[Pilkada Jabar] Antara DA'I dan HADE
Mar 10, '08 11:51 PM

Dalam sebuah obrolan santai paman saya yang tinggal di Kuningan, Jabar, menyampaikan sebuah pernyataan dalam bentuk pertanyaan. "Bukankah sebuah urusan itu kalau tidak diserahkan kepada ahlinya akan menimbulkan kerusakan?" Saya dan istri yang belum tahu arah pembicaraan mengiyakan pernyataan itu, karena memang seingat kami itu pernyataan yang pernah diungkapkan Nabi Muhammad saw. Ternyata obrolan berkembang ke masalah pilkada Jabar.

Yang disoroti paman saya pembandingan antara pasangan DA'I (Danny-Iwan) dan HADE (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf). Danny, yang saat ini menjabat gubernur, katanya merintis karir di pemerintahan dari mulai level desa (atau kecamatan?). Sedangkan Dede Yusuf, background-nya artis. "Ahmad Heriyawan, apa background-nya?" tanya paman. Yang menjawab kemudian adalah istri. Ia mengatakan bahwa Ahmad Heriyawan itu lulusan syariah, tapi sudah dua periode jadi anggota legislatif DKI-Jakarta dari PKS. Dede Yusuf sendiri berpolitik bersama PAN dan jadi anggota legislatif pusat.

Saya senyum-senyum aja mendengar obrolan antara istri dan paman. Paman sampai sekarang sering diminta jadi penasihat hukum Partai Golkar. Meskipun dia sendiri sudah apatis dan kehilangan trust pada proses pencalegan di PG atau partai manapun. "Cuma maen uang aja, 'A!" katanya kepada saya berkali-kali. Ketika tahu istri saya aktif dalam kegiatan kaderisasi dakwah di PKS, obrolan tentang politik cukup mewarnai kunjungan-kunjungan kami, meskipun porsinya tak banyak.

Saya ketika mendengar pernyataan tentang "pengalaman dan keahlian" Danny, tidak bisa memberikan tanggapan kecuali mengatakan, "Saya tidak pernah mengkaji secara khusus prestasi atau kegagalan Danny dalam kepemimpinannya." Hanya saya sampaikan ada sebuah adagium kekuasaan yang berbunyi "power tends to corrupt, absolute power corrupts absulutely". Artinya kalau Danny menang, maka mesti ada pengawasan yang ketat, sebab birokrasi yang dia bangun dalam 5 tahun belakangan tentu birokrasi yang makin mengokohkan "power"-nya [1].

Di sisi lain, Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf adalah pendatang baru di kancah eksekutif. Backround pendidikan kepemerintahan jelas kalah dibandingkan Danny Setiawan, apalagi dibantu Iwan Sulanjana yang mantan Pangdam III Siliwangi.

Apa yang lebih dari HADE? Menurut saya kelebihannya adalah bahwa mereka berusia muda dan pendatang baru. Pantas kalau pada poster mereka diangkat frase "harapan baru Jawa Barat". Orang berusia muda itu punya potensi mendobrak stagnasi birokrasi dan budaya korup birokrasi. Ini masih sangat relevan dengan peringkat Indonesia yang masih terpuruk dalam hal korupsi birokrasi [2].

Usia muda juga menyimpan kelemahan, yaitu pada kurangnya pengalaman dalam eksekutif, meskipun mereka berdua pasti lumayan belajar banyak dari kealegannya. Mereka juga mesti menghadapi tantangan konsolidasi birokrasi yang bisa jadi menyimpan resistensi pada usaha-usaha perubahan budaya yang buruk pada birokrasi, termasuk masalah korupsi. Belum lagi tantangan yang sifatnya alami, yaitu seperti apa kelak pola komunikasi "anak-anak muda" ini kepada para birokrat senior yang sudah berkarir sekian lama menuju eselon II dan I di propinsi Jabar [3].

