang di tunjukan oleh artis/selebritis kita yang mengumbar
kekayaan, atau dengnan bangga memperlihatkan/memamerkan kekayaan yang di
milikinya, dengan mobil-mobil mewah, perhiasan yang luar biasa, pergaulan
yang makan dana tidak sedikit, nongkrong di kafe, discotek, atau hal
lainnya. dan karena hal-hal, di tambah dengan iklan yang gencar yang
selalu
menemani kita setiap hari dari televisi, koran, internet dan media lainya
yang menyerang pikiran kita secara continue sehingga perlahan tapi pasti
kita semakin mengikuti budaya tersebut dan memaklumi budaya yang telah
bergeser.
Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat
dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Mulailah dengan membeli sesuatu
hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu!
Misalnya, ketika tersirat ingin membeli kendaraan baru, tanyakan; perlukah
kita membeli Kendaraan baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Jika
alasannya
logis, maka kalaupun jadi membeli, pilihlah yang skalanya paling irit,
paling hemat, dan paling mudah perawatannya. Jangan berpikir dulu tentang
keren atau mereknya. Mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar?
Jika kita memilih untuk mau hidup cukup (hidup di rumah yang lebih kecil,
tetapi milik sendiri, daripada rumah mewah, tapi sewaan; naik mobil lebih
sederhana, tetapi tidak menggeragoti tabungan daripada naik mobil mewah
yang
membuat kantong kempes dan hutang menjulang), banyak yang bisa mereka
hemat.
Uang yang dihemat bisa dialokasikan untuk membuat hidup mereka lebih
berarti
dan masa tua mereka lebih tenang.
Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat tenaga, yakinlah
makin
kita bisa mengendalikan keinginan kita, kita akan makin terpelihara dari
sikap boros. Sebaliknya, jika tidak dapat kita kendalikan, maka pastilah
kita akan disiksa oleh barang-barang kita sendiri, yang harus bermerek.
dan
apakah kita mau menjadi budak materi, kita bekerja keras hanya untuk
mengejar "status kaya", yang kenyataannya membuat kita terjelembab dalam
Penderitaan atas hutang.
hanya sekedar pendapat saya, bahwa Orang yang kaya itu bukan yang banyak
uangnya tetapi orang yang sedikit kebutuhannya. Ketahuilah orang yang
tidak
bersahaja dalam hidupnya akan sangat banyak pula kebutuhan dan
pengeluarannya, akibatnya biaya untuk sedekah menjadi sedikit, biaya untuk
menabung menjadi terbatas. Yang dia lakukan terus-menerus memuaskan
dirinya
dengan mengganti perhiasan, mengganti mobil, ataupun mengganti sesuatu
yang
sebenarnya tidak perlu. Sebenarnya tidak dilarang untuk menggganti rumah,
tapi alangkah baiknya untuk kita tabungkan, atau investasikan yang akan
menjaga kita dari terpaan badai kesulitan yang tidak bisa prediksi.
Tapi dalam tulisan ini saya hanya bisa mengingatkan kepada para sahabat,
hidup dengan gaya sederhana adalah lebih baik, jika anda tetap merasa
nyaman
untuk hidup dengan gaya mewah itu adalah pilihan anda, tetapi di balik
pilihan pasti ada resiko.... maukah anda hidup dengan gaya kaya, tetapi
bergelimpangan Hutang....? Semua kembali kepada anda lagi. Gaya hidup apa
yang akan anda pilih... karena keingin untuk membeli tak akan pernah
habis,
mampukah sumber daya kita untuk menunjang... atau kita puas dengan
Besarnya
Hutang yang kita miliki... (EA)
Depok, 25 February 2008
Erwin Arianto
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. bahwa Abdurrahman bin Shakhr berkata:
Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda, Apapun yang saya larang untuk
kalian lakukan, jauhilah; dan apapun yang saya perintahkan untuk kalian
lakukan, kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan
orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan
mereka terhadap nabi-nabi mereka. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. bahwa Abdurrahman bin Shakhr berkata:
Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda, Apapun yang saya larang untuk
kalian lakukan, jauhilah; dan apapun yang saya perintahkan untuk kalian
lakukan, kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan
orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan
mereka terhadap nabi-nabi mereka. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)