Neno Warisman: Manajemen Shalat Pada Anak (Bag. 1)


"Bunda...aku kan udah tahu caranya pasang 'pampers' dewasa, kalau nanti aku dah 
baligh. Tau nggak apa yang aku seneng kalau aku dah baligh?" matanya 
mengerjab-ngerjap seperti binatang. 

"Apa ya? Hmm... soal dipercaya kali ya? Kan udah gede, atau hmm... apa ya? Bisa 
jalan-jalan jauh? Atau..hmm..apa ya?

"He..he..he.. Bunda, tapi jangan marah ya...janji ya...!"

"Ah adik, kayak bundanya suka marah-marah aja...Emang Bunda suka marah?"

"Hmm... suka juga sih, tapi ini jujur, lho..., Bunda suka marah tapi kalau 
anak-anaknya keteraluan! Iya kan?"

Ibu tersebut mencubit pipi anaknya dengan gemas, lalu berkata, "Oke deh, kalau 
Bunda keteralaluan, maafin juga ya, Dik..."

Mereka saling berpelukan.

"O ya tadi, apa yang enak... kalau adik udah baligh?"

Sambil merapatkan badan dipangkuan ibunya, anak tersebut berkata, "He..he..he.. 
enaknya?..he..he.. enakmya kita bisa nggak shalat! He..he..he.. Bunda enggak 
marahkan?"

Sang ibu mesem pahit, "Iya juga ya Dik...he...he...susah ya Dek shalat terus?"


Bagi Anda yang pernah membaca buku berjudul 'Matahari Odi Bersinar Karena 
Maghfi' akan menemukan cuplikan dialog antara ibu dan anak di atas. Neno 
Warisman, sang penulis sekaligus sang ibu yang ada dalam cerita, dengan jeli 
menggambarkan kepolosan anak, termasuk dalam perkara shalat. Bagaimana dengan 
Anda yang berperan sebagai ibu, kira-kira reaksi apa yang akan Anda tunjukkan 
ketika mendapati ungkapan polos seperti yang ada dalam dialog tadi?

Apa yang dijalankan Bunda Neno, demikian kini ia akrab disapa, dalam upaya 
mendidik anaknya disiplin shalat, bolehlah menjadi alternatif referensi. Aktris 
sinetrin terbaik FSI 1990 ini punya kiat dan pandangan tersendiri soal 
membiasakan diri anak shalat. Neno yang kini menjadi salah satu icon dunia 
pendidikan anak di negeri ini mengakui bahwa ada saat anak-anak merasa malas 
untuk melakukan shalat, yang hal itu sebenarnya -kalau mau jujur-juga pernah 
dialami kita para orang tua.

Di sela-sela kesibukannya mengisi acara di Kota Duri, Riau, beberapa waktu 
lalu, Bunda Neno dengan antusias berbagi cerita dan hikmah perihal membiasakan 
anak shalat. Salah satu hal yang menarik adalah memberi kesempatan anak untuk 
malas shalat. Bagimana yang dimaksud Bunda dari Ghifari, Maghfi dan Odi soal 
memberi kesempatan malas ini? Berikut kutipan wawancara Bunda Neno dengan Diah 
Novi Wulandari dari Auladi, di tengah perjalanan Duri-Pekanbaru. Kesan ramah, 
energik dan bersemangat tak pernah lepas sepanjang wawancara. Menunjukkan 
kepedulian yang sungguh-sungguh atas setiap kata yang diungkapkan pendiri Neno 
Educatin Center ini.


Bagaimana menurut Bunda, pola yang terbaik untuk membiasakan anak disiplin 
melaksanakan shalat?

