Neno Warisman: Manajemen Shalat Pada Anak (Bag. 2)



Ada orang tua yang ngaku waktu kecil anaknya mudah diajak shalat, tapi mulai 
usia 7 tahun mulai merasa kewalahan. Menurut Bunda bagaimana?

Sebenarnya anak sudah otomatis ikut shalat kalau di rumahnya orang tuanya sudah 
terbiasa shalat. Baru mulai usia 7 tahun mulai ada "pemberontakan". Memang ada 
rumusannya pada usia 7 tahun anak sudah mulai melakukan pemeberontakan. Karena 
sel-sel syaraf di usia 7 tahun sudah tersambung penuh. Pada usia itu dia sudah 
menjadi orang lain. Dia lebih menyukai orang lain daripada orangtuanya. Itu 
memang masanya dia melihat keluar jendela. Termasuk mencari laa ilaha ilallah. 
Allah SWT mengajarkan manusia untuk merdeka dulu. Meniadakan selain yang lain 
selain Allah, baru bisa menemukan Allah SWT, baru kenal bener. Ada orang tua 
yang curhat, waktu kecil anaknya gampang betul disuruh shalat, tapi mulai kelas 
1 SD mulai susah.

Kalau dia meniadakan shalat, maka sebenarnya dia sedang memproses dirinya, 
supaya dia kenal benar. Pada saat seperti itulah dia betul-betul butuh 
kenyamanan untuk melakukan shalat. Pertama, temukan dia melakukan shalat dan 
beri apresiasi. Kedua, berikan kondisi yang sangat nyaman ketika dia melakukan 
shalat. Misalnya buatkan sajadah yang dia suka. Ketiga, ceritakan kisah-kisah 
orang-orang yang mendapat balasan-baik dunia maupun akhirat dengan shalatnya. 
Misalnya terompah Bilal, cerita orang-orang yang mementingkan shalatnya 
daripada yang lain. Ajak dia dalam komunitas sebayanya yang juga melakukan 
shalat. Terlebih lagi kita biasakan, misalnya tiba waktu shalat kita sedang 
dalam perjalanan, kita berhenti untuk shalat, jadi dari situ anak tahu bahwa 
kita berani menunda kepentingan yang lain untuk shalat. Hal itu akan berbuah 
kepada anak kita.

Tapi itu semua belum tentu berhasil. Ada saatnya dia ingin menunda, ada saatnya 
dia malas. Bahkan ingin tidak mengerjakan. Beri kesempatan dia untuk merasakan 
itu. Beri kesempatan untuk membedakan antara orang yang shalat  dan tidak 
shalat. Orang tua itu kayak detektif, harus bisa membedakan. Karena akan 
berbeda cahaya mata anak kita, ketika dia shalat atau tidak. Ketika tidak 
shalat kita bilang, "Kok tidak ada cahaya Allah SWT di sana. Kayaknya ada yang 
nggak shaleh di matanya." Kalau dia menanggapi "Kok tahu?", kita katakan kalau 
orang yang shalat itu wajahnya bercahaya. Nah kalo dia dah shalat, kita dekati 
dia. Kita usap dadanya, karena sentuhan itu penting bagi anak. Kita bilang 
"Gimana enak mana sudah shalat apa belum shalat?" Beri kesempatan dia untuk 
jujur. Kalau memang dia jawab "Sama aja." Kita apresiasi, 
"Alhamdulillah...berarti masih ada kesempatan banyak bunda berbauat baik 
kepadamu." Pokoknya harus positif dan nggak nge-judge. Misalnya "Aduh malas nih 
si kakak..." nah itu ga boleh, karena akan jadi boomerang. Kita ingin dia 
berubah, tapi kita menyakiti hatinya. Maka dia tidak akan melakukannya. 
Cercaan, perbandingan justru akan menyakiti hatinya.           

http://www.cybermq.com/index.php?auladi/detail/6/27/auladi-27.html


Kirim email ke