Di balik persaingan DA'I, HADE, dan juga AMAN (Agum-Nu'man), saya sebetulnya lebih konsern dengan upaya-upaya pencerdasan masyarakat agar mereka punya "bashiroh" atau daya nalar yang kuat dalam memilih pemimpin. Dan ini adalah peran dari third sector in the society dalam meneliti dan mengangkat informasi tentang tiga pasang calon gubernur dan wagub Jabar. Untuk ini perlu lembaga-lembaga yang betul-betul berusaha keras objektif dalam melakukan pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat [4].

Konsern penting saya lainnya adalah pada mentalitas dan attitude para birokrat pemerintahan. Sudah sangat "mutawatir" (sangat diketahui publik) bahwa segelintir diantara para pejabat pemda itu sangat kaya. Memiliki tanah puluhan atau ratusan hektar itu bukan hal aneh di kalangan mereka. Padahal mereka adalah para pimpinan dari sebuah komunitas "aparatuur" negara. Kita merindukan birokrasi yang bersih dan profesional. Siapapun pemimpinnya, birokrasi berjalan efektif dan memiliki kepedulian serta etos kerja dalam melayani publik. Ini yang harus dibangun.

Dan rakyat, masyarakat Jawa Barat khususnya, mesti sungguh-sungguh memanfaatkan momentum pilkada 13 April 2008 nanti untuk memilih pemimpin paling tepat. Di tengah berbagai kelebihan dan kekurangan pasangan-pasangan cagub-cawagub, semoga Allah swt memberikan kejernihan hati dan pikiran kepada masyarakat Jabar untuk memilih yang terbaik.

Bogor, 11 Maret 2008,
Adi Junjunan Mustafa
= urang sunda asli, just an ordinary citizen of Jabar =

[1] To some extent hal yang sama juga berlaku buat Nu'man Abdul Hakim, wagub Jabar saat ini, yang akan maju sebagai cawagub mendampingi Agum Gumelar sebagai cagub.

[2] Sindo hari ini (11 Maret 2008) melaporkan hasil survei PERC (Political and Economic Risk Consultancy) tentang masih buruknya peringkat Indonesia pada masalah korupsi, bahkan pada pemeringkatan di antara negara Asia. (Sindo 12 Maret 2008, melaporkan kritik pemerintah RI thd hasil survei PERC. Biar both cover story ... hehehe).

[3] Setahu saya masih sangat sedikit simpatisan dan pendukung PKS dan PAN yang menduduki posisi-posisi penting pada birokrasi pemda Jabar. Lagi pula, siapa yang bisa mengalahkan banyaknya orang PG di birokrasi? Mereka sudah masuk ke sana puluhan tahun *smile*, meskipun di era reformasi ini mulai terbuka kesempatan lebih luas untuk orang non-PG "memasuki" birokrasi.

[4] Menurut saya usaha pencerdasan masyarakat ini masih merupakan usaha amat berat dalam iklim perpolitikan di tanah air. Usaha pencerdasan masyarakat butuh dana, sedangkan para penyandang dana cenderung lebih tertarik mengucurkan kapitalnya untuk para calon penguasa. Investasi yang lebih "tokcer" keuntungannya. Hal ini pernah diangkat La Ode (pimpinan DPD), bahwa proses pilkada cenderung menjadi ajang pertarungan para pemegang kapital besar. Jadi mereka yang mencurahkan perhatian pada percerdasan masyarakat (termasuk kerja-kerja dakwah) yang tulus-ikhlas adalah orang-orang langka yang sangat dibutuhkan bangsa ini.

sumber :
http://adijm.multiply.com/journal/item/274/Pilkada_Jabar_Antara_DAI_dan_HADE

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Dari Abu Waqid Al Laitsi ra berkata,  Rasulullah saw sedang duduk dimasjid 
bersama orang banyak ( memberikan pengajian ), tiba-tiba datang 3 orang lelaki 
. Yang dua mendatangi beliau SAW sedang yang seorang lagi terus pergi begitu 
saja. Seorang diantara yang berdua mencari-cari tempat lowongan dalam pertemuan 
itu, lalu dia duduk disitu. Dan yang seorang lagi langsung pergi.

Kirim email ke