Sebenarnya konsep itu sudah Allah SWT tuangkan melalui Al Quran di dalam surat 
Luqman. Ada beberapa tahap yang mestinya dilakukan orang tua sebelum 
memerintahkan anaknya shalat. Dalam surat Luqman itu kan yang pertama mengenal 
Allah SWT, "Ya Bunayya laa tusyrik billah. Inna syirka ladzulmun 'adzhim." 
Wahai anakku jangan memepersekutukan Allah SWT dan seterusnya. Jadi yang 
pertama yang dijadikan dasar dalam mendidik anak adalah dia merasa dekat dulu 
dengan Allah SWT, bukan perintahnya dulu. Artinya dia merasa dekat dulu, merasa 
akrab dengan Allah SWT. Nah, bagaimana bisa merasa akrab kalau Allah SWT itu 
dikenalkan dengan cara yang salah. Jadi tugas pertama sebelum meminta dia 
shalat, kita perkenalkan dulu bahwa Allah SWT adalah tokoh. Tokoh yang sangat 
baik, yang sangat indah, segala-galanya.

Itu dari mana? Nah kita ajak anak tadabbur. Sempatkan diri para orangtua untuk 
duduk sejenak, misalnya duduk berdua di depan rumah berangin-angin. 
"Subhanallah Nak, siapa yang mengirimkan angin? Enak sekali angin. Coba lihat 
bulan, bintang berkedib-kedib nggak ada yang menyalakan. Maha Besar Allah SWT. 
Lalu matahari..dia terbit dan tenggelam nggak pernah telat ya? Matahari 
disiplin sekali, siapa yang mengatur matahari?"

Jadi dari takjub itu dia merasakan bahwa Allah SWT itu adalah dzat yang luar 
biasa. Itu penting ditanam dulu. Baru konsep belonging. Konsep belongin akan 
berjalan kalau konsep itu disampaikan secara eksplisit oleh orang tua kepada 
anaknya. 'Ummi sayang sekali kepadamu, tapi Allah SWT lebih sayang. 
Sesayang-sayang Bunda kepadamu, lebih sayang Allah SWT padamu.'

Shalat itu hal yang pertama akan ditanyakan, itu rangkaiannya dengan kematian. 
Jadi orangtua harus seimbang. Jadi memberitakan kabar-kabar gembira pada anak. 
Ada seorang anak yang sangat tegang karena ibunya selalu menceritakan balasan 
yang menyeramkan tentang akhirat. Misalnya ketika pagi hari melihat bunga 
mekar, kita katakan, "Subhanallah, Allah SWT mengirimkan malaikat untuk 
memekarkan bunga ini pada saat kita sedang tidur. Malaikat Allah SWT itu banyak 
sekali, untuk menjaga gigi adek." Jadi yang ghaib juga mulai dikenalkan.

Kalau sudah kita kenalkan bahwa Allah SWT itu adalah pihak yang paling 
berpengaruh terhadap dia, kita tanamkan tauhiidnya. Barukan ayat berikutnya 
adalah tentang orang tua. Belum tentang shalat dulu loh. Berbuat baik kepada 
ibu bapak gimana? Saat ibu memanggil dan anak menjawab 'Nantilah', anak pun 
akan menangkap bahwa ibu dan bapak itu bisa ditunda dalam hidup kita saat kita 
membutuhkan dia. Nanti dia akan menunda kita dalam hidup kita. Anak kita perlu 
tahu bahwa orangtua itu penting untuk kita, sehingga kita pun penting bagi dia. 
Jadi penting mencontohkan berbuat baik kepada orang tua.

Baru berikutnya perintah shalat. Keteladanan orang tua dalam hal ini sangat 
penting. Kita jadikan keteladanan itu mengalir di dalam rumah. Itu berawal dari 
bagaimana berbuat baik terhadap orang tua. Nah untuk anak berbuat baik itu, 
orang tua harus berbuat baik dulu. Kita nggak dapat gratis dari anak kita. 
Kalau kita hanya melihat anak kita sebagai anak biologis kita, kita nggak akan 
pernah sampai pada shalatnya dia. Karena dia sendiri dari ruh, akal, badan. 
Ketiganya harus kita santuni, kita harus berbuat baik pada ketiganya. Kalau 
misalnya kita minta dia shalat, tapi kita abuse sama akalnya maka kita nggak 
dapat. Nggak bisa cuma satu terus kita mau dapat semua, harus ketiga-tiganya. 
Barulah kita mengenalkan shalatnya. (bersambung...)

http://www.cybermq.com/index.php?auladi/detail/6/23/auladi-23.html

Kirim email ke