Siapa Berdoa untuk Saya?
26 Mar 08 05:04 WIB

Oleh Bayu Gawtama

Dalam sebuah kajian, seorang ibu bertanya, "Sudah duabelas tahun saya menikah, 
tapi belum dikaruniai anak. Kalau sampai ajal menjemput nanti saya belum juga 
mendapatkan anak, siapa yang akan mendoakan saya di kuburan?"

Semua mata tertegun, terharu dan juga sedikit bingung memberikan jawaban atas 
pertanyaan itu. Beberapa ibu bahkan menitikkan airmata, bisa dirasakan harapan 
terdalam dari ibu yang bertanya itu. Sebab bagi siapa pun wanita di muka bumi 
ini, memiliki buah hati dari rahimnya sendiri adalah mimpi terindah, harapan 
terbesar dan cita-cita tertinggi di sepanjang perjalanan hidupnya.

Namun pertanyaan itu begitu menghentak, betapa setiap orang beriman akan 
mendapatkan beragam ujian. Salah satunya berkenaan dengan amanah berupa anak. 
Bagi yang diberi amanah, tetaplah sebuah ujian agar menjaga amanah tersebut 
sebaik-baiknya. Ibarat seseorang yang menitipkan suatu barang berharga kepada 
orang lain yang dipercayainya, ia berharap barang tersebut dijaga, dipelihara 
sebaik mungkin, hingga pada satu saat barang itu harus dikembalikan, tetap 
dalam keadaan baik.

Bahkan mungkin ketika barang itu belum waktunya diambil pun, si penitip yang 
melihat orang yang dipercaya itu mampu menjaga amanah dengan baik, maka ia tak 
akan sungkan menitipkan barang lainnya. Ada dua motivasi yang muncul ketika 
titipan kedua diberikan, apakah memang ia telah menjaga dengan baik titipan 
pertamanya, atau, titipan kedua sebagai ujian agar ia mampu berbuat lebih baik 
lagi. Begitu pula dengan mereka yang belum diberi kesempatan.

Bukan semata karena ia belum layak mendapat amanah, juga bukan karena mereka 
yang diberi momongan itu lebih baik kualitas diri dan kehidupannya. Ini semua 
menjadi rahasia Allah, sedangkan sebagai hamba kita hanya bisa berdoa agar 
Allah kelak memberikan kesempatan itu meski hanya sekali.

Banyak kita jumpai, sepasang suami isteri yang shalih, taat beribadah, 
berkecukupan, dengan latar belakang pendidikan yang sangat menunjang, namun 
belum dikaruniai seorang anak. Berbagai upaya sudah dilakukan, dan tak henti 
berusaha lantaran tak ada sedikit pun masalah medis dalam diri suami isteri 
tersebut.

Jika demikian, doa dan terus bersyukur atas segala rezeki yang telah 
diterimanya bisa membuat Allah tersenyum dan berkenan menambahkan rezeki 
lainnya. Tentu saja Allah tahu persis apa yang paling diinginkan setiap hamba, 
meski tak satu pun hamba yang boleh mendikte keinginan Allah. Kembali ke 
pertanyaan di atas, "siapa yang akan berdoa untuk saya sesudah saya mati?" 
adalah pertanyaan dari hati terdalam seorang ibu yang memendam kerinduan 
teramat dalam akan hadirnya si buah hati.

Makna tertinggi dari harapan sepasang manusia, bukan sekadar bisa menimang dan 
mengaliri kasih sayang melalui peluk kasih dan sentuhan lembut jemari sang ibu.

Tak hanya sebentuk rindu menyanyikan lagu 'nina bobo' atau senandung shalawat 
ketika buah hatinya terlelap dalam belaiannya. Lebih, jelas lebih dari itu. Ia 
telah menyiapkan segala sesuatunya agar kelak anak-anak yang tumbuh dan keluar 
dari rahimnya, adalah anak-anak yang memahami betul peran dan multi 
tanggungjawabnya; kepada Tuhannya, kepada orangtuanya, juga kepada 
lingkungannya.

Hiburan berupa jawaban, "Meski tidak dikaruniai anak, ibu kan masih punya dua 
hal lainnya; ilmu yang bermanfaat dan amal shalih" hanya berlaku sesaat. Ketika 
ia merasa sendiri di rumah, saat suaminya mencari nafkah, suara tangis dan 
kelakar riang anak-anak akan mengisi hari-hari sepinya. Siapa wanita yang tak 
menitikkan air mata kala mengetahui segumpal darah berbentuk janin dititipkan 
di rahimnya? Air matanya sejernih cintanya, bulir airnya menggugurkan kerinduan 
teramat dalam di sepanjang hidupnya. Saya berdoa untuk semua saudara yang masih 
menggenggam rindu ini. (Gaw)

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8325103802-siapa-berdoa-saya.htm

Kirim email ke