10/04/2008 

Warga Beralih Gunakan Kayu Bakar 

Liputan6.com, Magelang: Minyak tanah di beberapa daerah hingga kini masih 
langka. Di Magelang, Jawa Tengah, akibat minyak tanah susah didapat seorang 
warga Kampung Japunan terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak. Kepada 
SCTV yang menemuinya Rabu (9/4), Mbah Rodji mengaku tak mampu lagi membeli 
minyak tanah yang semakin mahal. Selain itu dia juga tidak kuat harus antre 
berjam-jam.

Lain lagi dengan perajin di Pekalongan, Jateng. Pepatah tiada rotan akar pun 
berguna kini tengah mereka jalankan. Tak ingin usahanya gulung tikar, perajin 
celana jins mengganti minyak tanah dan gas yang kini semakin sulit didapat 
dengan sekam padi. Karnoto, salah satu perajin celana jins mengakui penggunaan 
sekam padi terbukti efektif. Selain mudah diperoleh harganya pun sangat murah.

Kelangkaan minyak tanah juga terjadi di Purwakarta, Jawa Barat. Warga terpaksa 
harus antre berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah. Padahal, wilayah 
Purwakarta baru masuk program konversi minyak tanah ke gas pada Mei mendatang. 
Sedangkan di Bandung, Jabar, antrean warga untuk mendapatkan minyak tanah juga 
masih terjadi. Sejak pagi warga sudah antre dan harus berdesakan hanya untuk 
mendapatkan tiga liter minyak tanah.

Di Pandeglang, Banten, kelangkaan minyak tanah sudah terjadi sejak satu bulan 
terakhir dan hingga sekarang belum dapat ditanggulangi. Antrean warga dan 
ratusan jeriken kosong masih terlihat di sejumlah pangkalan minyak tanah. 
Kelangkaan minyak tanah di Pandeglang tergolong aneh karena daerah itu 
sebenarnya belum termasuk wilayah program konversi minyak tanah ke gas.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, warga menyerbu operasi pasar minyak tanah yang 
digelar Pertamina. Sulitnya mendapatkan minyak tanah dalam sebulan terakhir 
membuat warga meminati operasi pasar yang menjual minyak tanah Rp 2.450 per 
liter tersebut.

Kelangkaan minyak tanah dan solar pun menyebabkan nelayan di Muara Angke, 
Jakarta Utara, sulit melaut. Kosim, misalnya. Sejak minyak tanah dan solar 
sulit dicari, ia tak lagi melaut. Kini, salah satu nelayan di Muara Angke itu 
beralih profesi menjadi tukang ojek sepeda. Dia mengantar pelanggan sejak pagi 
hingga sore demi menghidupi istri dan anaknya. Dari mengayuh sepeda, Kosim bisa 
mendapat sekitar Rp 50 ribu tiap harinya.

Penarikan minyak tanah di Jakarta, juga berimbas kepada nelayan. Buat melaut, 
para nelayan menyiasatinya dengan mencampur minyak tanah dan solar. Pada Mei 
nanti, pemerintah akan menarik seluruh minyak tanah bersubsidi di Ibu Kota. 
Artinya, hidup nelayan akan semakin sulit. Sebab, mereka harus membeli minyak 
tanah nonsubsidi yang harganya Rp 8.600 per liter.(IAN/ANS/Tim Liputan 6 SCTV)


Kirim email ke